“Meru” dan “Abu”

14 05 2010

Rasanya sulit menolak hasrat menuliskan kembali catatan perjalanan saya dan teman-teman IKAMASI di Merbabu. Mungkin karena pagi ini saya melihat keindahan Merapi-Merbabu dari jendela kamar saya. Man, i was such a greatest hero ever, menyelamatkan tenda kami dari serbuan lutung-lutung gunung yang nggak beretika! Jadi simpan dulu pisangmu atau nugget-mu itu, karena cerita masih panjang.

Akhir Juni 2007, lagi-lagi saya seperti setengah menderita schizopren, merasakan serbuan kabut tipis dementor tepat di depan pintu kos saya. oke i’m ready to the Azkaban. Nun jauh di atas sana Merbabu yang kalah populer, merasakan keasingan yang begitu akrab.

Jadi sore itu, saya sudah berada di Sekre kami. Rencananya jam 3 kami sudah berangkat dari Jogja. Tapi tau-kan? Gimana tingkah polah teman-teman mahasiswa yang sok penting itu. Percayalah, saya sudah berkawan akrab dengan ini. Huhhhhh ngarettttttt.

Molor. Tapi nggak pake zzzzzZzzzz….

Personil sudah lengkap. So what??? Bla.. bla.. bla.. ternyata tenda kami terlalu kecil, nggak bisa menampung kami ber-8. Tuh kan, bener-bener kacau n’ nggak wellprepared. Mau berangkat tapi kami masih harus berkutat putar otak jungkir balik pake nungging segala (hhhfffff) mencari pinjaman tenda.

Lalu dengan pede-nya, sumpah ini pede banget, teman kami Mr.Cribs membawa-bawa tenda Dora hijau dekil dengan bangganya. Menurutnya itu solusi paling brilian. Lo tau-kan? tenda mainan anak-anak yang suka dijual abang-abang di pinggir jalan. Yupp, benar itu sama kayak yang lo pikir. Insane.

Ya ampun my man, did you ever think it not stronge enough out there? Itu kan cuma muat buat Spongebob sama Patrick.

Lepas maghrib begitu masalah tenda sudah teratasi, kami berangkat menuju lokasi. Dengan 4 motor, muter dulu lewat gamping pake acara hilang personil segala. Maklum penyakit rabun ayam lagi mewabah.

Hujan lagi. Dan saya lagi-lagi nggak waras. Jadi belum sampai Magelang, sekali lagi kami harus berteduh di Halte. Petir yang nggak setengah-setengah nakutinnya. Saya harap ada Flash Gordon yang membawa kami semua dengan cepat ke tempat aman. Tapi nggak ada-kan? Jadi saya cuma berdoa, Yaa Tuhan kalau Engkau mau menurunkan hujan, turunkanlah. Tapi nggak pake deres.. ada petirnya lagi. Saya takut.

Begitu hujan reda kami langsung tancap gas. Udara malam yang lembab, saya seperti sudah merasakan dinginnya hembusan angin gunung kalau saja saya lagi-lagi tidak dibawa kegilaan yang sesat.

Oh shiiiiiitttttttt… How could you do this to me!

Kami berakhir di tikar angkringan alun-alun kota Magelang. Lama-lama saya muak dengan romantisme angkringan ini. Diameter perut saya sudah bertambah 3 cm karena Teh Panas! Dan kami mau-maunya nurutin kemauan Kipli, biker kami. Sesuai kode etik klub motor, sebagai ketua yang berdedikasi, menurutnya dia berkewajiban menjalin relasi dengan klub motor kota lain. Hffff…

Quote of the day #1 : Jangan tergesa-gesa dengan anggota geng motor kecuali anda disalip.

Rasanya rencana pendakian itu tinggal rencana. Mood udah terbang melayang. Apalagi malam itu kami berakhir di serambi Masjid, bergelung diatas lantai yang dingin. Oh My God, seperti baru keluar dari cerita guru agama saya waktu SD. Pak mawardi yang ekspresif dan konyol, dengan bangga menceritakan kearifan dan kebaikan hati sesama muslim pada musafir. Tapi kan kami nggak menunggang unta dan menyusuri padang pasir! Berpeluh keringat membawa pesan dari surga. Kami cuma korban konspirasi genk motor. Arrrggghhhhhh….

Dalam hati lagi saya berdoa, Yaa Tuhan semoga iler Amir Mahmud itu nggak mengandung lemak babi.

“Meru” dan “Abu”

Whuaaaatttttt?!!!!

@#$%^&*())_+#….

Saya nggak abis pikir. Saya pikir Mahenk lebih capable mengurus logistik kami. Oh come on Guys, kita bukan sekedar tamasya ke Pantai tapi berpetualang di Gunung. Masa’ di pagi yang lembab itu sempet-sempetnya kami mesti belanja perbekalan di salah satu pasar di Kabupaten Magelang.

Saya sudah melipat muka saya jadi bangun ruang simetris. Horeeee… Akhirnya saya berhasil menerapkan prinsip matematis dalam hidup. Nggak sia-sia mati-matian belajar, saya mulai percaya saya jenius. Semua itu karena ulah teman-teman saya ini. Cemberut sepanjang jalan yang akhirnya membawa kami tersesat di kebun tembakau. Hueekkk baunya nggak enak!

Monggo pinarak!

Terus-terusan kami ditawari singgah. Attitude pribumi yang membuat Indonesia terkenal di mata dunia karena keramahtamahannya. Saya merasa benar-benar ada di Indonesia. Heran, sedetik kemudian jadi malu. Egois, sinisme, individualitis, matrealistis, hedonisme seperti menunjuk-nunjuk hidung saya.

Mengambil jalur pendakian Wekas, kami menuju desa terakhir di lereng Merbabu. Jalanan terus mendaki, jadi kami yang dibonceng harus menumpang mobil bak terbuka yang penuh petani sayur dan sayurannya itu. Haha.. untung nggak kambing dan ayam kayak sinetron-sinetron lebay. Saya, Mr. Cribs, Restu dan Amir Mahmud berbagi tempat duduk dengan kol dan wortel. Merasakan angin diantara deretan cemara hutan serta hamparan kebun sayur.

I’m the supertramp. Yuhuuuu… you can’t deny it. Saya merasa sedang berbicara dengan wortel segar bebas pestisida itu. Haha.. saya bahagiaaaa sekali.

Pukul 10 kami mulai berangkat dari Basecamp. Begitu dimulai, jantung saya seperti mau lepas dari tempatnya. Gilaaa nanjak terus, masa nggak ada basa-basinya. Eurggghhhhhhh saya ngantuk dan kurang tidur pengen balik ke base camp rasanya.

Deretan hutan pinus yang sudah kehilangan pesonanya di mata saya. Jalur pendakian ini lebih popular karena dianggap jalur terpendek namun trek yang dilalui cukup merepotkan. Terus menanjak tanpa ada daratan luas yang membentang.

Tiba di Pos I yang masih ramai karena dekat dengan pemukiman penduduk dan perkebunan rakyat. Saya nggak merasakan keindahan sepanjang perjalanan. Makan ati karena terus-terusan ditinggal cowok-cowok yang terobsesi menunjukkan sisi macho-nya. Untungnya ada Amir Mahmud yang baik hati yang setia berjalan di sisi saya. Meski kami tertinggal jauh di belakang.

Cuma tanah yang gembur dan batu yang dimuntahkan ratusan tahun yang lalu. Itu sebabnya dinamakan Merbabu, Meru yang artinya gunung dan Abu, dahulunya adalah gunung berapi, satu dari rangkaian ‘ring of fire’ Pasifik.   Sepanjang perjalanan nggak ada pemandangan menakjubkan yang bisa dinikmati. Pantes aja kamu jadi anak tiri Merbabu. Keindahan macam apa yang bisa kamu tawarkan?

Jadi saya terus bersusah payah mengejar teman-teman sekaligus mendengar celotehan Amir tentang pendakian sebelumnya juga passion-nya menjadi bintang film. He..

Pos Kedua. Dataran paling luas yang bisa kami temui selama pendakian. Ditumbuhi pohon yang besar-besar dan alang-alang. Saya curiga disanalah habitat macan tutul Merbabu yang hampir punah berada.

Kami mendirikan tenda disana. Saya lupa persisnya jam berapa kami tiba. Lapar dan kelelahan. Jadi sementara teman-teman memasang tenda, saya berinisiatif membersihkan peralatan makan kami. Ridiculous. Entah dimana saya taro otak saya, hfff mungkin di penggorengan, bukannya air yang saya tuang ke tumpukan alat makan itu tapi minyak tanah.

Bego. Bego. Bego.

Saya melihat mata-mata kelaparan menuduh saya. Ampuuuuunnn.

Jadi cepat-cepat saya cuci bersih piring-piring kami ke pipa air yang bocor. Nggak beracun-kan? Sedikit minyak bumi kata orang cina obat mujarab untuk mengatasi sakit perut.

Tes.. tes..

Rasanya bukan iler Amir Mahmud yang jatuh berceceran ke muka saya-kan? Oh shiiittttt tenda kami bocor dan hujan lagi-lagi memilih saya jadi sahabatnya. Yaa Tuhan kalo mau kasih hujan nggak pake bocor ke muka dong.

Malam yang dingin. Dingin beneran bikin kebelet pipis. Nggak ada sesuatu yang berarti apalagi pemandangan yang bisa kami patri. Diluar sana hujan rintik-rintik dan anginnya cukup bikin pusing. Apa jadinya coba kalo tenda Dora itu dibawa? Dalam hati saya tertawa puas.

Cuma kabut tipis yang perlahan menuruni lereng, bukan dementor. Sumpah saya cuma bercanda mau mengunjungi Azkaban. Tapi anginnya itu loh.. lagi-lagi memamerkan suara mistisnya. Jadi saya duduk terjaga, begitu juga Mr. Cribs dan Amir Mahmud. Dan ketika yang lain bergelung malas persis Garfield yang kekenyangan, saya jadi ingat pesan penting teman saya dalam momen ini. Katanya saya harus membuat confession. Did I really fallin’ in love? Shhhhhh I’m not that insane.

Saya ingin menyanyi memecah kesunyian waktu itu. Tapi malu, kemungkinan besar udara dingin bakal bereaksi dengan getaran yang timbul dari pita suara saya. Emberrr, suara saya tidak lagi jazzy (haha hueekk) tapi bervibra dengan gigi gemeletuk. Kecepatan getaran harmonik dan gelombang yang nggak sinkron yang bahkan Newton-pun bakal bingung menghitungnya. Ck ck ck kebanyakan bergaul dengan anak fisika emang bikin ego ini jadi besar. Sok tau.

Ahaaa, jadilah malam itu kami isi dengan acara masak-memasak.

Such a silly adventure…

Pagi yang manis sekali. Sudah ada kopi di depan saya. Meski Mahenk mencaci maki muka saya yang mencong-mencong, saya nggak peduli yang penting kopi itu harus jadi milik saya. Nggak heran mengapa kopi menjadi salah satu penemuan penting di abad ke-8. Caffeinnya bisa bikin orang jadi waras, mungkin kelakuan kami pagi itu mirip kambing-kambing gembala Kaldi yang jadi lebih agresif dan bersemangat karena menelan biji kopi..

Saya jadi bisa melihat keindahan hamparan bukit di bawah sana. Merapi yang persis di seberang kami. Gumpalan awan-awan yang membawa Nobita dan teman-temannya terbang.

Sudah diputuskan saya dan Dean yang menjaga tenda. Mr. Cribs, Mahenk, Restu, Amir Mahmud, Kipli dan XoXo melanjutkan pendakian hingga puncak.

Jadi saya ucapkan selamat tinggal pada sensasi yang menanti kami di atas sana. Puncak Merbabu yang berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan laut. Salah satu gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi. Menurut catatan sejarah Belanda, gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797.

Semakin ke puncak jalur pendakian makin melebar hingga pemandangan yang tersaji begitu indah. Berjalan diantara sisi lereng dan gunung-gunung kecil. Saya membayangkan teman-teman di atas sana berlagak mirip Ninja Hatori membelah lembah, melewati padang rumput savana yang indah. Jika beruntung kita bisa menemukan hutan edelweiss yang abadi itu.

Sementara yang lain muncak, saya dan Dean mulai bersih-bersih tenda. Menjemur jaket yang basah semalaman. Huhhh, kami mirip sepasang manusia pra-sejarah penjaga gua sementara yang lain pergi berburu. Nggak keren banget deh. Tapi hebatnya saya kembali mempraktekkan keterampilan mengiris sayur disini. Menyiapkan hidangan sebelum yang lain pulang.

Wajahnya inosen sekali. Saya merasa iba. Ucap saya dalam hati.

Wajahmu mengingatkanku pada kekasih yang saya tinggal dulu. Desis Dean penuh perasaan, dalam hati juga.

Kami melempar pandangan riang gembira melihat seekor monyet yang muncul dari rimbunan pohon. Ihhhh lucu banget, sambil dadah-dadah lagi.

Jadi Dean yang setengah jatuh cinta itu mulai mengeluarkan nugget kami. Melemparnya dan Ooopss, horeeee nugget-nya berhasil ditangkap. Eh datang satu lagi, Dean kembali melempar. Lalu datang lagi yang lain, kembali Dean melempar satu. Oh Gosh ini sih udah keterlaluan.

Tiba-tiba kumpulan monyet-monyet muncul bergerombol dari balik alang-alang. Saya merasa seperti Jean yang diserbu kumpulan monyet Afrika yang ganas dan kelaparan. Dan shhhhhhh Tarzan disamping saya ini cuma bisa melongok takjub, sedetik kemudian ketakutan.

Ya ampun Mr. Tarzan coba monyet-monyet ini diberi kursus kepribadian! Nggak sopan tau melotot kejam kayak gitu. Tobaaaatttt, kami seperti sedang dikepung Densus 88.

Saya langsung inget tayangan National Geographic tentang kanibalisme monyet. Perlu ke psikiater kali tuh lutung. Oke, jadi ketika Tarzan bukan lagi the hero, saya nggak boleh panik. Saya harus tunjukkan otoritas saya sebagai manusia! Predator no. 1.

“Oke, Tarzan. Kamu disini jaga tenda jangan sampé ada yang dicuri. Saya cari bantuan ke tenda sebelah.”

Kebetulan ada Mapala UPN yang membangun doom tak jauh dari kami. Saya berlari mencari pertolongan.

“Tolong.. toloooong… kami diserang monyet,” saya mengiba-iba mirip artis reka ulang korban KDRT di acara Sergap.

“DIMANAAAAA?!” teriaknya sambil mengacung-ngacungkan golok.

Widihhhh tenang Bang. Abang Pitung satu ini semangat sekali! Saya langsung tahu kalo Si-Abang paling anti sama Darwin dan Teori Evolusi-nya. Haha.. sabar Bang, monyetnya belum mirip dirimu.

Lalu desisan dibalas desisan.

Teriakan dibalas teriakan.

Plototan dibalas plototan. Nggak lupa golok si-Abang diacung-acungkan ke langit.

Saya dan Dean menonton sambil bertepuk tangan. Halaaah lebay.

Horeeee monyetnya pergi.

Sebelum si-Abang pergi meninggalkan tenda, Dean tiba-tiba nyeletuk. “Maap ya temen saya ini parno, padahal sudah saya usir-usir monyetnya.”

Whuuuuaaaaattttt???! Bener-bener nggak sopan!

Lipatan simetris itu kembali muncul. Masih kesel karena Dean merasa lega dan bebas tidur sementara saya masih harus berjaga-jaga. Siapa tau monyet-monyet itu kembali dan membangun taktik yang lebih kejam. Dengan novel Coelho ditangan, saya masih setengah khawatir. Hhhfffff Emang ada yah korelasi antara Coelho dan monyet merbabu? Dan diantara syair-syair Nabi Daud dalam novel itu, beberapa monyet kembali ke tenda kami. Mengorek-ngorek sisa makanan.

Reaksi Dean cuma kaget lalu zzzzz molooor lagi. Apa jadinya coba kalo tenda kami dicabik-cabik!

Saya sudah nggak sabar mengadukan bencana yang menimpa saya begitu teman-teman kembali ke tenda. Dengan santainya Dean ngomong, “gue ngelindungin Ina dari monyet-monyet!”

Hahhhhh!!!!! Nggak kebalik tuh.

Saya ogaaaahhh berbagi sendok dengan Dean. Tapi lega karena nggak ada yang keracunan memakan masakan saya. Saya memasak sarden itu dengan cinta tau! Haha… akhirnya saya benar-benar bisa memasak.  Horreeeee…

Hmmm iri bukan main mendengar pengalaman sampai ke Puncak. Dari atas Puncak kita dapat memandang Merapi yang angkuh, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gunung Sumbing dan Sindoro bersanding indah. Di sisi lain ada Gunung Ungaran. Dan dari kejauhan ke arah timur tampak Gunung Lawu.

Tapi saya juga nggak menyesal diserbu monyet-monyet konyol itu. Sore-nya kami bergegas mengemasi barang-barang kami. Dengan sedikit kengototan barangkali. Dan Mr. Cribs memelototi saya seolah-olah usul saya paling nggak masuk akal sedunia. Turun gunung detik ini juga! Saya nggak mau menggigil kedinginan di sini lagi tau!

Sedikit menyesal karena setengah perjalanan menuruni Merbabu dilalui ketika langit sudah gelap dan kami mesti ekstra hati-hati. Saya bahkan nggak bisa melihat dengan jelas. Tapi untungnya malam itu juga kami tidur dibawah atap, masih dingin juga, nggak kebayang deh dinginnya kalau kami ada di dalam tenda Dora.

Keesokan harinya, Jum’at yang cerah, kami meninggalkan Basecamp. Benar-benar perjalanan yang indah. Terima kasih Tuhan, yang saya sesalkan cuma satu, siapa yang akan memberi monyet-monyet itu nugget lagi?

Hutan pinus yang terbakar, perjalanan menuju Puncak

Dari atas Puncak Merbabu

Dari atas Puncak Merbabu

Farewell to the monkeys up_there!

*Foto Dokumentasi IKAMASI





La Femme en Révolution

31 03 2010

Jika ada seseorang yang memendam dengan indahnya, maka pastikan dia bisa mencintaimu dengan kejamnya. Setidaknya, bacalah ceritaku dulu.

Hari itu, tepat tiga malam berturut-turut aku pulang tengah malam. Masih mengenakan gaun katun putih dengan motif kembang sepatu. Harganya tidak sepadan dengan bahan yang bisa jadi kurang satu meter panjangnya. Aku nasehatkan perempuan, jangan terlalu kentara menyatakan perasaan! Jika tidak, pedagang di pasar sana akan menguras habis isi dompetmu. Tapi apalah daya…. Bahkan Madame Marie menjual negara demi gaun dan bulu-bulu.

Aku berlari kencang di antara gang sempit kota yang gelap dan berbau pesing. Kalau kau pernah melihat film mafia Hollywood di torowongan kota New York, mungkin seperti itulah lorong menuju rumah nenek.

Nafasku berkejaran dengan suara sepatuku. Seolah mengukur seberapa cepat jarak yang kutempuh. O la la, sepatu hak tinggi itu kubeli di pasar loak untuk mengangkat bokongku. Dan memang harus kumiliki, karena Miss Monroe sudah membuktikannya.

Pintu rumah nenek seperti gerbang menuju hidupku yang lain. Oh, sengaja aku berlama-lama disana. Kusandarkan tubuhku di dinding lalu kunikmati alunan nafasku sendiri. Do re mi fa…. Aku baru menyadari aroma lumut di tembok bata begitu memabukkan. Lalu kuhirup dalam-dalam seperti para Holligan menikmati segelas bir hangat.

“Pelacur!”, wanita itu berteriak lalu menyeretku masuk melalui pintu kayu yang sama tuanya.

Ah… tudingannya seperti adegan pada sebuah babak di drama Shakespeare. Ingin rasanya aku terjerembab di lantai, tapi aku memilih berdiri tegak di balik pintu. Aku tatap wanita tua yang dengan rakusnya melahap setiap senti tubuhku. Dengan fasihnya ia berbicara tentang moralitas. Moralitas bangsa dan perempuan. Seolah-olah baik buruknya negeri ini tergantung pada cara perempuan meletakkan alat kelaminnya.

“Plak…. Plak…. Plak….”, wanita tua itu menamparku saat aku masih menikmati drama itu. Karena menurutnya diamku menghinanya.

Pelecehan? Ah, aku telah melupakan pelecehan sejak nenek membaptisku sebagai seorang pelacur. Jadi kunikmati saja setiap rabaannya, saat dirobeknya gaun yang satu paragraf ceritanya itu.

Momen itu sangat eksotis. Saat aku bersandar lemah dan berkeringat pada sebatang tonggak kayu dengan secarik pakaian dalam. Api yang membakar gaun itu adalah kobaran cintaku. Maka melihatnya adalah sensasi keindahan.

“Perempuan di keluarga kita memang dikutuk untuk jadi miskin dan cantik!” desisnya.

Aku yang malam itu berusia 16 tahun, tergolek sendu di ranjang perawan. Yang kutahu rasanya begitu indah walau menyakitkan. Rupanya malam itu, aku memutuskan untuk terus berjuang demi cinta.

Lalu aku menjadi sedemikian dewasanya dengan gincu merah menyala. Seperti gambar wanita Perancis di dinding depan bioskop kota. Ah, andai saja ku tahu dari awal, wanita itu tak ubahnya seorang pelacur.

Ku raba perutku samapi aku terisak pedih seperti wanita jalang menyesali nasib. Bedanya disini, saat itu aku masih setengah jalang.

Tak mungkin mengubur cinta itu dalam-dalam, karena dia bukan bangkai. Dan mencintai laki-laki hanya membuatku tak ubahnya seonggok bangkai perempuan. Kenapa ini tidak pantas hingga aku cukup memahami ketika nenek mendesiskan kata-kata brengsek itu ke telingaku. Bahkan Drupadi tetap seorang dewi meski bersuamikan ke lima pandawa.

Kau mungkin menyangka aku gadis malang korban traficking. Oh, khayalmu terlalu tinggi kawan. Aku ini perempuan yang tak ingin menyimpan rahasia sedih. Maka beribu cara aku pakai untuk menarik hatinya.

Ah, laki-laki memang layak mendapatkan segalanya. Dan cinta itu ada pada laki-laki setengah baya, guru Madrasah-ku dulu. Laki-laki yang penuh kerutan di wajahnya. Dialah Dewa Zeus-ku.

Ini bukan gila tapi sinting! Hanya bisa mencuri-curi pandang pada laki-laki tua. Ini normal dan bukan dosa! Aku tidak melakukan affair kotor di motel seberang Stasiun. Atau tindakan mesum lainnya yang tergesa-gesa di balik semak.

Jadi, jangan heran, jika malam ini aku menciptakan percumbuan di antara kami. Yang magis dan sakral, yang tidak perlu kau mengerti.

ઐ ઐ ઐ ઐ ઐ

Seperti Opera Nightingale, tak ada yang lebih menyenangkan sang Raja kecuali nyayian burungnya. Dan seisi ruang kotak kubus Jakarta-ku tak ramai tanpa kabar burungnya. Apa peduliku, aku masih bersepeda dengan gaun miniku. Masih tiga kali keliling rumahnya mencari seribu alasan bertemu.

Tiap sisi pasar meramalkan masa depanku. Dari menjadi bintang film panas hingga gundik kawanan milisi di perbatasan. Masa depan yang menjanjikan untuk seorang remaja yang eksistensinya telah dibunuh.

Tuhan telah menakdirkan hari itu terjadi. Seperti sebait ayat dalam kitab suci. Ketika musim semi memang benar-benar ada di hati para pecinta. Aku dan dia ada di lorong sempit di depan rumah nenek. Sunyi. Bahkan cicakpun tak mampu bernafas.

Ah, seandainya saja aku bisa lebih nakal seperti hujatan orang. Ah, seandainya saja ada banyak angin yang berhembus diantara ikal rambutku dan mengangkat ujung rokku.

Tapi aku hanya diam. Menatapnya.

Ah, seandainya saja hak sepatuku patah hingga aku jatuh dan merebahkan diri di dadanya. Bercumbu dan memberi pertunjukan erotis buat nyamuk dan kecoa.

Pada akhirnya momen itu hanya sekejap. Hilang.

Kata orang, jatuh cintalah dahulu maka kau bisa menulis puisi. Tapi bahkan aku tak mampu memulainya. Tiba-tiba kamar ini tak mampu lagi membendung gairahku.

Aku berjalan mendekati jendela kamar, nampak sebuah kampung kumuh. Gang sempitnya dihiasi dengan jemuran para penghuni. Kau tahu, di kampung kami suara Adzan bersahutan dengan hentakan musik dangdut di warung Bang Mamat.

Hmmm, tapi segalanya begitu indah dalam kesemrawutan ini. Apakah kau memahami perasaan ini?

Aku bosan dengan monolog cermin ini karena aku bukan Narsisus yang mabuk kepayang sendiri. Maka aku rebahkan tubuh ini di ranjang yang berbau comberan itu. Menyambut kekasihku datang dengan alunan rebana sementara aku menari Tango.

Ketika lampu mati, tiba-tiba aku dibangunkan pada realitas yang sesungguhnya. Ada banyak tangan menjamah tubuhku. Mereka, laki-laki itu, menyeretku turun dari ranjang. Bahkan aku tak diizinkan memakai gaun mini dan gincu merahku.

Ah, wanita tua itu hanya menangis sedih waktu aku diseret paksa. Seperti kisah Isaura di zaman perbudakan. Apakah ia benar-benar menganggapku jalang lalu menjualku?

Aku pikir kita sudah merdeka. Dan perempuan ini boleh merayakan kebebasannya. Aku pikir Jakarta adalah surga. Tempat dimana bidadari menjaga akal tetap sehat dan jauh dari prasangka terkutukmu itu!

Aku terhenyak di sudut truk tua yang biasa mengangkut sapi potong. Lama kudengar melodi yang itu-itu saja dari mesin truk yang membawaku serta. Ah, untunglah seprei tua ini turut menemani.

Dulu, ku kira saat lelaki itu datang duduk di sampingku adalah saat dimana ia mengucapkan ikrar perkawinan. Ah, pikiranku terlalu muluk. Nyatanya ia tak lebih menganggapku sebagai binatang jalang dan seperti kata penyair muda itu “dari kumpulan yang terbuang?”. Padahal aku hanya ingin cintanya.

Lelaki itu menatapku dengan iba lalu memakaikan kerudung putih di kepalaku. Walau matanya tak berkata cinta, setidaknya aku mendapatkan ibanya. Kata orang, memang susah hidup di zaman revolusi, jadi bergeraklah dengan cepat. Kau tahu kenapa? karena semangat dan harapan yang satu akan mematahkan yang lainnya.

Lelaki itu mengucapkan kalimat pertamanya : “kau berbakat melacur jadi baik-baiklah disini”. Lalu dia meninggalkanku dengan hinanya di sebuah Surau tua. Di tempat yang katanya bahkan iblispun akan mengiba-iba pada Tuhan untuk kembali sujud di hadapan Adam.

Malangnya nasibku ini, perempuan, padahal tak pernah kuizinkan diriku sadar pada realitas Lingga dan Yoni kecuali dalam gairah perkawinan. Lalu aku memberinya kesempatan untuk tumbuh dewasa. Untuk tahu, ini cinta.

Pada akhirnya, aku mendapatkan diriku seperti perempuan lainnya. Menangis dan tersedu, dengan kerudung putih di sudut Surau. Kau tahu, bahkan dia tak memberiku kerudung hitam, warna favoritku kini.

Jadi, aku harus patah hati dahulu lalu menuliskannya untukmu.

La Femme en Révolution.

ઐ ઐ ઐ ઐ ઐ





Cat’s on Fire

30 03 2010

Entah kenapa saya geregetan sekali ingin menulis tentang kucing. Mungkin karena sepertinya baru saja ada seekor kucing yang memanggil saya “Mama”. Jadi saya ajak kucing dekil itu ke bawah tangga memanggilnya sayang, mencurahkan naluri keibuan saya. Karena berpengalaman dengan gerak-gerik kucing, saya langsung tau kalo dia kucing betina dan sedang hamil pula. Huhhh rupanya dia mencari tempat hangat dan nyaman untuk persalinan. Jadi ingat Mimi kucing keluarga kami yang paling legendaris mempertahankan ras felis silvestris catus dan beberapa kali harus diusir dari rumah karena melahirkan di lemari pakaian Mama.

“Bener-bener nggak asik banget…”

Sebenarnya saya sendiri merasa bukan tipe manusia penyayang binatang seperti Oprah tapi nggak sekejam Paris Hilton yang tega-teganya membawa-bawa Tinkerbell-nya dengan tas. Meskipun itu tas Louis Vuitton, oh please mending lo lempar ke gue tas-nya! Sepertinya dalam dunia para kucing, orang-orang seperti saya yang mereka tunjuk sebagai teman. Persis seperti tongkat penyihir memilih tuannya. Arrrrrghhh jadi nyasar ke Harry Potter-kan. Tapi gini yah, suerrr deh, biar gue dah menyangkal ketertarikan gue sama kucing, teteuuuuppp aja mereka nyamperin.

Mungkin karena dari kecil saya menganggap diri saya Sailor Moon yang ditemani kucing hitam jelek Luna. Atau karena guru saya salah ketik nama saya hingga nama saya berubah jadi Catila bukan Shatila, sepertinya saat itu saya mulai mendapat separuh kekuatan Sailor itu. Huaaaa berarti tinggal nunggu ‘Tuxedo Bertopeng’ dong… yes.. yes..  Bisa juga karena saya Cancer yang moody yang dipengaruhi bulan yang cocok sekali jadi penyihir. Anehnya lagi, saya berkhayal dulunya adalah seorang ratu Mesir yang ditemani kucing berraut muka iblis. Harus bener-bener mirip iblis sesuai angan-angan gila saya.

Kucing memang sudah menjadi sahabat manusia sejak ribuan tahun lalu. Sejak 3500 tahun SM orang Mesir kuno menganggap kucing binatang yang amat keramat, penjelmaan Dewi Bast. Bahkan ketika seekor kucing mati maka dia akan di-mumi-kan persis manusia. Kayaknya si Hoki, Britney, Betty, Marco, empat dari belasan kucing yang saya miliki nggak punya ciri-ciri titisan kucing bangsawan mungkin disesuaikan dengan nasib pemiliknya. Hee…

Tapi gini yah… biar-pun suka bersikap manis, manja, mengelus-ngelus kaki saya, duduk dipangkuan dan menikmati kehangatan perut saya, saya peringatkan kucing itu bukan sahabat yang baik! Dia itu licik! Kalo ada istilah malu-malu kucing, ya emang bener begitu. Waktu melihat ada makanan di meja, dia pura-pura nggak peduli. Begitu kita lewat, huss husss lewat juga semua makanan itu.

Jadi setelah saya observasi mati-matian, hee lebay banget deh, kucing itu bukan hewan yang setia. Dengan sendirinya dia akan bersikap manis sama semua orang yang memberinya makan tapi enggak akan ingat sama sahabat manusianya. Hebat bener yah, kayak politikus aja pilih-pilih teman. Jangan-jangan anggota Dewan pernah mempelajari mati-matian tentang filosofi kucing ini. Nyatanya, memang tak ada sejarah yang mengungkapkan keterikatan emosional antara kucing dan pemiliknya, katanya sih karena sejak dahulu kala proses domestikasi kucing dari hewan liar menjadi hewan peliharaan berlangsung nggak sempurna.

Yang hebatnya kucing ini punya memori yang cukup kuat. Meskipun pergi berkilo-kilo meter jauhnya dari rumah, tapi dia tahu jalan pulang. Belum ada bukti ilmiah sih, cuma menurut pengalaman saya emang begitu. Cimot, kucing kampung yang kami pelihara, suatu hari mendapat murka ayah. Tanpa kami ketahui, Cimot dibuangnya sejauh hampir 5 km. Jangan ditanya gimana sedihnya hati ini. Meskipun Cimot hanya kucing kampung yang kebetulan Mama bantu proses persalinan induknya, dia sudah jadi bagian hidup kami. Kami menyaksikan prosesi kelahirannya, memberinya susu dan memanggapnya adik kecil kami yang ‘sedikit’ nakal.

Melewati jalan raya yang banyak dipenuhi truk dan angkot, rel kereta api yang bisa saja Cimot mati terlindas KRL, kali dan ‘grojogan’-nya itu, belum lagi preman-preman jalanan sebangsa musang, cimot kembali dengan gagahnya ke pelukan saya. Saya bangga sekali dengan Cimot seperti rasa bangga ayah ketika saya ranking satu. Cimot yang kurus-kering korengan bermandikan lumpur. Rasanya ingin saya peluk terus dan tak kan membiarkannya pergi jauh lagi. Jadi malam itu juga, saya tak peduli dengan cerocosan ayah tentang toxso dan segala bahayanya itu, juga keluhan ayah tentang sikap Cimot yang tidak beretika itu.

Di Eropa sendiri, sekitar abad pertengahan, kucing hitam menjadi sasaran amukan warga karena dianggap jelmaan penyihir. Itu-lah yang menjadi latar peristiwa black-death, ribuan kucing hitam dilempar ke dalam api. Inilah yang menyebabkan wabah pes menyerang hebat Eropa kala itu hingga ratusan ribu orang harus meregang nyawa.

Seringkali saya menutup mata dengan kucing-kucing di sekitar saya. Tapi rasanya mereka terus-terusan meong-meong di depan saya. Dan saya mulai percaya tentang sisi mistis kucing, karena believe it or not saya mengalaminya sendiri. Sepertinya memang begitu, seperti tongkat penyihir, kucing-pun memilih penyihirnya masing-masing. Meskipun kadang mereka bersikap licik seperti Tom, atau malas seperti Garfield, menyebalkan mirip Felix atau semanis Luna.

Begitu banyak inspirasi yang datang ke dunia karena seekor ‘Singa kecil ini’. Karya-karya seniman dunia yang terinspirasi sosok kucing ini diantaranya poster La Tournee du Chat Noir-nya Théophile Steinlein yang sangat terkenal itu, lukisan Dora Maar au Chat-nya Picasso dan juga kumpulan puisi “Old Possum’s Book of Practical Cats”-nya T.S. Elliot. Yang paling menyentuh adalah kisah nyata Edgar Allan Poe, dituangkan dalam novelnya “The Black Cat”. Menceritakan tentang kucing hitam keluarganya, Catarina, yang setia menyelimuti kaki istri Poe dengan bulu-bulunya ketika sedang sekarat melawan TBC.

Sementara itu, di depan saya, kucing yang memanggil saya Mama itu duduk meringkuk di sudut bawah tangga. You’ll be fine, sweetheart.

Rasanya saya berhutang sesuatu pada kucing-kucing yang pernah datang ke dalam hidup saya : Mini, Mici, Poci, Cimot, Mickey, Putih, Manis, Mimi, Britney, Betty, Marco, Dian Sastro, Titi kamal, Nicholas Saputra, Hoki I, Preman RingRoad, Hoki II. Baik-baik di surga sayang.

(foto diambil dari http://www.art.com karya Vittorio)





Agent Mulder part-3

27 03 2010

Agent Mulder,

“Aku benci jika harus jauh dari kamu!” <kata saya dalam hati>

Lalu kamu mengirimi saya sms.

“Terasa dekat, padahal kamu jauh..

Terasa jauh, padahal emang jauh..

Mengapa kamu menjauh ketika aku mendekat..

Mengapa kamu mendekat ketika aku jauh??

Jauh-dekat 2000”

Bisakah kita kembali ke masa lalu dimana masih ada saya dan kamu duduk di boulevard? Duduk melingkar dan wajahmu sama cerahnya dengan teman-teman lain di mata saya. Bersinar karena jenaka, karena kita adalah kumpulan teman.

Bisakah kita kembali ke episode dimana saya harus bangun pagi-pagi untuk menjemputmu dengan motor jelek itu lalu mengantarkanmu kembali. Atau ketika kamu, dengan sepeda ontelmu, tiga kali ke kos tanpa berhasil menemui saya. Saya benar-benar menikmati kejengkelan kamu. Hahaha

Bisakah kita kembali berpegangan tangan, berlarian di pantai tanpa asumsi apapun?

Rupanya suatu ketika kita tertidur, seperti Psyche yang dibawa terbang oleh angin Zephyr dan terbangun di sebuah padang yang tak pernah membawa kita kembali ke masa lalu.

Entah kapan saat itu terjadi?

Mungkin saat lawakanmu tak lagi lucu di telinga saya. Atau ketika saya benci tak bisa berkata-kata di depanmu. Padahal itu kan kamu. Oh, come on.. itu kan cuma kamu. Atau ketika saya merasa kamu memelototi saya, rasanya ingin saya colok-colok matamu itu!

Jadi ketika segerombolan monyet-monyet mengetuk pintu kamar saya pagi-pagi buta, menceritakan isi curhatmu semalaman, saya ingin teriak! Tega-teganya kamu begitu! Saya merasa dikhinati. Kita kan partner, Agent Mulder. Tapi selanjutnya rupanya saya dikhiati perasaan saya sendiri!

A simply platonic. Sometimes become complicated. That’s what we are. Tak ada kewajiban untuk mengatakannya. Rasa ini begitu indah karena cuma saya dan kamu yang tahu… cuma saya dan kamu yang merasakannya.

I saw you there. Rasanya itu sudah cukup.

Agent Scully





Agent Mulder Part 2

27 03 2010

Agent Mulder,

Tiba-tiba seluruh dunia seperti berkomplot memusuhi saya. Jadi, di kereta ekonomi yang membawa saya pulang, lagi-lagi saya meratap diam-diam. Begitu sulit memahami seperti apa bentuk hati ini. Bukankah ini hanya masalah hormon yang bereaksi secara kimia. Selalu ada cara untuk mengenyahkan perasaan ini.

Saya benci melihat waria di depan saya. Meliuk-liuk diantara pedagang pecel, peluh keringat yang membasahi stoking jalanya. Sesekali teman di samping saya dicoleknya. Arrrghhh, dia seperti sedang mengangkangi otak saya. Saya benci melihat wajah-wajah penumpang satu gerbong yang menikmati atraksi itu. Tertawa-tawa lalu sesekali balas mencolek. Kawanan pecandu endorphine. Ini semua enggak lucu!

Benarkah aspirin bisa mengobati sindroma patah hati?

Apakah saya patah?

Seperti inikah rasanya?

Jadi kamu sudah lelah dengan permainan kecil kita?

Takutsubo Cardiomyopathyoh shit… saya kini bisa merasakannya. Kedengeran keren banget-kan? Semua itu karena kamu! Kenapa nggak sekalian kamu cabut saja hati ini, lemparkan kebawah biar remuk tak bersisa diantara roda-roda kereta. Asal jangan kamu simpan dan tak pernah mengembalikannya lagi.

Saya seperti pelacur tua yang menangisi hilangnya keperawananya. Nggak berguna. Benarkah permainan ini sudah usai? Saya tidak ingin menghabiskan sisa hidup ini dengan menulisi kisah patah hati. Saya benci Shakespeare dengan segala tragedinya. Jadi, jika saat ini saya mulai tergila-gila pada endorphine, apakah segalanya akan kembali indah?

Kamu yang merekrut agent baru! Bukankah kita ini satu tim?

Haruskah saya menjabat erat tanganmu dan menutup petualangan kita? Oke.. jadi saya harus bersikap seperti orang dewasa lainnya dan mulai menerima kenyataan. Peraturannya hanya satu, jangan pernah kita buka “x-file” itu. Yakin bisa? Enggak.

Jadi, ketika kereta ini memasuki satu kota kecil, ketika separuh penumpang terlelap sambil memegangi sakunya, sahabat kita membisiki kata-kata ajaib itu…

“Dia pasti kembali, tenang saja…”

Benarkah? Rasanya begitu.

Agent Scully





Agent Mulder Part 1

27 03 2010



Agent Mulder,

Are you ready to confess?

Meskipun tiap tarikan nafas berhenti dan kita tidak lagi bisa mencairkan ketegangan yang terlanjur terjadi. Saya yakin sekali, kita tak akan pernah membagi rahasia ini pada orang lain.

Jadi jika saya terus-menerus mengenang ‘ladang berry’ yang kita jelajahi bersama, apakah itu hanya sekedar obsesi? Atau kisah yang belum dituntaskan. Entah mengapa saya merasa yakin kamu-pun begitu.

Jadi, mari kita beri mereka melodrama yang tak kunjung habis ini.

“Hidup ini tandu, maka duduk saja.”

Suatu malam di bawah hamparan bintang, kita pernah berbincang muram. Kamu yang mengaku-ngaku hasil kloningan sempurna Nicholas Saputra berkali-kali mengutip kata-kata favoritmu di film AADC. Bagi saya kamu lebih keren dari Nicholas Saputra tau! Sadarkah kamu bahwa malam itu kita sedang berkontemplasi.

Saya yakin kamu tidak sedang bercanda, meski tampaknya kamu tak bisa serius dalam hal apapun. Entah mengapa rasanya begitu mudah memahamimu meski mati-matian saya bantah.

Hidup ini bukan jebakan seperti Russian Roulette atau bukan pula sebuah windmill hingga kamu tahu konsekuensi pepatah tua itu, seperti putaran roda nasib. Bagi kamu hidup itu tandu, segalanya sudah digariskan jadi duduklah yang manis. Enjoy your life. Mengalir seperti air, seperti kata kamu juga.

Arrrrgggghhhh Non-sense. Hidup ini tantangan! Penuh perjuangan! Kata-kata seperti itu hanya apologi orang-orang apatis.

Anehnya, prinsip itu begitu melekat di alam bawah sadarmu dan voila… Hidup begitu mudah dilewati. Selalu ada tawa, canda, jenaka, aneh bin ajaib seperti lakon srimulat. Saya bebas tertawa bersamamu. Begitu mudah jatuh cinta pada orang yang bahagia seperti kamu.

Tapi cinta enggak semudah itu. Biar saja kita terus bertanya-tanya, bukankah kita sudah mengerti jawabannya. Kita enggak butuh lagi confession.

I heard people talking about love. Love is the way. Love is the answer. But, what is the answer?

Ah, dan di malam lainnya ketika bintang terhalang atap rumah kita. Kamu menertawakan khayalan romantis saya yang sadis katamu dulu. Jadi bukan romantis namanya jika Ahmadinejad mengirimi Rosiana Silalahi sebuah bouqeutte bunga sebagai permintaan maaf?

Jadi kenapa kamu tertawa terpingkal-pingkal dengan pendapat romantis saya? Hmm. Mungkin karena ini kali pertama kita membahas cinta lalu kamu memamerkan cengiran kudamu itu.

Are you wondering, we’re in love or not?

Arrrggghhh, sekali lagi mari kita beri mereka sedikit melodrama.

Agent Scully





World Cup 2010

2 02 2010


Widget by Widgia

Tewas seketika… untuk bola yang berkhianat. Public Enemy bagi sang eksekutor gagal, begitu juga tandukan sang Kesatria. Diantara kemeriahan itu, pinggul para wanita menari samba, indah seperti sekuntum mawar untuk musuh politik. Melompat, bertelanjang dada, tinju melayang ke udara hingga atraksi ala kingkong, selebrasi yang sudah selayaknya kami kenang. Jutaan bintang di mata pemenang. Dan Tuhanpun memamerkan tangannya disana.

Catatan diatas adalah momen-momen Piala Dunia yang saya simpan sendiri. Kadang saya bagi dengan ayah saya <yang bener-bener pernah mengajari saya bermain bola di lapangan>, atau dengan adik laki-laki saya <yang benci sepakbola gara-gara pernah saya sepak jatuh>, tapi yang lebih seru dengan adik perempuan saya <yang bisa sangat ekspresif jika berbicara tentang sepakbola>. Jadi, dulu.. dulu sekali.. saya sempat berada di fase dimana sepakbola adalah bagian penting dalam hidup. Sepakbola yang menggila. Saya berkhayal sendiri sebagai satu elemen penting di setiap pertandingan Tim yang saya suka atau paling tidak pesepak bola favorit. Yuck… siapa Gue???

Setiap akhir pekan, tv di rumah nggak bisa diganggu gugat, Liga Itali jadi nontonan wajib. Soalnya saya merasa kalo nggak nonton sekali aja.. oh gosh.. my team gonna be lose and that’s true… Yang repot waktu siaran Piala Champion dulu, tengah malam gak peduli besok ulangan Fisika, kena omel seisi rumah karena teriakan gooooolllll-nya bisa bangunin tetangga, atau keesokan harinya tidur di kelas… hayuuu ajah nonton terus.

Selain pernah terlibat bandar judi bola di SMA, saya juga jadi langganannya tukang ager-ager. Tau-kan penjual mainan anak-anak yang suka ngider keliling kampung? Yang biasanya jual agar-agar encer rasa kebanyakan air, yang sendoknya bisa dibuktikan amat sangat nggak higienis, well.. sebenernya ‘Tukang ager’ ini juga menjual gambaran <oh shit… shud i explain you the meaning of ‘gambaran’> mainan kampung yang ‘bisa jadi penggemar berat mainan ini berprospek jadi penjudi ulung besarnya nanti’ hehe.. Ada juga Football Card bajakannya Panini. Itu-lah yang saya tunggu-tunggu.

Saya bahkan mati-matian belajar bahasa Perancis hanya supaya benar melafalkan nama-nama stadion tempat Piala Dunia ’98 berlangsung. Stade de France, yang saya ingat betul, disebut-sebut di kolam kompas sebagai stadion yang unik karena bangunannya mirip soucoupe volante <dibaca: sukup volong> yang artinya piring terbang. Entah kenapa pesona sepakbola makin pudar di mata saya, kadang hanya melihat beberapa pertandingan, final liga Champion, atau euphoria itu berulang setiap empat tahunnya.

Coupe du Monde. World Cup. Piala Dunia. Apapun sebutannya adalah pesta olahraga paling spektakuler yang menyedot perhatian jutaan pasang mata di dunia melebihi Olimpiade. Turnamen sepakbola ini diselenggarakan oleh FIFA sejak tahun 1930 yang selanjutnya diulang setiap 4 tahun. Disebut-sebut sebagai perhelatan akbar. Semua mata tertuju pada even ini, maka nggak heran banyak pihak ingin terlibat langsung di dalamnya.

Adalah aksi jual diri para pemain Latin atau Afrika yang belum diboyong ke Eropa. Papan iklan yang berebut tempat di lapangan. Propaganda yang hampir pasti dilihat orang. Kemiskinan dibalik tangan-tangan terampil yang menjahit si kulit bundar.

Terakhir kali menonton Piala Dunia, tak berapa lama setelah gempa bumi Jogja tahun 2006, duduk bersila dengan separuh penduduk Jogja yang baru saja ditimpa musibah. Di pelataran Benteng Vredeburg, Piala Dunia seolah mengobati luka mereka. Siapa yang tak senang melihatnya, bahkan saat itu saya rela Inggris dipecundangi Portugal  demi melihat wajah-wajah letih itu tertawa. Airmata Bola seperti triloginya Romo Sindhu sepertinya saya rela melihat orang menangis karena sepakbola, bukan karena hal lainnya.

Euphoria ini akan kembali dimulai. Aaargghhhhh udah nggak sabar….