La Femme en Révolution

31 03 2010

Jika ada seseorang yang memendam dengan indahnya, maka pastikan dia bisa mencintaimu dengan kejamnya. Setidaknya, bacalah ceritaku dulu.

Hari itu, tepat tiga malam berturut-turut aku pulang tengah malam. Masih mengenakan gaun katun putih dengan motif kembang sepatu. Harganya tidak sepadan dengan bahan yang bisa jadi kurang satu meter panjangnya. Aku nasehatkan perempuan, jangan terlalu kentara menyatakan perasaan! Jika tidak, pedagang di pasar sana akan menguras habis isi dompetmu. Tapi apalah daya…. Bahkan Madame Marie menjual negara demi gaun dan bulu-bulu.

Aku berlari kencang di antara gang sempit kota yang gelap dan berbau pesing. Kalau kau pernah melihat film mafia Hollywood di torowongan kota New York, mungkin seperti itulah lorong menuju rumah nenek.

Nafasku berkejaran dengan suara sepatuku. Seolah mengukur seberapa cepat jarak yang kutempuh. O la la, sepatu hak tinggi itu kubeli di pasar loak untuk mengangkat bokongku. Dan memang harus kumiliki, karena Miss Monroe sudah membuktikannya.

Pintu rumah nenek seperti gerbang menuju hidupku yang lain. Oh, sengaja aku berlama-lama disana. Kusandarkan tubuhku di dinding lalu kunikmati alunan nafasku sendiri. Do re mi fa…. Aku baru menyadari aroma lumut di tembok bata begitu memabukkan. Lalu kuhirup dalam-dalam seperti para Holligan menikmati segelas bir hangat.

“Pelacur!”, wanita itu berteriak lalu menyeretku masuk melalui pintu kayu yang sama tuanya.

Ah… tudingannya seperti adegan pada sebuah babak di drama Shakespeare. Ingin rasanya aku terjerembab di lantai, tapi aku memilih berdiri tegak di balik pintu. Aku tatap wanita tua yang dengan rakusnya melahap setiap senti tubuhku. Dengan fasihnya ia berbicara tentang moralitas. Moralitas bangsa dan perempuan. Seolah-olah baik buruknya negeri ini tergantung pada cara perempuan meletakkan alat kelaminnya.

“Plak…. Plak…. Plak….”, wanita tua itu menamparku saat aku masih menikmati drama itu. Karena menurutnya diamku menghinanya.

Pelecehan? Ah, aku telah melupakan pelecehan sejak nenek membaptisku sebagai seorang pelacur. Jadi kunikmati saja setiap rabaannya, saat dirobeknya gaun yang satu paragraf ceritanya itu.

Momen itu sangat eksotis. Saat aku bersandar lemah dan berkeringat pada sebatang tonggak kayu dengan secarik pakaian dalam. Api yang membakar gaun itu adalah kobaran cintaku. Maka melihatnya adalah sensasi keindahan.

“Perempuan di keluarga kita memang dikutuk untuk jadi miskin dan cantik!” desisnya.

Aku yang malam itu berusia 16 tahun, tergolek sendu di ranjang perawan. Yang kutahu rasanya begitu indah walau menyakitkan. Rupanya malam itu, aku memutuskan untuk terus berjuang demi cinta.

Lalu aku menjadi sedemikian dewasanya dengan gincu merah menyala. Seperti gambar wanita Perancis di dinding depan bioskop kota. Ah, andai saja ku tahu dari awal, wanita itu tak ubahnya seorang pelacur.

Ku raba perutku samapi aku terisak pedih seperti wanita jalang menyesali nasib. Bedanya disini, saat itu aku masih setengah jalang.

Tak mungkin mengubur cinta itu dalam-dalam, karena dia bukan bangkai. Dan mencintai laki-laki hanya membuatku tak ubahnya seonggok bangkai perempuan. Kenapa ini tidak pantas hingga aku cukup memahami ketika nenek mendesiskan kata-kata brengsek itu ke telingaku. Bahkan Drupadi tetap seorang dewi meski bersuamikan ke lima pandawa.

Kau mungkin menyangka aku gadis malang korban traficking. Oh, khayalmu terlalu tinggi kawan. Aku ini perempuan yang tak ingin menyimpan rahasia sedih. Maka beribu cara aku pakai untuk menarik hatinya.

Ah, laki-laki memang layak mendapatkan segalanya. Dan cinta itu ada pada laki-laki setengah baya, guru Madrasah-ku dulu. Laki-laki yang penuh kerutan di wajahnya. Dialah Dewa Zeus-ku.

Ini bukan gila tapi sinting! Hanya bisa mencuri-curi pandang pada laki-laki tua. Ini normal dan bukan dosa! Aku tidak melakukan affair kotor di motel seberang Stasiun. Atau tindakan mesum lainnya yang tergesa-gesa di balik semak.

Jadi, jangan heran, jika malam ini aku menciptakan percumbuan di antara kami. Yang magis dan sakral, yang tidak perlu kau mengerti.

ઐ ઐ ઐ ઐ ઐ

Seperti Opera Nightingale, tak ada yang lebih menyenangkan sang Raja kecuali nyayian burungnya. Dan seisi ruang kotak kubus Jakarta-ku tak ramai tanpa kabar burungnya. Apa peduliku, aku masih bersepeda dengan gaun miniku. Masih tiga kali keliling rumahnya mencari seribu alasan bertemu.

Tiap sisi pasar meramalkan masa depanku. Dari menjadi bintang film panas hingga gundik kawanan milisi di perbatasan. Masa depan yang menjanjikan untuk seorang remaja yang eksistensinya telah dibunuh.

Tuhan telah menakdirkan hari itu terjadi. Seperti sebait ayat dalam kitab suci. Ketika musim semi memang benar-benar ada di hati para pecinta. Aku dan dia ada di lorong sempit di depan rumah nenek. Sunyi. Bahkan cicakpun tak mampu bernafas.

Ah, seandainya saja aku bisa lebih nakal seperti hujatan orang. Ah, seandainya saja ada banyak angin yang berhembus diantara ikal rambutku dan mengangkat ujung rokku.

Tapi aku hanya diam. Menatapnya.

Ah, seandainya saja hak sepatuku patah hingga aku jatuh dan merebahkan diri di dadanya. Bercumbu dan memberi pertunjukan erotis buat nyamuk dan kecoa.

Pada akhirnya momen itu hanya sekejap. Hilang.

Kata orang, jatuh cintalah dahulu maka kau bisa menulis puisi. Tapi bahkan aku tak mampu memulainya. Tiba-tiba kamar ini tak mampu lagi membendung gairahku.

Aku berjalan mendekati jendela kamar, nampak sebuah kampung kumuh. Gang sempitnya dihiasi dengan jemuran para penghuni. Kau tahu, di kampung kami suara Adzan bersahutan dengan hentakan musik dangdut di warung Bang Mamat.

Hmmm, tapi segalanya begitu indah dalam kesemrawutan ini. Apakah kau memahami perasaan ini?

Aku bosan dengan monolog cermin ini karena aku bukan Narsisus yang mabuk kepayang sendiri. Maka aku rebahkan tubuh ini di ranjang yang berbau comberan itu. Menyambut kekasihku datang dengan alunan rebana sementara aku menari Tango.

Ketika lampu mati, tiba-tiba aku dibangunkan pada realitas yang sesungguhnya. Ada banyak tangan menjamah tubuhku. Mereka, laki-laki itu, menyeretku turun dari ranjang. Bahkan aku tak diizinkan memakai gaun mini dan gincu merahku.

Ah, wanita tua itu hanya menangis sedih waktu aku diseret paksa. Seperti kisah Isaura di zaman perbudakan. Apakah ia benar-benar menganggapku jalang lalu menjualku?

Aku pikir kita sudah merdeka. Dan perempuan ini boleh merayakan kebebasannya. Aku pikir Jakarta adalah surga. Tempat dimana bidadari menjaga akal tetap sehat dan jauh dari prasangka terkutukmu itu!

Aku terhenyak di sudut truk tua yang biasa mengangkut sapi potong. Lama kudengar melodi yang itu-itu saja dari mesin truk yang membawaku serta. Ah, untunglah seprei tua ini turut menemani.

Dulu, ku kira saat lelaki itu datang duduk di sampingku adalah saat dimana ia mengucapkan ikrar perkawinan. Ah, pikiranku terlalu muluk. Nyatanya ia tak lebih menganggapku sebagai binatang jalang dan seperti kata penyair muda itu “dari kumpulan yang terbuang?”. Padahal aku hanya ingin cintanya.

Lelaki itu menatapku dengan iba lalu memakaikan kerudung putih di kepalaku. Walau matanya tak berkata cinta, setidaknya aku mendapatkan ibanya. Kata orang, memang susah hidup di zaman revolusi, jadi bergeraklah dengan cepat. Kau tahu kenapa? karena semangat dan harapan yang satu akan mematahkan yang lainnya.

Lelaki itu mengucapkan kalimat pertamanya : “kau berbakat melacur jadi baik-baiklah disini”. Lalu dia meninggalkanku dengan hinanya di sebuah Surau tua. Di tempat yang katanya bahkan iblispun akan mengiba-iba pada Tuhan untuk kembali sujud di hadapan Adam.

Malangnya nasibku ini, perempuan, padahal tak pernah kuizinkan diriku sadar pada realitas Lingga dan Yoni kecuali dalam gairah perkawinan. Lalu aku memberinya kesempatan untuk tumbuh dewasa. Untuk tahu, ini cinta.

Pada akhirnya, aku mendapatkan diriku seperti perempuan lainnya. Menangis dan tersedu, dengan kerudung putih di sudut Surau. Kau tahu, bahkan dia tak memberiku kerudung hitam, warna favoritku kini.

Jadi, aku harus patah hati dahulu lalu menuliskannya untukmu.

La Femme en Révolution.

ઐ ઐ ઐ ઐ ઐ





Agent Mulder part-3

27 03 2010

Agent Mulder,

“Aku benci jika harus jauh dari kamu!” <kata saya dalam hati>

Lalu kamu mengirimi saya sms.

“Terasa dekat, padahal kamu jauh..

Terasa jauh, padahal emang jauh..

Mengapa kamu menjauh ketika aku mendekat..

Mengapa kamu mendekat ketika aku jauh??

Jauh-dekat 2000”

Bisakah kita kembali ke masa lalu dimana masih ada saya dan kamu duduk di boulevard? Duduk melingkar dan wajahmu sama cerahnya dengan teman-teman lain di mata saya. Bersinar karena jenaka, karena kita adalah kumpulan teman.

Bisakah kita kembali ke episode dimana saya harus bangun pagi-pagi untuk menjemputmu dengan motor jelek itu lalu mengantarkanmu kembali. Atau ketika kamu, dengan sepeda ontelmu, tiga kali ke kos tanpa berhasil menemui saya. Saya benar-benar menikmati kejengkelan kamu. Hahaha

Bisakah kita kembali berpegangan tangan, berlarian di pantai tanpa asumsi apapun?

Rupanya suatu ketika kita tertidur, seperti Psyche yang dibawa terbang oleh angin Zephyr dan terbangun di sebuah padang yang tak pernah membawa kita kembali ke masa lalu.

Entah kapan saat itu terjadi?

Mungkin saat lawakanmu tak lagi lucu di telinga saya. Atau ketika saya benci tak bisa berkata-kata di depanmu. Padahal itu kan kamu. Oh, come on.. itu kan cuma kamu. Atau ketika saya merasa kamu memelototi saya, rasanya ingin saya colok-colok matamu itu!

Jadi ketika segerombolan monyet-monyet mengetuk pintu kamar saya pagi-pagi buta, menceritakan isi curhatmu semalaman, saya ingin teriak! Tega-teganya kamu begitu! Saya merasa dikhinati. Kita kan partner, Agent Mulder. Tapi selanjutnya rupanya saya dikhiati perasaan saya sendiri!

A simply platonic. Sometimes become complicated. That’s what we are. Tak ada kewajiban untuk mengatakannya. Rasa ini begitu indah karena cuma saya dan kamu yang tahu… cuma saya dan kamu yang merasakannya.

I saw you there. Rasanya itu sudah cukup.

Agent Scully





Agent Mulder Part 2

27 03 2010

Agent Mulder,

Tiba-tiba seluruh dunia seperti berkomplot memusuhi saya. Jadi, di kereta ekonomi yang membawa saya pulang, lagi-lagi saya meratap diam-diam. Begitu sulit memahami seperti apa bentuk hati ini. Bukankah ini hanya masalah hormon yang bereaksi secara kimia. Selalu ada cara untuk mengenyahkan perasaan ini.

Saya benci melihat waria di depan saya. Meliuk-liuk diantara pedagang pecel, peluh keringat yang membasahi stoking jalanya. Sesekali teman di samping saya dicoleknya. Arrrghhh, dia seperti sedang mengangkangi otak saya. Saya benci melihat wajah-wajah penumpang satu gerbong yang menikmati atraksi itu. Tertawa-tawa lalu sesekali balas mencolek. Kawanan pecandu endorphine. Ini semua enggak lucu!

Benarkah aspirin bisa mengobati sindroma patah hati?

Apakah saya patah?

Seperti inikah rasanya?

Jadi kamu sudah lelah dengan permainan kecil kita?

Takutsubo Cardiomyopathyoh shit… saya kini bisa merasakannya. Kedengeran keren banget-kan? Semua itu karena kamu! Kenapa nggak sekalian kamu cabut saja hati ini, lemparkan kebawah biar remuk tak bersisa diantara roda-roda kereta. Asal jangan kamu simpan dan tak pernah mengembalikannya lagi.

Saya seperti pelacur tua yang menangisi hilangnya keperawananya. Nggak berguna. Benarkah permainan ini sudah usai? Saya tidak ingin menghabiskan sisa hidup ini dengan menulisi kisah patah hati. Saya benci Shakespeare dengan segala tragedinya. Jadi, jika saat ini saya mulai tergila-gila pada endorphine, apakah segalanya akan kembali indah?

Kamu yang merekrut agent baru! Bukankah kita ini satu tim?

Haruskah saya menjabat erat tanganmu dan menutup petualangan kita? Oke.. jadi saya harus bersikap seperti orang dewasa lainnya dan mulai menerima kenyataan. Peraturannya hanya satu, jangan pernah kita buka “x-file” itu. Yakin bisa? Enggak.

Jadi, ketika kereta ini memasuki satu kota kecil, ketika separuh penumpang terlelap sambil memegangi sakunya, sahabat kita membisiki kata-kata ajaib itu…

“Dia pasti kembali, tenang saja…”

Benarkah? Rasanya begitu.

Agent Scully





Agent Mulder Part 1

27 03 2010



Agent Mulder,

Are you ready to confess?

Meskipun tiap tarikan nafas berhenti dan kita tidak lagi bisa mencairkan ketegangan yang terlanjur terjadi. Saya yakin sekali, kita tak akan pernah membagi rahasia ini pada orang lain.

Jadi jika saya terus-menerus mengenang ‘ladang berry’ yang kita jelajahi bersama, apakah itu hanya sekedar obsesi? Atau kisah yang belum dituntaskan. Entah mengapa saya merasa yakin kamu-pun begitu.

Jadi, mari kita beri mereka melodrama yang tak kunjung habis ini.

“Hidup ini tandu, maka duduk saja.”

Suatu malam di bawah hamparan bintang, kita pernah berbincang muram. Kamu yang mengaku-ngaku hasil kloningan sempurna Nicholas Saputra berkali-kali mengutip kata-kata favoritmu di film AADC. Bagi saya kamu lebih keren dari Nicholas Saputra tau! Sadarkah kamu bahwa malam itu kita sedang berkontemplasi.

Saya yakin kamu tidak sedang bercanda, meski tampaknya kamu tak bisa serius dalam hal apapun. Entah mengapa rasanya begitu mudah memahamimu meski mati-matian saya bantah.

Hidup ini bukan jebakan seperti Russian Roulette atau bukan pula sebuah windmill hingga kamu tahu konsekuensi pepatah tua itu, seperti putaran roda nasib. Bagi kamu hidup itu tandu, segalanya sudah digariskan jadi duduklah yang manis. Enjoy your life. Mengalir seperti air, seperti kata kamu juga.

Arrrrgggghhhh Non-sense. Hidup ini tantangan! Penuh perjuangan! Kata-kata seperti itu hanya apologi orang-orang apatis.

Anehnya, prinsip itu begitu melekat di alam bawah sadarmu dan voila… Hidup begitu mudah dilewati. Selalu ada tawa, canda, jenaka, aneh bin ajaib seperti lakon srimulat. Saya bebas tertawa bersamamu. Begitu mudah jatuh cinta pada orang yang bahagia seperti kamu.

Tapi cinta enggak semudah itu. Biar saja kita terus bertanya-tanya, bukankah kita sudah mengerti jawabannya. Kita enggak butuh lagi confession.

I heard people talking about love. Love is the way. Love is the answer. But, what is the answer?

Ah, dan di malam lainnya ketika bintang terhalang atap rumah kita. Kamu menertawakan khayalan romantis saya yang sadis katamu dulu. Jadi bukan romantis namanya jika Ahmadinejad mengirimi Rosiana Silalahi sebuah bouqeutte bunga sebagai permintaan maaf?

Jadi kenapa kamu tertawa terpingkal-pingkal dengan pendapat romantis saya? Hmm. Mungkin karena ini kali pertama kita membahas cinta lalu kamu memamerkan cengiran kudamu itu.

Are you wondering, we’re in love or not?

Arrrggghhh, sekali lagi mari kita beri mereka sedikit melodrama.

Agent Scully