Agent Mulder Part 1

27 03 2010



Agent Mulder,

Are you ready to confess?

Meskipun tiap tarikan nafas berhenti dan kita tidak lagi bisa mencairkan ketegangan yang terlanjur terjadi. Saya yakin sekali, kita tak akan pernah membagi rahasia ini pada orang lain.

Jadi jika saya terus-menerus mengenang ‘ladang berry’ yang kita jelajahi bersama, apakah itu hanya sekedar obsesi? Atau kisah yang belum dituntaskan. Entah mengapa saya merasa yakin kamu-pun begitu.

Jadi, mari kita beri mereka melodrama yang tak kunjung habis ini.

“Hidup ini tandu, maka duduk saja.”

Suatu malam di bawah hamparan bintang, kita pernah berbincang muram. Kamu yang mengaku-ngaku hasil kloningan sempurna Nicholas Saputra berkali-kali mengutip kata-kata favoritmu di film AADC. Bagi saya kamu lebih keren dari Nicholas Saputra tau! Sadarkah kamu bahwa malam itu kita sedang berkontemplasi.

Saya yakin kamu tidak sedang bercanda, meski tampaknya kamu tak bisa serius dalam hal apapun. Entah mengapa rasanya begitu mudah memahamimu meski mati-matian saya bantah.

Hidup ini bukan jebakan seperti Russian Roulette atau bukan pula sebuah windmill hingga kamu tahu konsekuensi pepatah tua itu, seperti putaran roda nasib. Bagi kamu hidup itu tandu, segalanya sudah digariskan jadi duduklah yang manis. Enjoy your life. Mengalir seperti air, seperti kata kamu juga.

Arrrrgggghhhh Non-sense. Hidup ini tantangan! Penuh perjuangan! Kata-kata seperti itu hanya apologi orang-orang apatis.

Anehnya, prinsip itu begitu melekat di alam bawah sadarmu dan voila… Hidup begitu mudah dilewati. Selalu ada tawa, canda, jenaka, aneh bin ajaib seperti lakon srimulat. Saya bebas tertawa bersamamu. Begitu mudah jatuh cinta pada orang yang bahagia seperti kamu.

Tapi cinta enggak semudah itu. Biar saja kita terus bertanya-tanya, bukankah kita sudah mengerti jawabannya. Kita enggak butuh lagi confession.

I heard people talking about love. Love is the way. Love is the answer. But, what is the answer?

Ah, dan di malam lainnya ketika bintang terhalang atap rumah kita. Kamu menertawakan khayalan romantis saya yang sadis katamu dulu. Jadi bukan romantis namanya jika Ahmadinejad mengirimi Rosiana Silalahi sebuah bouqeutte bunga sebagai permintaan maaf?

Jadi kenapa kamu tertawa terpingkal-pingkal dengan pendapat romantis saya? Hmm. Mungkin karena ini kali pertama kita membahas cinta lalu kamu memamerkan cengiran kudamu itu.

Are you wondering, we’re in love or not?

Arrrggghhh, sekali lagi mari kita beri mereka sedikit melodrama.

Agent Scully

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: