Merapi… Le Volcan…

25 01 2010

Jum’at, 17 April 2006

Waktu itu Jogja hujan deras, angin kencang, pokoknya cuaca nggak bersahabat. Jadi bisa dibayangkan orang gila mana yang mau-maunya mendaki gunung berapi paling aktif di dunia tanpa memperhitungkan cuaca buruk dengan persiapan seadanya. And oh shit, that would be me.

Setelah semua bujuk rayu dan diiming-imingi mendapat pengalaman paling menantang, one of 100 things to do before you die versi mereka, akhirnya saya mengiyakan pikiran sesat itu.

Selepas maghrib saat hujan mulai reda, kami berenam berangkat dari Sekretariat kami tercinta menuju kaki Gunung Merapi. Dua orang teman pendakian saya kali ini, Malik dan Sunan Kali Code, untungnya pernah mendaki Merapi jadi sedikit banyak saya agak tenang. Kami putuskan melalui jalur pendakian yang paling umum yakni melalui sisi utara tepatnya di Kecamatan Selo-Boyolali. Dari Jogja ke Selo seharusnya bisa ditempuh dalam 2 jam dengan motor namun karena hujan deras mengguyur sepanjang perjalanan jadi beberapa kali kami harus berhenti untuk berteduh.

I thought that would be the first sign for me for stop this. But, nothing can’t stop it.

Pukul 9 lewat beberapa menit kami sampai juga di Selo, makan malam di warung pinggir jalan yang semua makanannya dingin karena cuaca. And suddenly, yuck… semua makanan beruang kutub itu berhamburan di aspal. Second sign, kekeuh tetep ikut.

Kami harus mencapai desa terakhir menuju basecamp untuk menitipkan motor dan mengisi form pendakian. Jalannya berkerikil dan mendaki, menuntut kesadaran saya yang dibonceng untuk… yahhhhh turun deh.

Istirahat sebentar di basecamp untuk sholat dan membaca alam. Kami juga bertemu dua pendaki dari Mapala UNSRI Palembang yang nggak mau rencana pendakiannya gagal gara-gara cuaca buruk.

Pukul 11 setelah cuaca mulai membaik dan bulan sudah mau nongol sedikit, bismillah kami memulai pendakian. Malik yang memegang komando.. <ciehhh udah kayak operasi SEAL mengobrak-abrik daerah musuh>. Dari basecamp, medan yang ditempuh terus mendaki, karena gelap dan dengan penerangan seadanya kami tak bisa melihat jelas perkebunan rakyat di kanan-kiri kami. Semakin lama medannya makin nggak asik. Gila, perjalanan masih panjang… udah ngos-ngosan gini.

Vasco yang tepat ada di belakang saya malah berhalusinasi melihat monster sejenis kol, gede-gede… bulet-bulet… hahaha… Jelas aja, kami baru saja melewati kebun kol yang saking gedenya dan banyaknya bisa menghasilkan energi cahaya dalam kandungan gasnya. Halaahhhh ini teori yang ngaco mungkin gara-gara kemiringan lereng.

Jadi, teman saya ini, yang mengaku-ngaku Vasco de Gama, si penemu dunia baru… penjelajah sejati… hampir-hampir dikalahkan dengan si-monster kol walaupun saat itu dia lerbih ‘mirip-identik’ kayak satria bergitar. Suerrrr deh, ini mau mendaki atau ke pantai? Sempet-sempetnya bawa gitar. Jreeengggg…

Selebihnya perjalanan kami semakin curam, dengan jalan setapak pas dengan lebar badan, makin berat karena tanah yang dipijak terasa liat. Sesekali hujan malah masih turun, kami terus berjalan sambil menajamkan semua indera. Hutan cemara dan perdu, vegetasi yang dominan dalam trek kali ini. Bermacam-macam jenisnya, tapi yang bikin serem cemara yang kurus kering item berdiri sendirian, yang buat saya saat itu terasa mistis banget. Tapi hmmm, segerrrrr bener.. jadi emang nggak berlebihan iklan pembersih WC di tv.

Walau jalannya terjal tapi lumayan banyak niy ‘bonus’-nya. Semakin ke atas semakin jarang vegetasi, digantikan hamparan bebatuan. Selanjutnya, kami harus lebih bekerja sama, sedikit memanjat, berpegangan pada akar pohon sambil terus memikul carrier yang makin berat karena air hujan. Huhhhh.

Blessing in disguise. Dengan kemiringan sekitar 30-45 derajat. Kami duduk di antara bebatuan memandang lampu-lampu kota jauh di bawah sana. Indah sekali. Susah buat dilukiskan. Mungkin seperti malam di Baghdad dalam kisah 1001 malam-nya Alladin. Macam-macam saja ulah teman-teman saya kalau sudah jadi manusia rimba. Semuanya keluar aslinya. Ada yang maunya jalan sendiri, ada yang doyan ngeluh seperti saya, penyemangat teman seperjalanan, sampai belagak mirip lutung gunung. Haha.. you’re so insane, guys.

Pukul 4 subuh kami baru tiba ditempat yang dijanjikan, diantara bebatuan, persis di bibir jurang, kami mulai memasang tenda. Saya sendiri saat itu sudah tidur diantara celah batu. Dingin bener –gue ‘gak bakal butuh AC seumur hidup gue lagi- but, it’s not true.

Sabtu, 18 Maret 2006

Tenda kami hanya untuk dua orang. Tapi bolehlah dipakai bertiga. Selebihnya kami gantian berteduh disamping tenda yang atasnya hanya dilindungi terpal. Paginya cuaca lumayan cerah, deretan bukit yang hijau terhampar luas di bawah sana. Keren banget mirip sama pemandangan di film Lord of the Ring. Kami bisa melihat Gunung Merbabu persis di depan kami, juga gunung-gunung lainnya seperti Sumbing dan Sindoro.

Kami mulai membuat sarapan. Heraannn bukan main, Agha Mahenk yang ditugasi membeli bahan perbekalan lebih-lebih dari nyokap gue kalo belanja. Semua isi pasar diborong dari bahan-bahan buat bikin sambel, sayur-sayuran, lauk-pauk, sampe tepung buat bikin bakwan katanya <?>.

Rencananya kami akan mendaki hingga ke puncak hari ini, tapi tiba-tiba cuaca kembali nggak bersahabat. Kabut mulai menutupi jurang di depan kami, hujan dan badai tinggal menunggu waktu. Jadilah kami terperangkap disana dengan bahan lengkap membuat bakwan. Untuk menyalurkan jiwa kewanitaan, saya mulai mengiris wortel yang merupakan salah satu keahlian terhebat saya haha. Fery dan Rian ikut-ikutan membantu, tugas selanjutnya diserahkan pada Mahenk dan Sunan Kali Code.

Makin sore, badai makin kencang. Disaat-saat mencekam itulah Vasco mulai berinisiatif melantunkan salawat <apalah itu, lupa> yang katanya bisa menghentikan badai dan menghilangkan rasa dingin. Salawat bikin ganteng ada nggak, Vas?

Jujur saja yang ada dalam pikiran saya, begitu badai ini reda kami langsung cabut. Bener-bener nggak asik buat hiking. Belum lagi ancaman ketakutan sama setan penghuni Pasar Bubrah yang legendaris diantara pendaki yang letaknya cuma beberapa meter diatas kami. Dataran landai terakhir sebelum puncak yang konon ‘pasar’-nya dunia ghaib. Jangan-jangan mereka lagi bertransaksi siapa yang berhak menakut-nakuti kami. Hihihihi…

Seingat saya, kami lalu berbicara panjang lebar tentang pendakian sebelumnya. Tentang Soeharto dan Soe Hok Gie. Tentang artis yang sok eksis sampai politik kotornya George Bush. Sok’ intelek kan?

Minggu, 19 Maret 2006

Dingin banget. Gigi sudah mulai gemeretuk, tulang-tulang terasa ngilu, belum lagi dengkul ini rasanya mulai bergeser, terus-terusan meloncat-loncat seperti sedang memainkan mini concert. Nggak mau ‘muncak’. Au revoir Garuda Peak.

Saking dinginnya, baju dan jaket kami mulai basah, kebayang kan gimana menderitanya? Biarin deh Soe Hok Gie bilang kami monyet-monyet pemalas tapi gue nggak mau tidur di batu dingin lagi. Belum lagi semalaman tenda kami disiram banjir. Huhhh…

Nggak bisa menolak apa yang dijanjikan di atas sana. I decided to join the monkeys club.

Begitu cuaca cerah, kami langsung bersiap-siap menuju puncak. Karena sudah pernah ke Merapi sebelumnya, Sunan Kali Code berinisiatif tetap berada di dome setelah sehari sebelumnya capek bukan main turun kembali ke bawah mencari air. Yang lucu, air juga kami dapatkan dari akar-akar tanaman yang tumbuh disekeliling dome kami.

Pasar Bubrah bertekstur pasir tandus dengan vegetasi yang semakin jarang ditemui. Di ketinggian kira-kira 2800 mdpl, dengan punggung yang terbuka angin semakin kencang menerpa kami. Serem juga karena kami berjalan di antara monumen kematian para pendaki.

Dari sana kami mulai mendaki bebatuan yang curam yang mudah sekali bergeser karena usianya yang relatif masih muda. Jadi kami harus ekstra hati-hati bertumpu pada batu selanjutnya, batu yang kokoh menancap ke tanah tanpa beresiko melukai teman dibawah kita. Salah langkah saja bisa langsung jatuh terguling ke jurang, belum lagi melihat batu besar dan tajam muntahan Gunung Merapi yang bisa mengoyak tubuh.

Kalau trek dari bawah menuju Pasar Bubrah masih bisa dilalui satu rombongan, ketika mendaki ke puncak tak jarang kami mengambil jalan masing-masing meskipun saling berdekatan. Vegetasi yang bisa ditemui hanya sebatas lumut di bebatuan dengan bau belerang yang menyengat yang uapnya kadang berdesis diantara celah batu yang hangat. Kami tentu sudah diatas awan jika saja cuaca cerah, yang terjadi saat itu benar-benar mencekam. Suerrr nggak boong deh. Langit hitam, kabut dimana-mana, jarak pandang hanya beberapa meter di depan kami. Terus berteriak satu dengan yang lainnya adalah cara paling aman untuk tetap berada dalam kelompok.

Mirip Gollum yang berusaha mendaki Puncak Mordor. Dengan kemiringan lereng 45-60 derajat, kami harus berjalan merayap dan merangkak, saat itu saya berpikir ada diantara hidup dan mati. Cuma nggak mau mati masuk patroli aja gue sekuat tenaga tetap waras disana.

Lelah, capek, tenaga tersedot habis. Berusaha mengatur nafas diantara oksigen yang hanya semburat tipis di atas kepala begitu melelahkan. Belum lagi jantung ini seperti mau keluar dari tempatnya. Dan ngikkkk ngikkkk…

Yang lucu, karena mendengar lagu rock dengan beat yang cepat, saya jadi ikut-ikutan semangat. Merayap, bergerak cepat dari satu batu ke batu lainnya. Mirip Spiderman yang merayap di gedung-gedung kota New York. Rian tepat diatas saya, karena volume suara MP3 saya pasang full, saya nggak mendengar panggilan teman-teman. Beberapa dari mereka di bawah saya, beberapa di batu seberang yang dipisahkan lereng curam yang dalam.

Begitu Rian berhenti tepat diatas batu besar di samping kanan atas saya, baru saya menyadari there’s no way out. Rian nggak bisa bergerak karena jalan satu-satunya adalah batu di samping kanan dirinya yang lumayan jauh. Jadi waktu saya berdiri menggelatung tepat diatas batu yang dipijak Rian, saya cuma berdoa jangan sampai hal terakhir yang saya lihat sebelum mati adalah sepatu jelek Rian itu.

Kira-kira begini reka ulang kejadiannya hehe..

“Rian, tolong gue… tarik tangan gue,” <dengan suara bergetar karena ketakutan.. rada lebay dikit…>”

Rian cuma bengong, ngeri lihat jurang di bawah sana. Celingak-celinguk mirip monyet Kali Urang minta kacang.

Sunyi senyap. Saking dramatisnya kejadian itu, lava di Gunung Merapi berubah jadi salju. Arrrggggghhhhh. Monyetttttt.

Di jalur seberang yang dipisahkan lereng curam, Mahenk dan Fery ikut-ikutan celingukan. Kami jadi mirip kawanan monyet di sirkus keliling. Vasco dan Malik yang berada jauh di bawah kami mulai berteriak-teriak.

“Buruan tolong gue. Riannnn…”

Masih bingung. Tapi kali ini pake ngomong, “tunggu… gue mikir dulu”

Hah? Mikir? Batu di kaki kanan saya saja udah tergelincir ke bawah.

“Sialaaannn.. kalo lo mikir, gue mati duluan”

Saya yakin saat itu sedang bernegosiasi dengan Dewa Kematian. Untungnya Malik cepat-cepat mendaki keatas. Mendorong saya dari batu sisi kiri, dari atas Rian menarik tangan saya. Huhhh, karena merasa batu yang saya dan Rian pijak kurang aman, kami langsung bergerak ke kanan, menuju jalur pendakian Fery, Mahenk dan Vasco. Rasanya saya ingin muntah dan menangis.

Setelah itu, kami lebih berhati-hati. Semakin atas semakin kelam, kabut ada di depan mata. Bunyi desisan dari dalam perut Merapi siap menyemburkan lava-nya. Beberapa kubah atau alat berbentuk parabola yakni sensor pemantau aktivitas vulkanik ditanam di beberapa titik kawah Merapi. Selebihnya kami tak bisa melihat apa-apa. Garuda yang sudah kehilangan bentuknya karena erupsi.

2980 mdpl yang bisa jadi berkurang atau bertambah ketinggiannya akibat erupsi. Aura mistis menguar tajam. Angin dari berbagai sisi lereng mengeluarkan suara khas-nya. Seperti ajakan menuju dunia lain. Sepi sunyi, saya nggak mau ditinggal sendiri di sana. Kelelahan yang membangun halusinasi sendiri di dalam otak. Saya ingin membagi ketakutan saya itu dengan teman-teman tapi saya urungkan. Kadang mental seseorang terperosok jatuh dalam situasi seperti ini.

Perjalanan pulang nggak kalah sulitnya ditempuh. Masih diguyur hujan, kali ini lebih besar, jadi setiap orang pernah merasakan terperosok, tertawa-tawa memeriksa bokong yang penuh tanah dan memar. Begitu samapai basecamp status Merapi ditingkatkan, bulan Mei di tahun yang sama gunung yang angkuh itu mengeluarkan letusannya yang pertama disusul beberapa letusan bulan-bulan berikutnya.

Merapi yang indah dan mistis. Mungkin ini pendakian saya yang pertama dan terakhir, cukup sekali berkenalan dengan angkuhnya bebatuan disana, dinginnya malam, secangkir kopi yang kami bagi bersama atau bahkan keindahan yang harus kamu rasakan sendiri. Saya selalu merasa muda dan bersemangat setiap mengingat pendakian itu.

Setiap pendakian harus well prepared, baik fisik maupun mental, kesiapan logistik, juga kemampuan navigasi dan mengenal medan dengan baik. Semua kecerobohan kami hanyalah satu keberuntungan seperti kata Bang Napi, waspadalah.. waspadalah.. alam menyapa dengan caranya sendiri.

Iklan

Aksi

Information

13 responses

26 01 2010
fian

makasih infonya, gue ada plan ke Merapi

27 01 2010
len

gag ada foto merapi ya?

27 01 2010
len

nekad euy

29 01 2010
sunan 'x' code

sialan, gw jd inget lg memori indah itu, tp gw saranin mending lo kudu bnyak nulis pke gaya kaya gini.. beda tipis lah ma ‘maryamah karpov’.. he..
tp sbnerny g’ spenuhny nekad si, logistik lengkap, ijin dah dpt, cuma gunungny aj yg kurang toleran, ato lo aj yg lg ktiban sial krna ada dblkg rian ‘wakakak’..
mudah2an klo gw muat di bagen, g dibredel ama kejaksaan.. amin..

30 01 2010
catilafeet

Weittt aku tHaru skali,,
Nekad-lah Code, orang anak2 br tau mW hiking aja 1minggu..
gue mutusin ikut hari itu juga…
Emang bikin apes si-Ryan,, foto2 kita gk tau rimbanya…
Kapan kita hiking lagi? Rinjani? Semeru?
………….
ntar kita buat tulisan yG bikin Bagen di Bredel…
kayak, “ihhh Presiden-Ku bandel banget sih” haha..
trus kita teriakin Bageeeeeeeeennnnn….

31 01 2010
straldinatanegara

“Tunggu..Gw mikir dulu…”

Hahahahaha…gw inget bgt tuh n ttp gw inget slamanya…gokil!!!

31 01 2010
catilafeet

@straldinatanegara, Emang bener2 tuh anak…
yang paling berkesan sama dy cuma pasko…
hahaha

31 01 2010
PazCholliCs

pwuih…bc tulisan ni br sdr trnyt gw gagah jg ya jd satria brgitar penakluk monster kol.he….great memory!!

31 01 2010
masih sunan "x" code

slah bukan gitu kalimatnya biar BAGEN dibredel….

kok, presiden IKAMASI buluk amat sih???

dengan sekonyong-konyong koder, sang presiden pun menelurkan SK….

31 01 2010
fery

wahaha, klo dr versi gw crita ini msh kurang na,
lah pas blknya gw kan pnya crita sndiri yg g klh gokil !!! ….hehehe

1 02 2010
catilafeet

@Pascho: gagah bener emang.. pasti gr2 dpt vitamin mlm2 bdua Ryan d tenda hahay..
@Code : udah gitu ntar lo bikin testimoni kyk Susno Duadji, klo dy emang buluk gtu? hahayyyy…
@Fery : yah skali lG itu derita lo sM Ryan.. mau2nya bw carrier dpn-bLkg.. mending lo buat crita versi lo deh.. gw tunggu hahayyyyy

5 08 2011
Ryan

Mantaaappp….hahaha…jadi ingat masa muda…..

12 08 2011
catilafeet

wkwaw Ryan aktor intelektual dibalik peristiwa ini sudah berkomentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: