World Cup 2010

2 02 2010


Widget by Widgia

Tewas seketika… untuk bola yang berkhianat. Public Enemy bagi sang eksekutor gagal, begitu juga tandukan sang Kesatria. Diantara kemeriahan itu, pinggul para wanita menari samba, indah seperti sekuntum mawar untuk musuh politik. Melompat, bertelanjang dada, tinju melayang ke udara hingga atraksi ala kingkong, selebrasi yang sudah selayaknya kami kenang. Jutaan bintang di mata pemenang. Dan Tuhanpun memamerkan tangannya disana.

Catatan diatas adalah momen-momen Piala Dunia yang saya simpan sendiri. Kadang saya bagi dengan ayah saya <yang bener-bener pernah mengajari saya bermain bola di lapangan>, atau dengan adik laki-laki saya <yang benci sepakbola gara-gara pernah saya sepak jatuh>, tapi yang lebih seru dengan adik perempuan saya <yang bisa sangat ekspresif jika berbicara tentang sepakbola>. Jadi, dulu.. dulu sekali.. saya sempat berada di fase dimana sepakbola adalah bagian penting dalam hidup. Sepakbola yang menggila. Saya berkhayal sendiri sebagai satu elemen penting di setiap pertandingan Tim yang saya suka atau paling tidak pesepak bola favorit. Yuck… siapa Gue???

Setiap akhir pekan, tv di rumah nggak bisa diganggu gugat, Liga Itali jadi nontonan wajib. Soalnya saya merasa kalo nggak nonton sekali aja.. oh gosh.. my team gonna be lose and that’s true… Yang repot waktu siaran Piala Champion dulu, tengah malam gak peduli besok ulangan Fisika, kena omel seisi rumah karena teriakan gooooolllll-nya bisa bangunin tetangga, atau keesokan harinya tidur di kelas… hayuuu ajah nonton terus.

Selain pernah terlibat bandar judi bola di SMA, saya juga jadi langganannya tukang ager-ager. Tau-kan penjual mainan anak-anak yang suka ngider keliling kampung? Yang biasanya jual agar-agar encer rasa kebanyakan air, yang sendoknya bisa dibuktikan amat sangat nggak higienis, well.. sebenernya ‘Tukang ager’ ini juga menjual gambaran <oh shit… shud i explain you the meaning of ‘gambaran’> mainan kampung yang ‘bisa jadi penggemar berat mainan ini berprospek jadi penjudi ulung besarnya nanti’ hehe.. Ada juga Football Card bajakannya Panini. Itu-lah yang saya tunggu-tunggu.

Saya bahkan mati-matian belajar bahasa Perancis hanya supaya benar melafalkan nama-nama stadion tempat Piala Dunia ’98 berlangsung. Stade de France, yang saya ingat betul, disebut-sebut di kolam kompas sebagai stadion yang unik karena bangunannya mirip soucoupe volante <dibaca: sukup volong> yang artinya piring terbang. Entah kenapa pesona sepakbola makin pudar di mata saya, kadang hanya melihat beberapa pertandingan, final liga Champion, atau euphoria itu berulang setiap empat tahunnya.

Coupe du Monde. World Cup. Piala Dunia. Apapun sebutannya adalah pesta olahraga paling spektakuler yang menyedot perhatian jutaan pasang mata di dunia melebihi Olimpiade. Turnamen sepakbola ini diselenggarakan oleh FIFA sejak tahun 1930 yang selanjutnya diulang setiap 4 tahun. Disebut-sebut sebagai perhelatan akbar. Semua mata tertuju pada even ini, maka nggak heran banyak pihak ingin terlibat langsung di dalamnya.

Adalah aksi jual diri para pemain Latin atau Afrika yang belum diboyong ke Eropa. Papan iklan yang berebut tempat di lapangan. Propaganda yang hampir pasti dilihat orang. Kemiskinan dibalik tangan-tangan terampil yang menjahit si kulit bundar.

Terakhir kali menonton Piala Dunia, tak berapa lama setelah gempa bumi Jogja tahun 2006, duduk bersila dengan separuh penduduk Jogja yang baru saja ditimpa musibah. Di pelataran Benteng Vredeburg, Piala Dunia seolah mengobati luka mereka. Siapa yang tak senang melihatnya, bahkan saat itu saya rela Inggris dipecundangi Portugal  demi melihat wajah-wajah letih itu tertawa. Airmata Bola seperti triloginya Romo Sindhu sepertinya saya rela melihat orang menangis karena sepakbola, bukan karena hal lainnya.

Euphoria ini akan kembali dimulai. Aaargghhhhh udah nggak sabar….

Iklan