“Gandhi di Yerusalem?”

31 01 2010

“Jika aku melupakanmu O’ Yerusalem,

Biarlah tangan kananku lupa akan keahliannya,

Biarlah lidahku melekat di langit-langit mulutku,

Jika aku tak menyanjung Yerusalem.”

<Seperti yang dikisahkan Paulo Coelho dalam novelnya, dari Mazmur 137>

Yerusalem. Kota tua yang menjanjikan masa depan bagi pemeluk agama Tuhan. Dengan janji-janji Tuhan disana, sadarkah kita bahwa sejarah kota itu diukir dengan darah dan air mata ? Sadarkah kita jika agama yang kita junjung tinggi itu mewariskan budaya kekerasan pada dunia? Padahal Tuhan tidak pernah mengajarkan kekerasan pada umatnya.

Ada kisah lucu tentang Senator negara bagian Nebraska Amerika Serikat, Ernie Chambers, yang mendaftarkan gugatan terhadap Tuhan ke Pengadilan Kota Nebraska. Chambers menuding bahwa Tuhan dan pengikutnya di seluruh dunia telah menyebabkan rasa takut, gelisah, teror dan ketidakpastian sebagai upaya memaksa manusia mengikuti perintahnya.

Entah bagaimana cara Tuhan menanggapi gugatan tersebut, tapi yang pasti Tuhan tak pernah menyuruh seorang Nasrani untuk memilih menjadi Protestan atau Katolik, atau seorang Muslim untuk menjadi teroris, atau bahkan seorang Yahudi untuk melakukan genosida. Jika kita mau jujur, agama erat sekali kaitannya dengan budaya kekerasan. Sesuatu yang prinsipal dan asasi bisa mengubah manusia menjadi seorang egois. Klaim tentang kebenaran dan surga bagi kaumnya.

Sejarah mencatat tentang perang salib hingga konflik Arab-Israel tidak pernah terselesaikan. Ribuan momen telah ikut ambil bagian dalam upaya merealisasikan perdamaian, tapi konflik terus berlangsung. Konflik dan kekerasan telah menjatuhkan harkat dan martabat para pemeluk agama.

Every peace has its enemies. Tentu saja ungkapan itu benar adanya. Pihak-pihak yang dengan sengaja mengatasnamakan agama demi kekuasaan, demi tanah dan ladang minyak, adalah musuh perdamaian. Damai, tentu saja kata yang sangat indah. Tetapi bukankah segalanya harus adil terlebih dahulu, lalu kita bisa berdamai. Konsep tentang keadilan inilah yang kemudian banyak dipakai secara matematis dan ekonomis dengan rumusan Einsten; relativitas.

Konflik yang terjadi di dunia dewasa ini, mengingatkan kita pada kuliah-kuliah filsafat dasar semester I. Bahwa seperti kata Marx, akan selalu muncul konflik pertentangan kelas, antara majikan dan kaum pekerja atau antara tuan tanah dan petani garapan. Dan kita pahami kini, bukan orang yang beragamalah yang haus kekuasaan, merebut hak orang lain dan memicu konflik antar umat beragama.

Hentikan rasialisme dan kolonialisme baru! Hentikan prasangka-prasangka politis! Kemudian dapat kita katakan dengan lantang bahwa agama tidak pernah membudayakan aksi kekerasan. Kembalikan tanah kami, kemudian kita bisa hidup dengan damai dan rukun. Tarik semua pasukan militer itu, lalu akan kami ajarkan anak-anak shatila-sabra memegang pena dan bunga bukan batu dan senapan.

Ahimsa. Perlawanan tanpa kekerasan. Umat manusia harus keluar dari kekerasan hanya dengan melalui tindakan tanpa kekerasan. Gandhi dengan sikap dan pemikirannya tentang konflik 60 tahun lalu, tetap eksis dan menjadi inspirasi banyak individu. Berdamai dengan diri sendiri dan orang lain, dan akan banyak Gandhi-Gandhi di dunia, juga di Yerusalem.

Suatu saat, kita akan mengenang Yerusalem sebagai negeri yang damai, sebagai tanah bagi banyak pemeluk agama. Kita akan segera melupakan perang dan penderitaan ribuan tahun itu. Kita juga akan kembali ke Masjid dengan hati yang bersih, memulai misa dan berziarah dalam damai serta menangis dan berdoa di tembok ratapan. Kita akan tertawa saat salah satu teman kita berkelakar bahawa ia beragama ‘NU’, maka kita akan dikenang sebagai generasi yang adil dan saling memaafkan.

Pada dasarnya setiap manusia berhak untuk hidup maka janganlah mengambil hak hidup orang lain. Dunia akan lebih toleran, demokratis dan harmonis. Stop Violence Action!

♣ ♣ ♣ ♣ ♣ ♣ ♣





Do Not Fixing My Heart Coz’ I’m Not Broken!!!

28 01 2010

There was nothing to say the day she left

I just filled a suitcase full of regrets

I hailed a taxi in the rain

Looking for some place to ease the pain, ooh

Then like an answered prayer

I turned around and found you there

You really know where to start

Fixing a broken heart

You really know what to do

Your emotional tools can`t cure any fool

Whose dreams have fallen apart

<Obsession Indecent>





“Refleksi Pemuda dalam Bingkai Kedaerahan”

28 01 2010

Organisasi Daerah <orda>, belum apa-apa saya sudah apatis mendengar kata-kata itu. Jujur saja, hal pertama yang terbesit dalam kepala saya tentang orda adalah organisasi yang dibentuk oleh sekumpulan orang yang tergila-gila pada primordialisme dan ah paling-paling ‘kepanjangan tangan’ dari penguasa. Dimana letak independensinya? Mana intelektualitasnya sebagai mahasiswa yang ‘katanya’ punya predikat keren sebagai agent of social control atau agent of change? Kontradiktif dengan idealisme yang biasanya mendarah daging di setiap orang muda.

Kesimpulan tersebut memang prematur meski tak jarang beberapa orda hanya dijadikan alat politik beberapa pihak tertentu. Pertanyaan lain yang sering muncul adalah apakah orda tempat yang tepat dan representatif untuk menyuarakan aspirasi-aspirasi intelektual? Gagasan yang menyusut dari skala global memang bukan hal yang populer belakangan ini.

Fenomena organisasi daerah bukan hal yang baru lagi di kalangan generasi muda yang melibatkan komponen pelajar dan mahasiswa dari daerah. Organisasi macam ini banyak menjamur di kota-kota yang menjadi kota tujuan pendidikan seperti Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan banyak kota lainnya. Pola masyarakat intelektual yang ingin mengukuhkan eksistensinya bahkan sudah dimulai sebelum era kemerdekaan RI. Kita tentu masih ingat dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang menyatukan berbagai organisasi kepemudaan daerah dalam bingkai perjuangan nasional. Adanya komitmen bersama untuk satu dalam berbangsa, bertanah air dan berbahasa.

Pemuda memang erat sekali hubungannya dengan gerakan pembaharuan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pemudalah yang menjadi motor penggerak bangsa. Pada usia 24 tahun, Hatta menyuarakan dan memperkenalkan Indonesia sebagai bangsa dan menjadi pemimpin delegasi Indonesia pada Kongres Demokrasi Internasional di Bierville – Perancis.

Jong Bekasinen Bond?

Image’ yang menempel pada organisasi daerah itulah yang akhirnya membuat saya kala itu, mahasiswa tingkat dua di kota Jogja dan bahkan banyak mahasiswa lainnya, enggan untuk bergabung dengan organisasi sejenis. Apakah kita masih berputar-putar lalu kembali pada wacana otonomi daerah? Previlege bagi orang Bekasi? Pribumi atau non-pribumi?

Awal perkenalan saya dengan IKAMASI – Yogyakarta (Ikatan Keluarga Mahasiswa Bekasi) dipenuhi dengan banyak prasangka. Kira-kira apa yang menyatukan kami? Idealisme jelas bukan. Hanya kota padat penduduk dengan segala kerumitan di dalamnya yang berpotensi untuk lebih rumit lagi. Mungkin Ikamasi lebih cocok disebut “Jong Bekasinen Bond”?

Pendapat saya langsung terpatahkan begitu berkenalan dengan teman-teman di dalamnya. Saya sadar bahwa kekeluargaan, rasa cinta dan kepemilikan (sense of belonging) yang besar pada Bekasi yang menyatukan kami. Bahkan saya bisa bilang bahwa proses pengenalan dan kecintaan saya dan teman-teman pada Bekasi, lahir di Jogja. Bahasa pergaulan dengan dialek Bekasi yang kental yang hampir-hampir tak pernah saya dengar di Bekasi, malah terdengar akrab di Angkringan Jogja.

Yang lebih menyenangkan, kami yang berkumpul di Ikamasi adalah kumpulan mahasiswa yang membagi ilmu-nya untuk didiskusikan di forum-forum yang kami selenggarakan. Banyak dari anggota Ikamasi adalah aktivis kampus yang berbeda-beda pandangan dan idealisme, mahasiswa yang unggul di bidangnya bahkan juga para seniman nyentrik. Hal-hal itulah yang membuat diskusi kami semakin berwarna meski hanya duduk melingkar di Boulevard UGM.

Setelah itu, saya tak bisa mengatakan lagi bahwa organisasi daerah bukan tempat yang representatif untuk mengasah intelektualitas. Kami sadar bahwa Ikamasi berpotensi mencetak kader-kader bangsa maka untuk mengakomodir itu semua dibutuhkan sinergi positif dari Pemerintah Daerah. Niat baik kami direspon positif oleh Pemda Kota dan Kabupaten Bekasi. Generasi muda adalah investasi terbesar yang dimiliki pemerintah.

Saya bisa katakan juga bahwa sedikit banyak Ikamasi berperan dalam pelestarian budaya lokal melalui riset dan kegiatan di dalamnya. Adanya keinginan dari anggotanya untuk meneliti potensi-potensi yang ada di Bekasi menegaskan kami tak sekedar organisasi ‘arisan’ tapi institusi pengabdian pada masyarakat. Nilai-nilai yang tumbuh dari kebersamaan itu pada akhirnya berdampak besar bagi perspektif daerah dan kebangsaan. Ikamasi bukanlah objek tapi aktor dalam pembangunan daerah dan nasional.

Potensi Organisasi Daerah

Tak bisa dipungkiri bahwa organisasi daerah ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, organisasi ini dinilai terdepan dalam gerakan sosiokultural dan berkontribusi besar dalam menggali potensi-potensi daerah, namun disisi lain tak jarang organisasi ini dapat memicu konflik disintegrasi atau bahkan dijadikan kendaraan politik segelintir orang. Dewasa ini orang berasumsi bahwa orda kalah populer dari organisasi kepemudaan lainnya yang lebih global. Tak perlu heran karena pola pikir masyarakat kini memang cenderung melihat sesuatu yang bersifat mayor. Tak ada yang salah, karena berorganisasi adalah pilihan.

Yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah apakah organisasi daerah masih cukup relevan dan dapat memfasilitasi aspirasi anggotanya? Bergerak sesuai koridor yang ditetapkan?

Kompleksitas permasalahan organisasi daerah lebih rumit lagi karena dibutuhkan ketertarikan cukup besar anggotanya untuk memajukan organisasi. Permasalahan internal yang tak jarang memicu konflik sampai profesionalitas kerja yang semuanya itu hanya dihubungkan oleh benang merah sense of belonging dan rasa kekeluargaan. Organisasi daerah haruslah mengeliminasi resiko-resiko tersebut, terus bergerak independen dan membawa kepentingan masyarakat dalam setiap program kerjanya.

Lepas dari itu semua, Eksistensi tidak hanya dilihat dari organisasi yang memayungi kita tapi kesadaran moril dan kerja keras membangun bangsa. Pemuda harus menyadari bahwa dimanapun dia berada, kitalah yang menentukan arah perubahan dengan baik. Menyuarakan suara rakyat tanpa kepentingan politik, menjadi kreator dan inovator di bidangnya masing-masing.

* * * * * * *





Merapi… Le Volcan…

25 01 2010

Jum’at, 17 April 2006

Waktu itu Jogja hujan deras, angin kencang, pokoknya cuaca nggak bersahabat. Jadi bisa dibayangkan orang gila mana yang mau-maunya mendaki gunung berapi paling aktif di dunia tanpa memperhitungkan cuaca buruk dengan persiapan seadanya. And oh shit, that would be me.

Setelah semua bujuk rayu dan diiming-imingi mendapat pengalaman paling menantang, one of 100 things to do before you die versi mereka, akhirnya saya mengiyakan pikiran sesat itu.

Selepas maghrib saat hujan mulai reda, kami berenam berangkat dari Sekretariat kami tercinta menuju kaki Gunung Merapi. Dua orang teman pendakian saya kali ini, Malik dan Sunan Kali Code, untungnya pernah mendaki Merapi jadi sedikit banyak saya agak tenang. Kami putuskan melalui jalur pendakian yang paling umum yakni melalui sisi utara tepatnya di Kecamatan Selo-Boyolali. Dari Jogja ke Selo seharusnya bisa ditempuh dalam 2 jam dengan motor namun karena hujan deras mengguyur sepanjang perjalanan jadi beberapa kali kami harus berhenti untuk berteduh.

I thought that would be the first sign for me for stop this. But, nothing can’t stop it.

Pukul 9 lewat beberapa menit kami sampai juga di Selo, makan malam di warung pinggir jalan yang semua makanannya dingin karena cuaca. And suddenly, yuck… semua makanan beruang kutub itu berhamburan di aspal. Second sign, kekeuh tetep ikut.

Kami harus mencapai desa terakhir menuju basecamp untuk menitipkan motor dan mengisi form pendakian. Jalannya berkerikil dan mendaki, menuntut kesadaran saya yang dibonceng untuk… yahhhhh turun deh.

Istirahat sebentar di basecamp untuk sholat dan membaca alam. Kami juga bertemu dua pendaki dari Mapala UNSRI Palembang yang nggak mau rencana pendakiannya gagal gara-gara cuaca buruk.

Pukul 11 setelah cuaca mulai membaik dan bulan sudah mau nongol sedikit, bismillah kami memulai pendakian. Malik yang memegang komando.. <ciehhh udah kayak operasi SEAL mengobrak-abrik daerah musuh>. Dari basecamp, medan yang ditempuh terus mendaki, karena gelap dan dengan penerangan seadanya kami tak bisa melihat jelas perkebunan rakyat di kanan-kiri kami. Semakin lama medannya makin nggak asik. Gila, perjalanan masih panjang… udah ngos-ngosan gini.

Vasco yang tepat ada di belakang saya malah berhalusinasi melihat monster sejenis kol, gede-gede… bulet-bulet… hahaha… Jelas aja, kami baru saja melewati kebun kol yang saking gedenya dan banyaknya bisa menghasilkan energi cahaya dalam kandungan gasnya. Halaahhhh ini teori yang ngaco mungkin gara-gara kemiringan lereng.

Jadi, teman saya ini, yang mengaku-ngaku Vasco de Gama, si penemu dunia baru… penjelajah sejati… hampir-hampir dikalahkan dengan si-monster kol walaupun saat itu dia lerbih ‘mirip-identik’ kayak satria bergitar. Suerrrr deh, ini mau mendaki atau ke pantai? Sempet-sempetnya bawa gitar. Jreeengggg…

Selebihnya perjalanan kami semakin curam, dengan jalan setapak pas dengan lebar badan, makin berat karena tanah yang dipijak terasa liat. Sesekali hujan malah masih turun, kami terus berjalan sambil menajamkan semua indera. Hutan cemara dan perdu, vegetasi yang dominan dalam trek kali ini. Bermacam-macam jenisnya, tapi yang bikin serem cemara yang kurus kering item berdiri sendirian, yang buat saya saat itu terasa mistis banget. Tapi hmmm, segerrrrr bener.. jadi emang nggak berlebihan iklan pembersih WC di tv.

Walau jalannya terjal tapi lumayan banyak niy ‘bonus’-nya. Semakin ke atas semakin jarang vegetasi, digantikan hamparan bebatuan. Selanjutnya, kami harus lebih bekerja sama, sedikit memanjat, berpegangan pada akar pohon sambil terus memikul carrier yang makin berat karena air hujan. Huhhhh.

Blessing in disguise. Dengan kemiringan sekitar 30-45 derajat. Kami duduk di antara bebatuan memandang lampu-lampu kota jauh di bawah sana. Indah sekali. Susah buat dilukiskan. Mungkin seperti malam di Baghdad dalam kisah 1001 malam-nya Alladin. Macam-macam saja ulah teman-teman saya kalau sudah jadi manusia rimba. Semuanya keluar aslinya. Ada yang maunya jalan sendiri, ada yang doyan ngeluh seperti saya, penyemangat teman seperjalanan, sampai belagak mirip lutung gunung. Haha.. you’re so insane, guys.

Pukul 4 subuh kami baru tiba ditempat yang dijanjikan, diantara bebatuan, persis di bibir jurang, kami mulai memasang tenda. Saya sendiri saat itu sudah tidur diantara celah batu. Dingin bener –gue ‘gak bakal butuh AC seumur hidup gue lagi- but, it’s not true.

Sabtu, 18 Maret 2006

Tenda kami hanya untuk dua orang. Tapi bolehlah dipakai bertiga. Selebihnya kami gantian berteduh disamping tenda yang atasnya hanya dilindungi terpal. Paginya cuaca lumayan cerah, deretan bukit yang hijau terhampar luas di bawah sana. Keren banget mirip sama pemandangan di film Lord of the Ring. Kami bisa melihat Gunung Merbabu persis di depan kami, juga gunung-gunung lainnya seperti Sumbing dan Sindoro.

Kami mulai membuat sarapan. Heraannn bukan main, Agha Mahenk yang ditugasi membeli bahan perbekalan lebih-lebih dari nyokap gue kalo belanja. Semua isi pasar diborong dari bahan-bahan buat bikin sambel, sayur-sayuran, lauk-pauk, sampe tepung buat bikin bakwan katanya <?>.

Rencananya kami akan mendaki hingga ke puncak hari ini, tapi tiba-tiba cuaca kembali nggak bersahabat. Kabut mulai menutupi jurang di depan kami, hujan dan badai tinggal menunggu waktu. Jadilah kami terperangkap disana dengan bahan lengkap membuat bakwan. Untuk menyalurkan jiwa kewanitaan, saya mulai mengiris wortel yang merupakan salah satu keahlian terhebat saya haha. Fery dan Rian ikut-ikutan membantu, tugas selanjutnya diserahkan pada Mahenk dan Sunan Kali Code.

Makin sore, badai makin kencang. Disaat-saat mencekam itulah Vasco mulai berinisiatif melantunkan salawat <apalah itu, lupa> yang katanya bisa menghentikan badai dan menghilangkan rasa dingin. Salawat bikin ganteng ada nggak, Vas?

Jujur saja yang ada dalam pikiran saya, begitu badai ini reda kami langsung cabut. Bener-bener nggak asik buat hiking. Belum lagi ancaman ketakutan sama setan penghuni Pasar Bubrah yang legendaris diantara pendaki yang letaknya cuma beberapa meter diatas kami. Dataran landai terakhir sebelum puncak yang konon ‘pasar’-nya dunia ghaib. Jangan-jangan mereka lagi bertransaksi siapa yang berhak menakut-nakuti kami. Hihihihi…

Seingat saya, kami lalu berbicara panjang lebar tentang pendakian sebelumnya. Tentang Soeharto dan Soe Hok Gie. Tentang artis yang sok eksis sampai politik kotornya George Bush. Sok’ intelek kan?

Minggu, 19 Maret 2006

Dingin banget. Gigi sudah mulai gemeretuk, tulang-tulang terasa ngilu, belum lagi dengkul ini rasanya mulai bergeser, terus-terusan meloncat-loncat seperti sedang memainkan mini concert. Nggak mau ‘muncak’. Au revoir Garuda Peak.

Saking dinginnya, baju dan jaket kami mulai basah, kebayang kan gimana menderitanya? Biarin deh Soe Hok Gie bilang kami monyet-monyet pemalas tapi gue nggak mau tidur di batu dingin lagi. Belum lagi semalaman tenda kami disiram banjir. Huhhh…

Nggak bisa menolak apa yang dijanjikan di atas sana. I decided to join the monkeys club.

Begitu cuaca cerah, kami langsung bersiap-siap menuju puncak. Karena sudah pernah ke Merapi sebelumnya, Sunan Kali Code berinisiatif tetap berada di dome setelah sehari sebelumnya capek bukan main turun kembali ke bawah mencari air. Yang lucu, air juga kami dapatkan dari akar-akar tanaman yang tumbuh disekeliling dome kami.

Pasar Bubrah bertekstur pasir tandus dengan vegetasi yang semakin jarang ditemui. Di ketinggian kira-kira 2800 mdpl, dengan punggung yang terbuka angin semakin kencang menerpa kami. Serem juga karena kami berjalan di antara monumen kematian para pendaki.

Dari sana kami mulai mendaki bebatuan yang curam yang mudah sekali bergeser karena usianya yang relatif masih muda. Jadi kami harus ekstra hati-hati bertumpu pada batu selanjutnya, batu yang kokoh menancap ke tanah tanpa beresiko melukai teman dibawah kita. Salah langkah saja bisa langsung jatuh terguling ke jurang, belum lagi melihat batu besar dan tajam muntahan Gunung Merapi yang bisa mengoyak tubuh.

Kalau trek dari bawah menuju Pasar Bubrah masih bisa dilalui satu rombongan, ketika mendaki ke puncak tak jarang kami mengambil jalan masing-masing meskipun saling berdekatan. Vegetasi yang bisa ditemui hanya sebatas lumut di bebatuan dengan bau belerang yang menyengat yang uapnya kadang berdesis diantara celah batu yang hangat. Kami tentu sudah diatas awan jika saja cuaca cerah, yang terjadi saat itu benar-benar mencekam. Suerrr nggak boong deh. Langit hitam, kabut dimana-mana, jarak pandang hanya beberapa meter di depan kami. Terus berteriak satu dengan yang lainnya adalah cara paling aman untuk tetap berada dalam kelompok.

Mirip Gollum yang berusaha mendaki Puncak Mordor. Dengan kemiringan lereng 45-60 derajat, kami harus berjalan merayap dan merangkak, saat itu saya berpikir ada diantara hidup dan mati. Cuma nggak mau mati masuk patroli aja gue sekuat tenaga tetap waras disana.

Lelah, capek, tenaga tersedot habis. Berusaha mengatur nafas diantara oksigen yang hanya semburat tipis di atas kepala begitu melelahkan. Belum lagi jantung ini seperti mau keluar dari tempatnya. Dan ngikkkk ngikkkk…

Yang lucu, karena mendengar lagu rock dengan beat yang cepat, saya jadi ikut-ikutan semangat. Merayap, bergerak cepat dari satu batu ke batu lainnya. Mirip Spiderman yang merayap di gedung-gedung kota New York. Rian tepat diatas saya, karena volume suara MP3 saya pasang full, saya nggak mendengar panggilan teman-teman. Beberapa dari mereka di bawah saya, beberapa di batu seberang yang dipisahkan lereng curam yang dalam.

Begitu Rian berhenti tepat diatas batu besar di samping kanan atas saya, baru saya menyadari there’s no way out. Rian nggak bisa bergerak karena jalan satu-satunya adalah batu di samping kanan dirinya yang lumayan jauh. Jadi waktu saya berdiri menggelatung tepat diatas batu yang dipijak Rian, saya cuma berdoa jangan sampai hal terakhir yang saya lihat sebelum mati adalah sepatu jelek Rian itu.

Kira-kira begini reka ulang kejadiannya hehe..

“Rian, tolong gue… tarik tangan gue,” <dengan suara bergetar karena ketakutan.. rada lebay dikit…>”

Rian cuma bengong, ngeri lihat jurang di bawah sana. Celingak-celinguk mirip monyet Kali Urang minta kacang.

Sunyi senyap. Saking dramatisnya kejadian itu, lava di Gunung Merapi berubah jadi salju. Arrrggggghhhhh. Monyetttttt.

Di jalur seberang yang dipisahkan lereng curam, Mahenk dan Fery ikut-ikutan celingukan. Kami jadi mirip kawanan monyet di sirkus keliling. Vasco dan Malik yang berada jauh di bawah kami mulai berteriak-teriak.

“Buruan tolong gue. Riannnn…”

Masih bingung. Tapi kali ini pake ngomong, “tunggu… gue mikir dulu”

Hah? Mikir? Batu di kaki kanan saya saja udah tergelincir ke bawah.

“Sialaaannn.. kalo lo mikir, gue mati duluan”

Saya yakin saat itu sedang bernegosiasi dengan Dewa Kematian. Untungnya Malik cepat-cepat mendaki keatas. Mendorong saya dari batu sisi kiri, dari atas Rian menarik tangan saya. Huhhh, karena merasa batu yang saya dan Rian pijak kurang aman, kami langsung bergerak ke kanan, menuju jalur pendakian Fery, Mahenk dan Vasco. Rasanya saya ingin muntah dan menangis.

Setelah itu, kami lebih berhati-hati. Semakin atas semakin kelam, kabut ada di depan mata. Bunyi desisan dari dalam perut Merapi siap menyemburkan lava-nya. Beberapa kubah atau alat berbentuk parabola yakni sensor pemantau aktivitas vulkanik ditanam di beberapa titik kawah Merapi. Selebihnya kami tak bisa melihat apa-apa. Garuda yang sudah kehilangan bentuknya karena erupsi.

2980 mdpl yang bisa jadi berkurang atau bertambah ketinggiannya akibat erupsi. Aura mistis menguar tajam. Angin dari berbagai sisi lereng mengeluarkan suara khas-nya. Seperti ajakan menuju dunia lain. Sepi sunyi, saya nggak mau ditinggal sendiri di sana. Kelelahan yang membangun halusinasi sendiri di dalam otak. Saya ingin membagi ketakutan saya itu dengan teman-teman tapi saya urungkan. Kadang mental seseorang terperosok jatuh dalam situasi seperti ini.

Perjalanan pulang nggak kalah sulitnya ditempuh. Masih diguyur hujan, kali ini lebih besar, jadi setiap orang pernah merasakan terperosok, tertawa-tawa memeriksa bokong yang penuh tanah dan memar. Begitu samapai basecamp status Merapi ditingkatkan, bulan Mei di tahun yang sama gunung yang angkuh itu mengeluarkan letusannya yang pertama disusul beberapa letusan bulan-bulan berikutnya.

Merapi yang indah dan mistis. Mungkin ini pendakian saya yang pertama dan terakhir, cukup sekali berkenalan dengan angkuhnya bebatuan disana, dinginnya malam, secangkir kopi yang kami bagi bersama atau bahkan keindahan yang harus kamu rasakan sendiri. Saya selalu merasa muda dan bersemangat setiap mengingat pendakian itu.

Setiap pendakian harus well prepared, baik fisik maupun mental, kesiapan logistik, juga kemampuan navigasi dan mengenal medan dengan baik. Semua kecerobohan kami hanyalah satu keberuntungan seperti kata Bang Napi, waspadalah.. waspadalah.. alam menyapa dengan caranya sendiri.





“Bekasi, A Missing Identity”

24 01 2010

Saya bisa merasakan secercah emosi ketika membaca testimonial seorang saksi sejarah bernama Saih di sebuah blog. Laki-laki tua yang menjadi saksi sekaligus korban selamat dari Pembantaian Rawagede yang menewaskan 431 orang. Beliau menuturkan, pada 9 Desember 1947, dirinya berhasil selamat setelah berpura-pura mati ketika pasukan Belanda memberondong semua penduduk laki-laki dengan senapan.

Aksi pasukan Belanda itu terjadi ketika Belanda melancarkan Agresi Militernya yang pertama. Untuk menumpas laskar-laskar perjuangan rakyat dan unit pasukan TNI khususnya Divisi Siliwangi yang berulang kali menyerang pos-pos pertahanan Belanda, maka pasukan Belanda mulai melakukan sweeping kawasan Bekasi yang menjadi salah satu basis pergerakan. Akibatnya, penduduk terdesak hingga ke Karawang. Rawagede, daerah perbatasan Karawang-Bekasi di sanalah aksi keji itu berlangsung.

Pembantaian itu sendiri merupakan kejahatan perang dan jelas-jelas melanggar HAM namun setahu saya belum ada sanksi atau tindakan hukum kepada Pemerintah Belanda hingga saat ini.

Kisah heroik diatas hanyalah sekelumit sejarah yang jarang sekali kita temukan di buku sejarah. Sebuah catatan sejarah yang terlupakan. Terkadang memang sejarah tak pernah luput mengikutsertakan kepentingan yang bermain di belakangnya.

Kota Patriot?

Beberapa tahun yang lalu ketika hendak menyusun tugas akhir, saya sempat bertanya-tanya sendiri. Kenapa Bekasi, sebuah daerah yang begitu strategis, kota satelit bagi ibukota negara, maju akan industrialisasi dan sektor jasa, serta kawasan potensial bagi jutaan migran dari seluruh Indonesia mendapat kehormatan sebagai Kota Patriot.

Tentu saja saya masih ingat tentang romantisme puisi Karawang-Bekasi itu yang begitu menggugah semangat juang. Begitu juga kisah para pejuang yang tak pernah dituliskan namanya dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia, seperti dalam salah satu novel terbaiknya Pramoedya Ananta Toer “Di Tepi Kali Bekasi”.

Sepertinya ada yang salah, kurang tepat dan tidak pada tempatnya. Kenapa nggak sekalian saja diganti “Bekasi Kota Patroli” mengingat maraknya aksi kriminalitas atau “Bekasi, Your Next Destination Citymengingat suburnya bisnis properti dan migrasi besar-besaran penduduk dari luar Jakarta. Padahal, jika kita telusuri nilai strategis Bekasi saat ini sebagai gerbang menuju ibukota, begitu pula pentingnya peranan Bekasi di masa lalu. Jadi tutup saja buku sejarahmu itu, karena sejarah Bekasi lebih banyak kita temui di sekitar kita jika kita mau peduli.

Belasan tahun saya pergi ke sekolah melewati monumen simbol perjuangan rakyat, tapi apa saya pernah tergugah? Saya lupa seperti apa persisnya perasaan saya saat itu. Bertahun-tahun saya menunggu kereta yang membawa saya ke Jogja tanpa tahu nilai historis Stasiun Bekasi. Melihat Kali Bekasi yang airnya selalu tenang bahkan cenderung kekeringan, tapi herannya rumah saya sering kebanjiran, padahal disanalah banyak episode perjuangan rakyat berlangsung. Suatu kali saya bahkan dibuat tak percaya melihat bambu kurus kerempeng dengan warnanya yang pudar ditengah-tengah perempatan, menurut penduduk sekitar bambu itu adalah monumen perjuangan rakyat ketika melawan penjajah.

Miris sekali rasanya melihat kemajuan Bekasi jauh melangkah meninggalkan identitas yang membentuk karakter kota ini. Guru sejarah saya semasa sekolah hampir-hampir tak pernah menyebutkan pergolakan sejarah di Bekasi secara kongkret. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat rasa ingin tahu saya makin membesar, dari berbagai sumber saya menemukan sejarah Bekasi sudah diukir jauh sebelum era kolonial dimulai. Bekasi sejak awal memang merupakan kawasan strategis hingga menjadi pusat Kerajaan Tarumanegara.

Dalam bundel arsip surat kabar di Perpustakaan Nasional RI, saya menemukan cerita bersambung di salah satu surat kabar waktu itu tentang jawara-jawara di daerah Tambun. Tak diragukan lagi, Bekasi memang terkenal akan semangat patriotismenya. Begitu juga catatan sejarah tentang peristiwa Bekasi Lautan Api. Dosen saya bahkan menuduh saya mengada-ngada tentang peristiwa itu.

Identitas sebuah bangsa adalah cerminan dari karakter orang-orangnya, begitu pula halnya dengan sebuah kota. Bekasi yang dikenal dengan sebutan kota patriot merujuk pada patriotisme, sifat tangguh dan pantang menyerah penduduknya. Sebuah basis pergerakan rakyat yang terkenal akan laskar-laskar perjuangannya. Kini hendaknya kita mawas diri, masih pantaskah gelar tersebut dipakai sementara semangat patriotisnya sudah tumpul terkikis modernitas.

Ini bukan primordialisme, hanya saja mungkin kata-kata “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya” terlalu klise, keinginan saya hanyalah mengembalikan identitas Bekasi yang pudar. Penghargaan kepada para pejuang seperti sebuah museum yang mengabadikan jutaan momen di tanah kita.

Saya percaya pejuang-pejuang yang terpinggirkan seperti dalam novelnya Pramoedya atau kesaksian Pak Saih, suatu waktu akan menjadi catatan sejarah yang tak pernah dilupakan.

History is a guide to navigation in perilous times. History is who we are and why we are the way we are (David C. McCullough).





Bukan Cewek Manja, We’re Supertramp and SamsonWati…

24 01 2010

Saya termasuk orang yang nggak percaya kalau modernitas-lah yang berperan dalam pencapaian emansipasi wanita. Saya malah cenderung berpikir bahwa emansipasi itu sudah ada jauh sebelum manusia mengenal propaganda dari kaum feminis, deklarasi kemerdekaan bangsa, bahkan jauh sebelum ditemukannya tulisan.

Perempuan di setiap zaman, di tiap bangsa, memiliki catatan sendiri tentang perjuangannya. Sejarah mencatat sejumlah nama-nama ratu dan tokoh perempuan yang mengubah dunia… Yang unik bahkan wanita sejak zaman pra-sejarah terkenal akan kemampuan berburunya. Tapi jika kita mau lebih terbuka dan mengamati sekeliling kita, perempuan memiliki caranya sendiri untuk berjuang, malah menurut saya perempuan lebih mampu keluar dari krisis ketimbang laki-laki.

Saya percaya Tuhan memberi kekuatan maha besar pada umatnya, jadi ketika sebagian orang konservatif mencibir bahwa emansipasi itu adalah produk dari patriarki, bahwa perempuan tidak mengerti kemauannya sendiri? Bahwa perempuan tidak mampu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri? Non sense.

Widiwww.. kenapa jadi mirip kuliah pengantar feminisme? Padahal saya cuma mau menuliskan catatan perjalanan saya dan seorang teman membelah kota Bandung. Nggak ada yang beda karena acara jalan-jalan kami mirip dengan rute wisata lainnya. Yang menarik adalah cara kami melewati hari itu, undeniable funny things ditambah dengan cerocosan dari mulut kami berdua sepanjang perjalanan itu. Pernah nonton Before Sunrise / Before Sunset? Nggak jauh beda-lah sama film itu, sayangnya teman saya itu nggak seganteng Ethan Hawke. Hehe..

She used to be a SuperGirlz

Beep. Beep <actually, it was just grrrrrrrr –vibrate active->

AKU DAH DI CIPULARANG!

Jam 7.30 pagi saya dibangunkan SMS yang bernada peringatan itu. Rencananya hari itu, di hari Minggu terakhir bulan Desember, hari Minggu terakhir juga di tahun 2009 yang seharusnya terang benderang karena kota Bandung habis diguyur hujan semalaman, akan dihabiskan bareng teman kuliah saya dulu di Sastra.

Orang ajaib ini amat sangat disiplin dan teliti, tidak menolerir sedikitpun keterlambatan. Pemarah dan mudah sekali naik pitam. Arrrrrrrghhhh… Ngantukkk… Jadi dari pada diceramahi tentang etos kerja separuh penduduk Indonesia yang malas dan nggak menghargai waktu, saya buru-buru mandi.

Byurrrrrr…

Shitttttt… Beruang kutub aja bakal kedinginan mandi pake air ini. Bukannya Bandung udah panas? Mana efek global warming? Udah nggak zamannya lagi kan menggigil-menggigilan di Bandung? <Lupa kalau semaleman hujan deras>

Jam 8 tepat di tempat yang dijanjikan. Saya masih sempat menyetop angkot yang sepi, yang isinya cuma ada saya dan abang sopir. Jalannya pelan sekali, sekalian mencari penumpang… Hmm segar banget persis Bandung tempo doeloe, aroma kayu dan es, sambil terus memandangi deretan rumah peninggalan kolonialisme. Dulu saya sering membayangkan bagaimana rasanya tinggal di salah satu rumah bertembok batu yang dingin itu. Sayangnya, saat ini sebagian rumah-rumah itu disulap menjadi factory outlet.

Teng.. Teng.. <actually the sound was perfectly identic>

Misa minggu pagi dimulai dan saya duduk tepat di seberang gereja itu. Hfff lagi-lagi saya membayangkan sedang berada di alun-alun depan gereja katedral di Milan. Oh my God, where’s the hell that hell_girl?

Jarang-jarang saya dan teman saya ini bisa bertemu, selain tinggal di kota yang beda and oh shit everything’s change and we’re not a same person anymore. Salah satu perempuan kuat yang pernah saya kenal, jadi dengan bangganya dia membaptis dirinya sendiri dengan nama SuperGirlz. What? Gee… Selain karena pernah menenggak habis 1 gelas kopi purwaceng, si-SuperGirlz ini punya kemampuan menyedot energi orang haha.. jadi nggak heran dia bisa mendaki bukit lewati lembah. Atas musyawarah bersama, teman-teman kami memanggilnya SamsonWati.

“U’re Not gonna do ths to me! Buruan datang sebelum gw dtawar org!!!”

grrrr.. grrrr.. <I’ve already tell ya>

“Kalo ada yg mrp Marlon Brando, sikaaattt ajahhh…”

Arrrgggggghhhhhhh….

Perjalanan ini baru saja dimulai tepat ketika SamsonWati turun dari DAMRI, berjalan penuh semangat ke tempat yang dijanjikan. Taman Dago. Persis di samping fly over, itu loch yang ada huruf D-A-G-O gede-gede. Taman model gini nih kalo di Jakarta udah dijadiin tempat mangkal waria. Eitt,, yang ngerasa waria jangan marah dulu, marah sama pemerintah sana, minta donk tempat yang lebih representatif buat eksistensi lo.

Kekeuh dan nggak bisa diganggu gugat. Ke Saung Angklung Mang Udjo. Karena cuma tahu satu-satunya cara ke sana naik angkot jurusan Cicaheum-Ciroyom dan mulai percaya kalau orang Bandung sendiri sering nyasar di kampung sendiri, jadi dari Taman Dago kami mulai berjalan menuju Gasibu. Pusat Keramaian, angkot mana sih yang nggak lewat situ? Bener nggak?

Perjalanan kami dimulai dari tempat ini <Taman Dago>

Tour de Gratuit

Desa kecil tak populer itu namanya Purwakarta. Ceritanya, dibalik kenikmatan dunia akherat yang ditawarkan pekerjaannya <ini dia sendiri yang bilang, kepedean..>, dirinya merasa terperangkap, bisa juga jiwanya. Pasti bulu ketek-nya dicabut sama kompeni bisa-bisanya SamsonWati ketangkep <Samson Anak Betawi, Benyamin S.>. Tahu nggak Sam kalo Gus Dur pernah berniat mindahin ibukota RI ke Purwakarta? Nggak usah ngeluh. Jadi supaya dirinya nggak jauh dari peradaban hampir di setiap weekend SamsonWati menyalurkan kekuatannya. Hehe.. Salah satunya ya jalan-jalan di Bandung ini.

Rame euy. Jadi inget Sunday Morning di Jogja, cuma di Gasibu ini ribet, nyampah lagi. Susah buat menikmatinya. Jadi saya dan SamsonWati cuma beli CiLok dan Cimol yang ajaibnya, oh gosh, ini karet apa sendal?

Bener-kan, dari sini kami bisa langsung naik angkot ke Cicaheum. Atas rekomendasi seorang Ibu katanya begitu turun dari angkot, naik aja ojek ke Saung Mang Udjo cuma dua ribu. Ternyata letaknya nggak jauh-jauh amat, setelah jadi kernet dadakan, langsung tancap gas by ojek. Pantessss murah, orang deket bener.

Ini konspirasi <saya bergumam dalam hati>

“Kami jauh-jauh dari Jogja Mbak,” <Sam ngotot pengen masuk>

“Maaf, tapi tempatnya sudah di booking sama ITB,” <Eneng Penjual tiket>

#$%&'()*@<=??!!! <Lagi, Si-Eneng dalam hati, bete kayaknya>

“Trus, apa yang bisa kami lihat disini?” <Sam mengeluarkan nada yang nggak bisa ditolak semua makhluk>

Akhirnya kami diperbolehkan melihat-lihat gallery.. ahhh ini siy standar kayak gallery di tempat-tempat wisata seluruh Indonesia. Kami kan mau main angklung. Ternyata letak aula pertunjukannya tepat disamping gallery, acara baru aja dimulai. Tiba-tiba saya punya ide, apa susahnya sih jadi peserta illegal, nyelip dua orang diantara ratusan peserta, kalo ketauan tinggal keluar. Hehehe… amin, kata si-Sam.

Rasanya kembali jadi anak SD, ingat dulu mama pulang dari kantor bawa seperangkat Angklung. Lengkap dari yang paling besar sampai yang terkecil. Lengkap juga penderitaan mama ngajarin anaknya yang lemot.

Pertunjukan Angklung di Saung Angklung Mang Udjo

HOREEEEE saya bisa main ‘Burung Kakak Tua’

Saya dapat angklung bernada Re… oh, I love Re since then… Si-Sam bahkan sudah nggak duduk di samping saya. Jeprat-Jepret dengan kamera andalannya. Cihuyyy gratisan niy.. belakangan saya baru tahu tiap orang dikenai biaya 50 ribu buat ikut serangkaian acara disana.

Tour de Gratuit Part Deux…

Jam 12, kami jalan ke tempat angkot tadi, jurusan apa saja-lah yang penting jalan dulu. Seperti biasa, angkot yang kami tumpangi milik pribadi… kemana sih orang-orang Bandung? Pantes macet, seperti masyarakat perkotaan lainnya, kendaraan pribadi sudah jadi kebutuhan primer.

“Suerrr Na, Vera pernah masuk sampe ke atas,” <Sam lagi-lagi ngotot>

Siapa yang percaya coba? Gedung sate ini, yang simbol kota Bandung, dibuka untuk umum. Ini kan kantor Gubernur Jawa Barat? Bukannya ini tempat demo? Tuh liat, kawat di keliling pagarnya aja segede-gede urat Gatot Kaca, fiuhh belum lagi pintunya dikunci pake rantai segede Gaban.

BREEEETtttttttttttt srtttttt <Anybody please help me to describe it>

Rantai yang saya pegang lepas. Yeah yeah yeah… the door opened and Alice got her new adventure. Tanpa ba-bi-bi kami masuk diikuti sejumlah wisatawan lainnya. Ngeri juga, begitu sampai di depan pintu masuk Gedung Sate, kami dihadang petugas. Dengan alasan datang jauh dari jogja dan faktor si-bule Perancis yang ada di depan kami, alhamdulilah nggak sia-sia, just come on in.

Untungnya lagi, kami dapet tour gratisan selama di gedung itu, diajak naik ke atap. Melihat Bandung dari teras puncak gedung 6 juta gulden ini. Wow, pemandangan kota Bandung yang mendung. Kami juga boleh memakai teropong yang ada disana. Karena terpisah dari rombongan, kami harus melewati ruang yang sepi dan gelap. Suerr jadi horror, kayak masuk ke House of Wax.

Teman saya, si SamsonWati ini ternyata sangat romantis, sempet-sempetnya dia ngebayangin acara pesta dansa di ballroom gedung itu, dulu.. dulu banget di zaman kolonial. Di dalamnya sekeliling ballroom, ada pilar-pilar gaya romawi serta ornamen kayu yang masih asli sejak pertama kali dibangun.

Bandung Mendung, dari teras puncak Gedung Sate.

2 kilo meter mah nggak ada apa-apanya. Mendaki gunung aja biasa, masa cuma 2 km panggil becak? So go go go Supertramp. Jadi saya mulai ikut-ikutan Sam memanggil diri saya Supertramp, persis sama seperti tokoh favorit saya di film into the wild.

Diselingi makan siang, lalu mampir ke BIP <lagi-lagi Mall, uhhh>, kursus kilat fotografi sama SamsonWati… ternyata menuju Braga Festival nggak kerasa jauhnya. Nggak mungkin 2 km! tapi untungnya obrolan kami dari hal yang nggak mutu sampe ngelibatin rahasia Negara mengalihkan kekhawatiran kami berdua pada volume kedua betis ini. Rrrrrrrrr.

Dulunya kawasan ini dikenal dengan kalangan high class-nya. Jalan Braga dibuat Belanda untuk dijadikan jalan pusat perbelanjaan Eropa terbesar di Hindia Belanda seiring rencana Pemerintah Kolonial memindahkan ibukota dari Batavia ke Bandung. Beberapa bangunan tua gaya art-deco dengan tata kota mirip salah satu sudut di Eropa. Ada yang bilang bahwa bangunan tua disini dibangun oleh arsitek Belanda yang memadukan unsur tradisional dengan kecanggihan konstruksi ala barat. Nggak heran jika kita perhatian dinding bangunan kaya akan detil, di sisi lain tiang-tiang terlihat kokoh dan megah khas eropa.

Orang-orang berseliweran dengan pakaian paling fashionable di zamannya. Dengan mantel dan bulu-bulu. Hmm, pantas saja orang-orang Belanda menyebutnya Paris van Java, ikon kota Bandung. Nuansa-nya bahkan masih bisa ditangkap saat ini, meski gedungnya sudah berubah fungsi, papan iklan dimana-mana ditambah cuaca yang semakin panas.

Saya pikir Braga Festival mengangkat kembali romantisme masa lalu. Berharap ada yang beda dari festival-festival sejenis di nusantara. Hari itu, kami disuguhi berbagai jenis stan makanan <nggak heran, Bandung terkenal dengan kreasi makanannya>, stan clothing, pertunjukan musik dan budaya. Yang cukup menarik selain arsitektur tua, adalah atraksi dari pemahat lokal. Hasilnya, lumayan buat nyamain muka haha… So far, nggak beda sama FKY di Jogja.

Nggak jauh-jauh.. makaaaannnn… yummy

Atraksi salah satu pemahat di Braga Festival

Keren-kan hasilnya…

Tikk.. Tikk.. Tikk.. <Play a happy song..>

Salah satu anak tangga di Gedung Merdeka.

Jam 4 sore. Akhir dari Tour de Gratuit ini. Senang rasanya mengetahui masih ada energi tersisa untuk mengingat kembali dan mencatatnya. Rasanya saya masih sanggup melakukan perjalanan seperti itu ribuan kali di tahun-tahun mendatang bersama teman seperjalanan yang hebat. What a Great Trip, Sam.

Byurrrrrr.. <hujan, badai, angin kencang.. it was definitely true>

Beep.. Beep.. <well, it was grrrrrr vibrate active->

OTW k desa kcl gk populer. Bsh k’ujanan.. Aq msh lanjutin mkn CiLok nih..

Bener-kan? cuma Samson yang bisa dan mau-maunya makan CiLok rasa sandal. Haha…

*Koleksi foto-foto pribadi Sam..