Now… I Walk Into the Wild

1 01 2009

into-the-wild1Now… I Walk Into the Wild
“There’s a pleasure in the pathless woods,
There’s a rapture in the lonely shore,
There’s society, where none intrudes,
By the deep sea, and music in its roar,
I love not man the less, but nature more… “
(Lord Byron)

Mungkin diantara kita masih ingat dengan novelnya Jon Krakauer “Into the Wild” yang kemudian di filmkan dengan jeniusnya oleh Sean Penn. Merupakan kisah nyata tentang seorang pemuda yang baru saja lulus dari Emory University, Christopher McCandless, Mahasiswa cerdas dan kaya yang salah satu hobinya mengutip tulisan pengarang dunia, seperti puisinya Lord Byron diatas.

Ia lalu memutuskan untuk berpetualang meninggalkan dunia yang ia pikir sangat matrealistis dan manipulatif. Kemudian ia membuang semua atribut yang melekat di dirinya. Yang paling mengharukan ia mendonasikan $24,000 tabungannya untuk Oxfam, yang sedianya untuk membiayai kuliahnya di Harvard.

Dalam petualangannya Chris mengubah namanya menjadi Alexander Supertramp, melewati separuh negeri tanpa uang dengan tujuan utamanya Alaska. Ini bukan kisah tentang anak muda manja yang haus perhatian tapi tentang ambisi menentang sistem masyarakat yang rusak. Alexander Supertramp sendiri bukan sosok sociopat hingga mengasingkan diri ke hutan belantara.

Dalam petualangannya, ia banyak berinteraksi dengan sejumlah orang yang bahkan ia ingat hingga akhir hayatnya. Ia sendiri pernah berkata happiness is nothing without share. Apa yang dicari oleh pemuda ini di tengah dinginnya Alaska hingga berujung pada kematian? Ini pula kemudian yang mungkin kita tanyakan pada ribuan pendaki yang meregang nyawa di belantara.

Ada tujuh puncak di dunia yang dikenal dengan Seven Summits yang menjadi impian para pendaki. Ketujuh puncak tertinggi itu yaitu Puncak Everest (8.850 meter di atas permukaan laut/mdpl) di Nepal/Tibet yang mewakili Benua Asia, Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina (Amerika Selatan), Gunung McKinley/Denali (6.194 mdpl) Alaska (Amerika Utara), Gunung Kilimanjaro (5.963 mdpl) Tanzania (Benua Afrika), Gunung Elbrus (5.642 mdpl) di Elisworth Range (Benua Antartika) dan Puncak Cartenz Pyramid (4.884) di Papua Indonesia (BenuaAustralasia/Oceania).

Apa yang mereka cari? Identitas diri? Tentu itu hanya cemoohan orang-orang yang bingung pada apa yang dilakukan para petualang. Jangan pernah menyentuh alam jika kita tak mengenal diri kita sendiri. Entah apa yang akan alam lakukan padamu, karena lagi-lagi seperti yang dikutip Alexander Supertramp “nothing to help you, but your hands and your own head”.

Mungkin kita sudah jenuh dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang modern? Modernitas sendiri lahir dari ambisi pencapaian akan rasionalitas, emansipasi, kebebasan serta semboyan-semboyan masyarakat yang mengagungkan kemajuan. Tapi realitanya, produk utama dari modernitas adalah kapitalisme. Seperti sudah ditakdirkan, manusia-manusia yang hidup kini cepat atau lambat akan menjadi kapitalis-kapitalis dunia selanjutnya. Tentu kita sudah lelah dengan sistem ini ketika idealisme tak bisa berjalan beriringan dengan bisnis dan politik.

Mudah rasanya untuk terpesona pada etalase di sudut-sudut kota lalu mengejarnya. Modernitas memang lekat dengan laju pertumbuhan ekonomi yang pesat. Lalu kita lupa pada cita-cita kita yang utopis dan indah. Tentang alam dan keindahan. Tentang peduli pada sesama dan keluar dari segala kemunafikan.

Apa yang kita tuntut pada alam begitu besarnya hingga kita lupa untuk memberi. Jadi jangan salahkan alam jika bencana datang bertub-tubi. Apa kita masih sibuk mengampanyekan isu Global Warming disaat para kapitalis emoh membatasi produksi emisi negaranya? Kita masih sadar atau hanya terbawa trend. Karena kalau nggak tahu gobal warming, nggak gaul banget-kan?

Di alam kita tak lagi bermimpi tentang cinta dan damai. Karena semuanya nyata. Alam pula yang mengajarkan kita untuk melepas topeng kemunafikan dan bersama-sama mengangkat ransel. Kita lupakan perang dan kebencian. Bahkan kita akhirnya tahu seperti apa teman seperjalanan kita. Egois-kah?

Di antara tonggak-tonggak kematian di lereng gunung, kita sadar bahwa hidup ini begitu singkat dan jurang kematian hanya sebatas batu tempat kaki berpijak. Kita belajar untuk lebih humanis. Dan di waktu malam ketika kita berbagi kehangatan di secangkir kopi, kita sudah mengabadikan kata persahabatan.

Ini bukan hanya kisah Alexander Supertramp ataupun Soe Hok Gie, tapi ini adalah kisah kita. Bahkan kita masih sanggup mendengar orang berbicara atau menyindir tentang tujuan hidup. Sudah waktunya bagi kita mengumpulkan catatan-catatan perjalanan dan berbuat sesuatu untuk memanusiawikan dunia.

Catatan favorit saya, salah satunya adalah tulisan Rudy Badil tentang kata-kata sahabatnya, Soe Hok Gie, sebelum musibah di Semeru. “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

Tanah yang dingin atau kasur yang hangat, apapun itu kita akan mati.