“Meru” dan “Abu”

14 05 2010

Rasanya sulit menolak hasrat menuliskan kembali catatan perjalanan saya dan teman-teman IKAMASI di Merbabu. Mungkin karena pagi ini saya melihat keindahan Merapi-Merbabu dari jendela kamar saya. Man, i was such a greatest hero ever, menyelamatkan tenda kami dari serbuan lutung-lutung gunung yang nggak beretika! Jadi simpan dulu pisangmu atau nugget-mu itu, karena cerita masih panjang.

Akhir Juni 2007, lagi-lagi saya seperti setengah menderita schizopren, merasakan serbuan kabut tipis dementor tepat di depan pintu kos saya. oke i’m ready to the Azkaban. Nun jauh di atas sana Merbabu yang kalah populer, merasakan keasingan yang begitu akrab.

Jadi sore itu, saya sudah berada di Sekre kami. Rencananya jam 3 kami sudah berangkat dari Jogja. Tapi tau-kan? Gimana tingkah polah teman-teman mahasiswa yang sok penting itu. Percayalah, saya sudah berkawan akrab dengan ini. Huhhhhh ngarettttttt.

Molor. Tapi nggak pake zzzzzZzzzz….

Personil sudah lengkap. So what??? Bla.. bla.. bla.. ternyata tenda kami terlalu kecil, nggak bisa menampung kami ber-8. Tuh kan, bener-bener kacau n’ nggak wellprepared. Mau berangkat tapi kami masih harus berkutat putar otak jungkir balik pake nungging segala (hhhfffff) mencari pinjaman tenda.

Lalu dengan pede-nya, sumpah ini pede banget, teman kami Mr.Cribs membawa-bawa tenda Dora hijau dekil dengan bangganya. Menurutnya itu solusi paling brilian. Lo tau-kan? tenda mainan anak-anak yang suka dijual abang-abang di pinggir jalan. Yupp, benar itu sama kayak yang lo pikir. Insane.

Ya ampun my man, did you ever think it not stronge enough out there? Itu kan cuma muat buat Spongebob sama Patrick.

Lepas maghrib begitu masalah tenda sudah teratasi, kami berangkat menuju lokasi. Dengan 4 motor, muter dulu lewat gamping pake acara hilang personil segala. Maklum penyakit rabun ayam lagi mewabah.

Hujan lagi. Dan saya lagi-lagi nggak waras. Jadi belum sampai Magelang, sekali lagi kami harus berteduh di Halte. Petir yang nggak setengah-setengah nakutinnya. Saya harap ada Flash Gordon yang membawa kami semua dengan cepat ke tempat aman. Tapi nggak ada-kan? Jadi saya cuma berdoa, Yaa Tuhan kalau Engkau mau menurunkan hujan, turunkanlah. Tapi nggak pake deres.. ada petirnya lagi. Saya takut.

Begitu hujan reda kami langsung tancap gas. Udara malam yang lembab, saya seperti sudah merasakan dinginnya hembusan angin gunung kalau saja saya lagi-lagi tidak dibawa kegilaan yang sesat.

Oh shiiiiiitttttttt… How could you do this to me!

Kami berakhir di tikar angkringan alun-alun kota Magelang. Lama-lama saya muak dengan romantisme angkringan ini. Diameter perut saya sudah bertambah 3 cm karena Teh Panas! Dan kami mau-maunya nurutin kemauan Kipli, biker kami. Sesuai kode etik klub motor, sebagai ketua yang berdedikasi, menurutnya dia berkewajiban menjalin relasi dengan klub motor kota lain. Hffff…

Quote of the day #1 : Jangan tergesa-gesa dengan anggota geng motor kecuali anda disalip.

Rasanya rencana pendakian itu tinggal rencana. Mood udah terbang melayang. Apalagi malam itu kami berakhir di serambi Masjid, bergelung diatas lantai yang dingin. Oh My God, seperti baru keluar dari cerita guru agama saya waktu SD. Pak mawardi yang ekspresif dan konyol, dengan bangga menceritakan kearifan dan kebaikan hati sesama muslim pada musafir. Tapi kan kami nggak menunggang unta dan menyusuri padang pasir! Berpeluh keringat membawa pesan dari surga. Kami cuma korban konspirasi genk motor. Arrrggghhhhhh….

Dalam hati lagi saya berdoa, Yaa Tuhan semoga iler Amir Mahmud itu nggak mengandung lemak babi.

“Meru” dan “Abu”

Whuaaaatttttt?!!!!

@#$%^&*())_+#….

Saya nggak abis pikir. Saya pikir Mahenk lebih capable mengurus logistik kami. Oh come on Guys, kita bukan sekedar tamasya ke Pantai tapi berpetualang di Gunung. Masa’ di pagi yang lembab itu sempet-sempetnya kami mesti belanja perbekalan di salah satu pasar di Kabupaten Magelang.

Saya sudah melipat muka saya jadi bangun ruang simetris. Horeeee… Akhirnya saya berhasil menerapkan prinsip matematis dalam hidup. Nggak sia-sia mati-matian belajar, saya mulai percaya saya jenius. Semua itu karena ulah teman-teman saya ini. Cemberut sepanjang jalan yang akhirnya membawa kami tersesat di kebun tembakau. Hueekkk baunya nggak enak!

Monggo pinarak!

Terus-terusan kami ditawari singgah. Attitude pribumi yang membuat Indonesia terkenal di mata dunia karena keramahtamahannya. Saya merasa benar-benar ada di Indonesia. Heran, sedetik kemudian jadi malu. Egois, sinisme, individualitis, matrealistis, hedonisme seperti menunjuk-nunjuk hidung saya.

Mengambil jalur pendakian Wekas, kami menuju desa terakhir di lereng Merbabu. Jalanan terus mendaki, jadi kami yang dibonceng harus menumpang mobil bak terbuka yang penuh petani sayur dan sayurannya itu. Haha.. untung nggak kambing dan ayam kayak sinetron-sinetron lebay. Saya, Mr. Cribs, Restu dan Amir Mahmud berbagi tempat duduk dengan kol dan wortel. Merasakan angin diantara deretan cemara hutan serta hamparan kebun sayur.

I’m the supertramp. Yuhuuuu… you can’t deny it. Saya merasa sedang berbicara dengan wortel segar bebas pestisida itu. Haha.. saya bahagiaaaa sekali.

Pukul 10 kami mulai berangkat dari Basecamp. Begitu dimulai, jantung saya seperti mau lepas dari tempatnya. Gilaaa nanjak terus, masa nggak ada basa-basinya. Eurggghhhhhhh saya ngantuk dan kurang tidur pengen balik ke base camp rasanya.

Deretan hutan pinus yang sudah kehilangan pesonanya di mata saya. Jalur pendakian ini lebih popular karena dianggap jalur terpendek namun trek yang dilalui cukup merepotkan. Terus menanjak tanpa ada daratan luas yang membentang.

Tiba di Pos I yang masih ramai karena dekat dengan pemukiman penduduk dan perkebunan rakyat. Saya nggak merasakan keindahan sepanjang perjalanan. Makan ati karena terus-terusan ditinggal cowok-cowok yang terobsesi menunjukkan sisi macho-nya. Untungnya ada Amir Mahmud yang baik hati yang setia berjalan di sisi saya. Meski kami tertinggal jauh di belakang.

Cuma tanah yang gembur dan batu yang dimuntahkan ratusan tahun yang lalu. Itu sebabnya dinamakan Merbabu, Meru yang artinya gunung dan Abu, dahulunya adalah gunung berapi, satu dari rangkaian ‘ring of fire’ Pasifik.   Sepanjang perjalanan nggak ada pemandangan menakjubkan yang bisa dinikmati. Pantes aja kamu jadi anak tiri Merbabu. Keindahan macam apa yang bisa kamu tawarkan?

Jadi saya terus bersusah payah mengejar teman-teman sekaligus mendengar celotehan Amir tentang pendakian sebelumnya juga passion-nya menjadi bintang film. He..

Pos Kedua. Dataran paling luas yang bisa kami temui selama pendakian. Ditumbuhi pohon yang besar-besar dan alang-alang. Saya curiga disanalah habitat macan tutul Merbabu yang hampir punah berada.

Kami mendirikan tenda disana. Saya lupa persisnya jam berapa kami tiba. Lapar dan kelelahan. Jadi sementara teman-teman memasang tenda, saya berinisiatif membersihkan peralatan makan kami. Ridiculous. Entah dimana saya taro otak saya, hfff mungkin di penggorengan, bukannya air yang saya tuang ke tumpukan alat makan itu tapi minyak tanah.

Bego. Bego. Bego.

Saya melihat mata-mata kelaparan menuduh saya. Ampuuuuunnn.

Jadi cepat-cepat saya cuci bersih piring-piring kami ke pipa air yang bocor. Nggak beracun-kan? Sedikit minyak bumi kata orang cina obat mujarab untuk mengatasi sakit perut.

Tes.. tes..

Rasanya bukan iler Amir Mahmud yang jatuh berceceran ke muka saya-kan? Oh shiiittttt tenda kami bocor dan hujan lagi-lagi memilih saya jadi sahabatnya. Yaa Tuhan kalo mau kasih hujan nggak pake bocor ke muka dong.

Malam yang dingin. Dingin beneran bikin kebelet pipis. Nggak ada sesuatu yang berarti apalagi pemandangan yang bisa kami patri. Diluar sana hujan rintik-rintik dan anginnya cukup bikin pusing. Apa jadinya coba kalo tenda Dora itu dibawa? Dalam hati saya tertawa puas.

Cuma kabut tipis yang perlahan menuruni lereng, bukan dementor. Sumpah saya cuma bercanda mau mengunjungi Azkaban. Tapi anginnya itu loh.. lagi-lagi memamerkan suara mistisnya. Jadi saya duduk terjaga, begitu juga Mr. Cribs dan Amir Mahmud. Dan ketika yang lain bergelung malas persis Garfield yang kekenyangan, saya jadi ingat pesan penting teman saya dalam momen ini. Katanya saya harus membuat confession. Did I really fallin’ in love? Shhhhhh I’m not that insane.

Saya ingin menyanyi memecah kesunyian waktu itu. Tapi malu, kemungkinan besar udara dingin bakal bereaksi dengan getaran yang timbul dari pita suara saya. Emberrr, suara saya tidak lagi jazzy (haha hueekk) tapi bervibra dengan gigi gemeletuk. Kecepatan getaran harmonik dan gelombang yang nggak sinkron yang bahkan Newton-pun bakal bingung menghitungnya. Ck ck ck kebanyakan bergaul dengan anak fisika emang bikin ego ini jadi besar. Sok tau.

Ahaaa, jadilah malam itu kami isi dengan acara masak-memasak.

Such a silly adventure…

Pagi yang manis sekali. Sudah ada kopi di depan saya. Meski Mahenk mencaci maki muka saya yang mencong-mencong, saya nggak peduli yang penting kopi itu harus jadi milik saya. Nggak heran mengapa kopi menjadi salah satu penemuan penting di abad ke-8. Caffeinnya bisa bikin orang jadi waras, mungkin kelakuan kami pagi itu mirip kambing-kambing gembala Kaldi yang jadi lebih agresif dan bersemangat karena menelan biji kopi..

Saya jadi bisa melihat keindahan hamparan bukit di bawah sana. Merapi yang persis di seberang kami. Gumpalan awan-awan yang membawa Nobita dan teman-temannya terbang.

Sudah diputuskan saya dan Dean yang menjaga tenda. Mr. Cribs, Mahenk, Restu, Amir Mahmud, Kipli dan XoXo melanjutkan pendakian hingga puncak.

Jadi saya ucapkan selamat tinggal pada sensasi yang menanti kami di atas sana. Puncak Merbabu yang berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan laut. Salah satu gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi. Menurut catatan sejarah Belanda, gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797.

Semakin ke puncak jalur pendakian makin melebar hingga pemandangan yang tersaji begitu indah. Berjalan diantara sisi lereng dan gunung-gunung kecil. Saya membayangkan teman-teman di atas sana berlagak mirip Ninja Hatori membelah lembah, melewati padang rumput savana yang indah. Jika beruntung kita bisa menemukan hutan edelweiss yang abadi itu.

Sementara yang lain muncak, saya dan Dean mulai bersih-bersih tenda. Menjemur jaket yang basah semalaman. Huhhh, kami mirip sepasang manusia pra-sejarah penjaga gua sementara yang lain pergi berburu. Nggak keren banget deh. Tapi hebatnya saya kembali mempraktekkan keterampilan mengiris sayur disini. Menyiapkan hidangan sebelum yang lain pulang.

Wajahnya inosen sekali. Saya merasa iba. Ucap saya dalam hati.

Wajahmu mengingatkanku pada kekasih yang saya tinggal dulu. Desis Dean penuh perasaan, dalam hati juga.

Kami melempar pandangan riang gembira melihat seekor monyet yang muncul dari rimbunan pohon. Ihhhh lucu banget, sambil dadah-dadah lagi.

Jadi Dean yang setengah jatuh cinta itu mulai mengeluarkan nugget kami. Melemparnya dan Ooopss, horeeee nugget-nya berhasil ditangkap. Eh datang satu lagi, Dean kembali melempar. Lalu datang lagi yang lain, kembali Dean melempar satu. Oh Gosh ini sih udah keterlaluan.

Tiba-tiba kumpulan monyet-monyet muncul bergerombol dari balik alang-alang. Saya merasa seperti Jean yang diserbu kumpulan monyet Afrika yang ganas dan kelaparan. Dan shhhhhhh Tarzan disamping saya ini cuma bisa melongok takjub, sedetik kemudian ketakutan.

Ya ampun Mr. Tarzan coba monyet-monyet ini diberi kursus kepribadian! Nggak sopan tau melotot kejam kayak gitu. Tobaaaatttt, kami seperti sedang dikepung Densus 88.

Saya langsung inget tayangan National Geographic tentang kanibalisme monyet. Perlu ke psikiater kali tuh lutung. Oke, jadi ketika Tarzan bukan lagi the hero, saya nggak boleh panik. Saya harus tunjukkan otoritas saya sebagai manusia! Predator no. 1.

“Oke, Tarzan. Kamu disini jaga tenda jangan sampé ada yang dicuri. Saya cari bantuan ke tenda sebelah.”

Kebetulan ada Mapala UPN yang membangun doom tak jauh dari kami. Saya berlari mencari pertolongan.

“Tolong.. toloooong… kami diserang monyet,” saya mengiba-iba mirip artis reka ulang korban KDRT di acara Sergap.

“DIMANAAAAA?!” teriaknya sambil mengacung-ngacungkan golok.

Widihhhh tenang Bang. Abang Pitung satu ini semangat sekali! Saya langsung tahu kalo Si-Abang paling anti sama Darwin dan Teori Evolusi-nya. Haha.. sabar Bang, monyetnya belum mirip dirimu.

Lalu desisan dibalas desisan.

Teriakan dibalas teriakan.

Plototan dibalas plototan. Nggak lupa golok si-Abang diacung-acungkan ke langit.

Saya dan Dean menonton sambil bertepuk tangan. Halaaah lebay.

Horeeee monyetnya pergi.

Sebelum si-Abang pergi meninggalkan tenda, Dean tiba-tiba nyeletuk. “Maap ya temen saya ini parno, padahal sudah saya usir-usir monyetnya.”

Whuuuuaaaaattttt???! Bener-bener nggak sopan!

Lipatan simetris itu kembali muncul. Masih kesel karena Dean merasa lega dan bebas tidur sementara saya masih harus berjaga-jaga. Siapa tau monyet-monyet itu kembali dan membangun taktik yang lebih kejam. Dengan novel Coelho ditangan, saya masih setengah khawatir. Hhhfffff Emang ada yah korelasi antara Coelho dan monyet merbabu? Dan diantara syair-syair Nabi Daud dalam novel itu, beberapa monyet kembali ke tenda kami. Mengorek-ngorek sisa makanan.

Reaksi Dean cuma kaget lalu zzzzz molooor lagi. Apa jadinya coba kalo tenda kami dicabik-cabik!

Saya sudah nggak sabar mengadukan bencana yang menimpa saya begitu teman-teman kembali ke tenda. Dengan santainya Dean ngomong, “gue ngelindungin Ina dari monyet-monyet!”

Hahhhhh!!!!! Nggak kebalik tuh.

Saya ogaaaahhh berbagi sendok dengan Dean. Tapi lega karena nggak ada yang keracunan memakan masakan saya. Saya memasak sarden itu dengan cinta tau! Haha… akhirnya saya benar-benar bisa memasak.  Horreeeee…

Hmmm iri bukan main mendengar pengalaman sampai ke Puncak. Dari atas Puncak kita dapat memandang Merapi yang angkuh, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gunung Sumbing dan Sindoro bersanding indah. Di sisi lain ada Gunung Ungaran. Dan dari kejauhan ke arah timur tampak Gunung Lawu.

Tapi saya juga nggak menyesal diserbu monyet-monyet konyol itu. Sore-nya kami bergegas mengemasi barang-barang kami. Dengan sedikit kengototan barangkali. Dan Mr. Cribs memelototi saya seolah-olah usul saya paling nggak masuk akal sedunia. Turun gunung detik ini juga! Saya nggak mau menggigil kedinginan di sini lagi tau!

Sedikit menyesal karena setengah perjalanan menuruni Merbabu dilalui ketika langit sudah gelap dan kami mesti ekstra hati-hati. Saya bahkan nggak bisa melihat dengan jelas. Tapi untungnya malam itu juga kami tidur dibawah atap, masih dingin juga, nggak kebayang deh dinginnya kalau kami ada di dalam tenda Dora.

Keesokan harinya, Jum’at yang cerah, kami meninggalkan Basecamp. Benar-benar perjalanan yang indah. Terima kasih Tuhan, yang saya sesalkan cuma satu, siapa yang akan memberi monyet-monyet itu nugget lagi?

Hutan pinus yang terbakar, perjalanan menuju Puncak

Dari atas Puncak Merbabu

Dari atas Puncak Merbabu

Farewell to the monkeys up_there!

*Foto Dokumentasi IKAMASI

Iklan




Merapi… Le Volcan…

25 01 2010

Jum’at, 17 April 2006

Waktu itu Jogja hujan deras, angin kencang, pokoknya cuaca nggak bersahabat. Jadi bisa dibayangkan orang gila mana yang mau-maunya mendaki gunung berapi paling aktif di dunia tanpa memperhitungkan cuaca buruk dengan persiapan seadanya. And oh shit, that would be me.

Setelah semua bujuk rayu dan diiming-imingi mendapat pengalaman paling menantang, one of 100 things to do before you die versi mereka, akhirnya saya mengiyakan pikiran sesat itu.

Selepas maghrib saat hujan mulai reda, kami berenam berangkat dari Sekretariat kami tercinta menuju kaki Gunung Merapi. Dua orang teman pendakian saya kali ini, Malik dan Sunan Kali Code, untungnya pernah mendaki Merapi jadi sedikit banyak saya agak tenang. Kami putuskan melalui jalur pendakian yang paling umum yakni melalui sisi utara tepatnya di Kecamatan Selo-Boyolali. Dari Jogja ke Selo seharusnya bisa ditempuh dalam 2 jam dengan motor namun karena hujan deras mengguyur sepanjang perjalanan jadi beberapa kali kami harus berhenti untuk berteduh.

I thought that would be the first sign for me for stop this. But, nothing can’t stop it.

Pukul 9 lewat beberapa menit kami sampai juga di Selo, makan malam di warung pinggir jalan yang semua makanannya dingin karena cuaca. And suddenly, yuck… semua makanan beruang kutub itu berhamburan di aspal. Second sign, kekeuh tetep ikut.

Kami harus mencapai desa terakhir menuju basecamp untuk menitipkan motor dan mengisi form pendakian. Jalannya berkerikil dan mendaki, menuntut kesadaran saya yang dibonceng untuk… yahhhhh turun deh.

Istirahat sebentar di basecamp untuk sholat dan membaca alam. Kami juga bertemu dua pendaki dari Mapala UNSRI Palembang yang nggak mau rencana pendakiannya gagal gara-gara cuaca buruk.

Pukul 11 setelah cuaca mulai membaik dan bulan sudah mau nongol sedikit, bismillah kami memulai pendakian. Malik yang memegang komando.. <ciehhh udah kayak operasi SEAL mengobrak-abrik daerah musuh>. Dari basecamp, medan yang ditempuh terus mendaki, karena gelap dan dengan penerangan seadanya kami tak bisa melihat jelas perkebunan rakyat di kanan-kiri kami. Semakin lama medannya makin nggak asik. Gila, perjalanan masih panjang… udah ngos-ngosan gini.

Vasco yang tepat ada di belakang saya malah berhalusinasi melihat monster sejenis kol, gede-gede… bulet-bulet… hahaha… Jelas aja, kami baru saja melewati kebun kol yang saking gedenya dan banyaknya bisa menghasilkan energi cahaya dalam kandungan gasnya. Halaahhhh ini teori yang ngaco mungkin gara-gara kemiringan lereng.

Jadi, teman saya ini, yang mengaku-ngaku Vasco de Gama, si penemu dunia baru… penjelajah sejati… hampir-hampir dikalahkan dengan si-monster kol walaupun saat itu dia lerbih ‘mirip-identik’ kayak satria bergitar. Suerrrr deh, ini mau mendaki atau ke pantai? Sempet-sempetnya bawa gitar. Jreeengggg…

Selebihnya perjalanan kami semakin curam, dengan jalan setapak pas dengan lebar badan, makin berat karena tanah yang dipijak terasa liat. Sesekali hujan malah masih turun, kami terus berjalan sambil menajamkan semua indera. Hutan cemara dan perdu, vegetasi yang dominan dalam trek kali ini. Bermacam-macam jenisnya, tapi yang bikin serem cemara yang kurus kering item berdiri sendirian, yang buat saya saat itu terasa mistis banget. Tapi hmmm, segerrrrr bener.. jadi emang nggak berlebihan iklan pembersih WC di tv.

Walau jalannya terjal tapi lumayan banyak niy ‘bonus’-nya. Semakin ke atas semakin jarang vegetasi, digantikan hamparan bebatuan. Selanjutnya, kami harus lebih bekerja sama, sedikit memanjat, berpegangan pada akar pohon sambil terus memikul carrier yang makin berat karena air hujan. Huhhhh.

Blessing in disguise. Dengan kemiringan sekitar 30-45 derajat. Kami duduk di antara bebatuan memandang lampu-lampu kota jauh di bawah sana. Indah sekali. Susah buat dilukiskan. Mungkin seperti malam di Baghdad dalam kisah 1001 malam-nya Alladin. Macam-macam saja ulah teman-teman saya kalau sudah jadi manusia rimba. Semuanya keluar aslinya. Ada yang maunya jalan sendiri, ada yang doyan ngeluh seperti saya, penyemangat teman seperjalanan, sampai belagak mirip lutung gunung. Haha.. you’re so insane, guys.

Pukul 4 subuh kami baru tiba ditempat yang dijanjikan, diantara bebatuan, persis di bibir jurang, kami mulai memasang tenda. Saya sendiri saat itu sudah tidur diantara celah batu. Dingin bener –gue ‘gak bakal butuh AC seumur hidup gue lagi- but, it’s not true.

Sabtu, 18 Maret 2006

Tenda kami hanya untuk dua orang. Tapi bolehlah dipakai bertiga. Selebihnya kami gantian berteduh disamping tenda yang atasnya hanya dilindungi terpal. Paginya cuaca lumayan cerah, deretan bukit yang hijau terhampar luas di bawah sana. Keren banget mirip sama pemandangan di film Lord of the Ring. Kami bisa melihat Gunung Merbabu persis di depan kami, juga gunung-gunung lainnya seperti Sumbing dan Sindoro.

Kami mulai membuat sarapan. Heraannn bukan main, Agha Mahenk yang ditugasi membeli bahan perbekalan lebih-lebih dari nyokap gue kalo belanja. Semua isi pasar diborong dari bahan-bahan buat bikin sambel, sayur-sayuran, lauk-pauk, sampe tepung buat bikin bakwan katanya <?>.

Rencananya kami akan mendaki hingga ke puncak hari ini, tapi tiba-tiba cuaca kembali nggak bersahabat. Kabut mulai menutupi jurang di depan kami, hujan dan badai tinggal menunggu waktu. Jadilah kami terperangkap disana dengan bahan lengkap membuat bakwan. Untuk menyalurkan jiwa kewanitaan, saya mulai mengiris wortel yang merupakan salah satu keahlian terhebat saya haha. Fery dan Rian ikut-ikutan membantu, tugas selanjutnya diserahkan pada Mahenk dan Sunan Kali Code.

Makin sore, badai makin kencang. Disaat-saat mencekam itulah Vasco mulai berinisiatif melantunkan salawat <apalah itu, lupa> yang katanya bisa menghentikan badai dan menghilangkan rasa dingin. Salawat bikin ganteng ada nggak, Vas?

Jujur saja yang ada dalam pikiran saya, begitu badai ini reda kami langsung cabut. Bener-bener nggak asik buat hiking. Belum lagi ancaman ketakutan sama setan penghuni Pasar Bubrah yang legendaris diantara pendaki yang letaknya cuma beberapa meter diatas kami. Dataran landai terakhir sebelum puncak yang konon ‘pasar’-nya dunia ghaib. Jangan-jangan mereka lagi bertransaksi siapa yang berhak menakut-nakuti kami. Hihihihi…

Seingat saya, kami lalu berbicara panjang lebar tentang pendakian sebelumnya. Tentang Soeharto dan Soe Hok Gie. Tentang artis yang sok eksis sampai politik kotornya George Bush. Sok’ intelek kan?

Minggu, 19 Maret 2006

Dingin banget. Gigi sudah mulai gemeretuk, tulang-tulang terasa ngilu, belum lagi dengkul ini rasanya mulai bergeser, terus-terusan meloncat-loncat seperti sedang memainkan mini concert. Nggak mau ‘muncak’. Au revoir Garuda Peak.

Saking dinginnya, baju dan jaket kami mulai basah, kebayang kan gimana menderitanya? Biarin deh Soe Hok Gie bilang kami monyet-monyet pemalas tapi gue nggak mau tidur di batu dingin lagi. Belum lagi semalaman tenda kami disiram banjir. Huhhh…

Nggak bisa menolak apa yang dijanjikan di atas sana. I decided to join the monkeys club.

Begitu cuaca cerah, kami langsung bersiap-siap menuju puncak. Karena sudah pernah ke Merapi sebelumnya, Sunan Kali Code berinisiatif tetap berada di dome setelah sehari sebelumnya capek bukan main turun kembali ke bawah mencari air. Yang lucu, air juga kami dapatkan dari akar-akar tanaman yang tumbuh disekeliling dome kami.

Pasar Bubrah bertekstur pasir tandus dengan vegetasi yang semakin jarang ditemui. Di ketinggian kira-kira 2800 mdpl, dengan punggung yang terbuka angin semakin kencang menerpa kami. Serem juga karena kami berjalan di antara monumen kematian para pendaki.

Dari sana kami mulai mendaki bebatuan yang curam yang mudah sekali bergeser karena usianya yang relatif masih muda. Jadi kami harus ekstra hati-hati bertumpu pada batu selanjutnya, batu yang kokoh menancap ke tanah tanpa beresiko melukai teman dibawah kita. Salah langkah saja bisa langsung jatuh terguling ke jurang, belum lagi melihat batu besar dan tajam muntahan Gunung Merapi yang bisa mengoyak tubuh.

Kalau trek dari bawah menuju Pasar Bubrah masih bisa dilalui satu rombongan, ketika mendaki ke puncak tak jarang kami mengambil jalan masing-masing meskipun saling berdekatan. Vegetasi yang bisa ditemui hanya sebatas lumut di bebatuan dengan bau belerang yang menyengat yang uapnya kadang berdesis diantara celah batu yang hangat. Kami tentu sudah diatas awan jika saja cuaca cerah, yang terjadi saat itu benar-benar mencekam. Suerrr nggak boong deh. Langit hitam, kabut dimana-mana, jarak pandang hanya beberapa meter di depan kami. Terus berteriak satu dengan yang lainnya adalah cara paling aman untuk tetap berada dalam kelompok.

Mirip Gollum yang berusaha mendaki Puncak Mordor. Dengan kemiringan lereng 45-60 derajat, kami harus berjalan merayap dan merangkak, saat itu saya berpikir ada diantara hidup dan mati. Cuma nggak mau mati masuk patroli aja gue sekuat tenaga tetap waras disana.

Lelah, capek, tenaga tersedot habis. Berusaha mengatur nafas diantara oksigen yang hanya semburat tipis di atas kepala begitu melelahkan. Belum lagi jantung ini seperti mau keluar dari tempatnya. Dan ngikkkk ngikkkk…

Yang lucu, karena mendengar lagu rock dengan beat yang cepat, saya jadi ikut-ikutan semangat. Merayap, bergerak cepat dari satu batu ke batu lainnya. Mirip Spiderman yang merayap di gedung-gedung kota New York. Rian tepat diatas saya, karena volume suara MP3 saya pasang full, saya nggak mendengar panggilan teman-teman. Beberapa dari mereka di bawah saya, beberapa di batu seberang yang dipisahkan lereng curam yang dalam.

Begitu Rian berhenti tepat diatas batu besar di samping kanan atas saya, baru saya menyadari there’s no way out. Rian nggak bisa bergerak karena jalan satu-satunya adalah batu di samping kanan dirinya yang lumayan jauh. Jadi waktu saya berdiri menggelatung tepat diatas batu yang dipijak Rian, saya cuma berdoa jangan sampai hal terakhir yang saya lihat sebelum mati adalah sepatu jelek Rian itu.

Kira-kira begini reka ulang kejadiannya hehe..

“Rian, tolong gue… tarik tangan gue,” <dengan suara bergetar karena ketakutan.. rada lebay dikit…>”

Rian cuma bengong, ngeri lihat jurang di bawah sana. Celingak-celinguk mirip monyet Kali Urang minta kacang.

Sunyi senyap. Saking dramatisnya kejadian itu, lava di Gunung Merapi berubah jadi salju. Arrrggggghhhhh. Monyetttttt.

Di jalur seberang yang dipisahkan lereng curam, Mahenk dan Fery ikut-ikutan celingukan. Kami jadi mirip kawanan monyet di sirkus keliling. Vasco dan Malik yang berada jauh di bawah kami mulai berteriak-teriak.

“Buruan tolong gue. Riannnn…”

Masih bingung. Tapi kali ini pake ngomong, “tunggu… gue mikir dulu”

Hah? Mikir? Batu di kaki kanan saya saja udah tergelincir ke bawah.

“Sialaaannn.. kalo lo mikir, gue mati duluan”

Saya yakin saat itu sedang bernegosiasi dengan Dewa Kematian. Untungnya Malik cepat-cepat mendaki keatas. Mendorong saya dari batu sisi kiri, dari atas Rian menarik tangan saya. Huhhh, karena merasa batu yang saya dan Rian pijak kurang aman, kami langsung bergerak ke kanan, menuju jalur pendakian Fery, Mahenk dan Vasco. Rasanya saya ingin muntah dan menangis.

Setelah itu, kami lebih berhati-hati. Semakin atas semakin kelam, kabut ada di depan mata. Bunyi desisan dari dalam perut Merapi siap menyemburkan lava-nya. Beberapa kubah atau alat berbentuk parabola yakni sensor pemantau aktivitas vulkanik ditanam di beberapa titik kawah Merapi. Selebihnya kami tak bisa melihat apa-apa. Garuda yang sudah kehilangan bentuknya karena erupsi.

2980 mdpl yang bisa jadi berkurang atau bertambah ketinggiannya akibat erupsi. Aura mistis menguar tajam. Angin dari berbagai sisi lereng mengeluarkan suara khas-nya. Seperti ajakan menuju dunia lain. Sepi sunyi, saya nggak mau ditinggal sendiri di sana. Kelelahan yang membangun halusinasi sendiri di dalam otak. Saya ingin membagi ketakutan saya itu dengan teman-teman tapi saya urungkan. Kadang mental seseorang terperosok jatuh dalam situasi seperti ini.

Perjalanan pulang nggak kalah sulitnya ditempuh. Masih diguyur hujan, kali ini lebih besar, jadi setiap orang pernah merasakan terperosok, tertawa-tawa memeriksa bokong yang penuh tanah dan memar. Begitu samapai basecamp status Merapi ditingkatkan, bulan Mei di tahun yang sama gunung yang angkuh itu mengeluarkan letusannya yang pertama disusul beberapa letusan bulan-bulan berikutnya.

Merapi yang indah dan mistis. Mungkin ini pendakian saya yang pertama dan terakhir, cukup sekali berkenalan dengan angkuhnya bebatuan disana, dinginnya malam, secangkir kopi yang kami bagi bersama atau bahkan keindahan yang harus kamu rasakan sendiri. Saya selalu merasa muda dan bersemangat setiap mengingat pendakian itu.

Setiap pendakian harus well prepared, baik fisik maupun mental, kesiapan logistik, juga kemampuan navigasi dan mengenal medan dengan baik. Semua kecerobohan kami hanyalah satu keberuntungan seperti kata Bang Napi, waspadalah.. waspadalah.. alam menyapa dengan caranya sendiri.