Sans Nouvelle de Dieu…

15 01 2009

na

Dari harian Media Indonesia, senin (13/1) Saya membaca berita tentang euforia “Chavez-ism” di Palestina. Yap. Hugo Chavez Presiden radikal dari Venezuela menjadi ikon dan semangat baru bagi perjuangan rakyat Palestina yang selama 60 tahun kemerdekaannya dirampas. Ikon perlawanan menentang penjajahan, neo-kolonialisme.

Bendera Venezuela bersanding dengan bendera Palestina. Berbagai potret bahkan spanduk bergambar Chavez mewarnai tiap aksi protes dan demonstrasi menentang aksi bombardir Israel di Jalur Gaza. Pasalnya, Presiden sayap kiri dari Amerika Selatan ini tak segan-segan mengusir Duta Besar Israel dari Caracas, Ibukota Venezuela. Kita tentu masih ingat aksi Chavez sebelumnya yang menertawai insiden pelemparan sepatu wartawan Irak pada Bush, kemudian mengolok-olak Presiden Amerika Serikat itu.

Tentunya, Chavez kini menjadi ikon bagi perjuangan kaum tertindas, yang sengaja termarjinalkan. Seorang anggota parlemen Palestina malah mensejajarkannya dengan Che Guevara yang melambangkan perjuangan kebebasan manusia untuk merdeka. Cuma kurang ganteng aja. Hahaha

Agresi Israel yang sudah menewaskan lebih dari 1000 orang sipil ini, jelas merupakan tragedi kemanusiaan yang mencoreng peradaban manusia modern. Kebudayaan tinggi yang mengaku-ngaku menempatkan HAM diatas segala-galanya. Tapi cuma bisa diam, menunduk malu pura-pura nggak tahu atau sengaja bersembunyi di rok Mama. Si Nyonya Besar, Amerika.

Chavez ini walaupun dituding sebagai anggota poros setan oleh Bush dan antek-anteknya, jelas memandang agresi Israel sebagai persoalan kemanusiaan bukan lagi sebatas aksi penyerangan Yahudi terhadap kaum Muslim. Reaksi yang lebih manusiawi daripada sikap negara-negara Arab pada umumnya. Mungkin mereka lebih nyaman hidup dalam tenda haremnya, bergelimpangan harta, emas dan minyak. Mengenyam pendidikan Inggris yang bermartabat dan sesekali datang ke Las Vegas untuk berjudi.

Jadi ingat obralan sore saya dan Mama ketika masih kecil dulu. “Apa bangsa Arab itu pasti masuk surga, Mam?” “Apa bangsa Arab itu lebih terhormat dari bangsa Indonesia, Mam?” “Kenapa Nabi diturunkan di tanah Arab, Mam?”

Dan umumnya, seperti wanita yang lebih banyak membaca buku daripada mendengar ceramah Ustadz di Masjid, Mama saya yang open-minded itu cuma bilang, “Itu-lah Nak, karena di sana Jahiliyah merajalela. Maka sengaja diutus Nabi, membawa pesan dari Tuhan. Kalau kau berani bersikap Jahiliyah begitu bukan cuma Nabi yang diutus tapi Izrail sekalian!”.

Jadi saat ini, saya ingin mulai mengobrol ringan lagi dengan Mama saya yang hebat itu, “Mama… Apa Tuhan punya pesan lain yang belum disampaikan?”

Paling-paling Mama cuma mendesah pelan lalu setengah berteriak, “Seperti tak pernah belajar agama saja. Tak ada lagi pesan dari Tuhan. Baca Al-Quran, tak ada lagi Nabi!”

Jadi kawan, seperti kata Mama-ku sehebat apapun Chavez itu, seberapa iconic seseorang tak ada lagi Nabi di dunia ini. Tapi jelas kita butuh pemimpin yang berani, yang tak sekedar bergelar Raja keturunan nabi, untuk bertindak tegas melawan kekejian yang telah berlangsung begitu lama ini.

“Saya ingin dapat memberi Chavez paspor Palestina agar ia bisa menjadi warga negara Palestins. Lalu, kami memilihnya dan dia akan menjadi Presiden kami,” kata Mahmud Zwahreh, walikota Al-Masar, sebuah komunitas dekat Bethlehem.

Dalam teori dan pemikiran politik Islam, ada tiga gelar simbolik yang disematkan kepada beberapa orang yang melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan dalam pucuk elite kekuasaan, yaitu al-imâm, al-khalîfah, dan amîr al-mukminin. Nabi Muhammad dengan tegas mengingatkan para pemimpin, “Hamba yang diberikan kekuasaan oleh Allah untuk memimpin umat, tetapi mengkhianati, dan tidak memberikan nasihat atau mengasihi mereka, Allah mengharamkan surga kepadanya.”

Menjadi Pemimpin berarti menjalankan Amanah dan prinsip keadilan.

Iklan




Wisata Kuliner Kanibalism….

10 01 2009

Gambar-gambar ini gue dapet dari searching di internet, ya ampun booo ternyata banyak juga yah yang terobsesi sama menu makan malam Prof. Lecter! It doesn’t make any senses… emang aneh-aneh kelakuan orang di Jepang, dari segala macam jenis industri pornografinya mpe sensasi makan model begini?

Gila. Kalo pencapaian kebudayaan yang tinggi harus mencakup duduk semeja dengan calon-calon kanibal atau malah udah jadi kanibal beneran. Salam’in aja deh. Gue juga masih agak-agak bingung sih sama cerita sebenarnya… kali aja ini cuma kerjaannya mahasiswa seni. tapi, ih kebangetan! ide ini aja menurut gue udah sakit.

Masih inget nggak kisah nyata “healthy soup” dari kota Fu San, semacam obat kuat bagi Pria. Ternyata soup itu dibuat dari janin yang berusia 6-8 bulan. Astagfirullah. Kenapa sih laki-laki selalu terobsesi sama yang namanya obat kuat. Apa nggak cukup pede? Kasihan yah.

Udah gitu kenapa harus pake tubuh perempuan? Apa mereka pikir perempuan memang obyek yang mebarik untuk diekploitasi… belum kena aja kutukan Malin Kundang!

Bayangin aja, daging hewan aja nggak sanggup dimakan apalagi daging manusia… sebangsa n’ setanah air, biarpun itu boongan. yakon mau coba?

jep1

jep2

jep3

jep5

jep4





The Interview with Avrum Burg

6 01 2009
Ini Posting yang dikirim teman gue Kuncoro Sejati di Milis Peace Generation. Menurut gue ini penting dibaca…. Semoga everythings getting better…. semoga kita lebih arif dan menerima perbedaan sebagai hal yang wajar di muka bumi ini. Peace………..

Avrum Burg is the scion of one of Israel’s founding families — his father was the deputy speaker of the first Knesset, and Burg himself later became speaker of the legislature, and a member of Israel’s cabinet. His position at the heart of the Israeli establishment makes all the more remarkable his critique of the Jewish State, which he claims has lost its sense of moral purpose. In his new book The Holocaust Is Over: We Must Rise from Its Ashes(Palgrave/MacMillan ), he argues that an obsession with an exaggerated sense of threats to Jewish survival cultivated by Israel and its most fervent backers actually impedes the realization of Judaism’s higher goals. He discussed his ideas with TIME.com’s Tony Karon.

TIME: You argue that the Jewish people are in a state of crisis, partly because of the extent to which the Holocaust dominates contemporary Jewish identity. Can you explain?

Burg: I, like many others, believe that a day will come very soon when we will live in peace with our neighbors, and then, for the first time in our history, the vast majority of the Jewish people will be living without an immediate threat to their lives. Peaceful Israel and a secure Diaspora, all of us living the democratic hemisphere. And then the question facing our generation will be, can the Jewish people survive without an external enemy? Give me war, give me pogrom, give me disaster, and I know what to do; give me peace and tranquility, and I’m lost. The Holocaust was a hellish horror, but we often use it as an excuse to avoid looking around seeing how, existentially, 60 years later, in a miraculous way, are living in a much better situation.

In your book, you raise the question of the purpose of Jewish survival over thousands of years, insisting that Jews have not simply survived for the sake of survival. What is this higher purpose?

Both my parents were survivors — my father ran away from Berlin in September 1939; my mum survived the 1929 massacre in Hebron. So, my family knows something about trauma. Still, my siblings and I were brought up in a trauma-free atmosphere. We were brought up to believe that the Jewish people did not continue in order to continue, or survive in order to survive. A cat can survive — so it’s a circumcised cat, so what? It’s not about survival; survival for what?

Look at the Exodus: After 400 years of very aggressive oppression and enslavement, all of a sudden the outcry was “Let my people go,” and that continues to resonate against slavery everywhere to this day. Then we come to the Sinai covenant, which is a key moment not just for Jewish theology, but for Christian belief as well: The Ten Commandments is the first human-to-human constitution, setting out the relations among humans on the basis of laws. And then you come to the Prophets, and its amazing that they’re calling so clearly for a just society. And then, in the Middle Ages, you listen to Maimonides say he’s waiting for redemption of the world without oppression between nations. So, in the Jewish story over so many centuries, there has always been a higher cause, not just for the Jews, but for all of humanity.

Even in the Holocaust, the lesson is “Never Again.” But this doesn’t mean just never again can genocide be allowed to happen to the Jews, but never again can genocide be allowed to happen to any human being. So, the Holocaust is not just mine; it belongs to all of humanity.

You suggest that there’s been a turning inward from the universal purpose and meaning of the Jewish experience.. .

Both the internal and the external hemispheres of the Jewish experience are essential. I cannot envisage my Judaism without the input I got from the external world, be it philosophy, aesthetics, even democracy, which was introduced to the Jews in the last 200 years because of our interface with the the world. On the other hand, I can’t imagine my Western civilization and Western culture without the Jewish input, without Jesus Christ, who was born, was crucified and passed away as a Mishnaic rabbinical Jew. I cannot image Christian Europe opening up to modernity without a Maimonides reintroducing Greek philosophy. I cannot imagine modern times without a Spinoza, and Mendelson. I cannot imagine the 20th century without Marx and Freud. So, this conversation between Jews and the world is not just a conversation of pogroms and slaughter and Holocaust; it’s also a couple of thousand years of a conversation that enriched me and enriched them, and I don’t want to give that up.


Your book argues that the centrality of the Holocaust in Israeli identity is dysfunctional. ..

The Holocaust is a very real trauma for many people in Israel, and nobody can argue with that. But … when I hear someone like Benjamin Netanyahu, who is a very intelligent person, say of [Iran’s President Mahmoud] Ahmadinejad, “It’s 1938 all over again,” I say, is it?! Is this the reality? Did we have such an omnipotent army in 1938? Did we have an independent state in 1938? Did we have the unequivocal support in 1938 of all the important superpowers in the world? No, we did not. And when you compare Ahmadinejad to Hitler, don’t you diminish Hitler’s significance?

The sad thing is that whenever a head of state begins a visit to Israel, he doesn’t go to a university or to the high-tech sector or the beautiful cultural places we have in Israel; first you should get molded into the Israeli reality at [the Holocaust memorial] Yad Vashem. And I do not think that Yad Vashem should be the showcase or the gateway through which everybody should first encounter Israel. Part of the program, yes; but the starting point? This is not the way to baptize people into an encounter with Judaism.


You argue that the purpose of the Yad Vashem visit is to silence criticism…

It’s an emotional blackmail that says to people, this is what we have experienced, so shut up and help us… When the sages created the national holiday of Tisha Be’av, they made it the single day on which we commemorate all the traumas of our history, from the destruction of the first temple to the Spanish expulsion. These events did not all happen on this exact date; the founders of Jewish civilization confined the memory of the traumas of our history to one day, to allow us the rest of the year to get on with being Jewish, rather than letting sorrow take over our entire existence…

Look where we were 100 years ago and look where we are today — no other people made this transformation. Imagine we did not keep the shadow of the trauma looming over ourselves daily, what could we have been? How come 25% of the Nobel laureates in certain fields are of Jewish origins, and 10% of the arms deals around the world are done by Israelis? Why is my brother or sister in America a great poet or composer or physician whose achievements raise up all of humanity, and I who live here on my sword became a world expert on arms and swords? Is that really my mission, or is that an outcome of the black water with which I water my flowers? To make our contribution to humanity, we have to free ourselves of the obsession with the trauma.

Many Jews, in Israel and in America, see Israel as surrounded by deadly threats, and would see the benign and peaceful world you describe as a dangerous fantasy. What do you say to your critics?

I have very low expectations of new thinking and insight emerging from the mainstream Israeli and Jewish establishment. Their role is to maintain the status quo. Israel is bereft of forward thinking. We are experts at managing the crisis rather than finding alternatives to the crisis. In Israel you have many tanks, but not many think tanks. One of the reasons I left the Israeli politics was my growing feeling that Israel became a very efficient kingdom, but with no prophecy. Where is it going?

My idea of Judaism can be represented through a classic Talmudic dilemma: You are walking along by the river and there are two people drowning. One is Rabbi [Meir] Kahane, and the other is the Dalai Lama. You can only save one of them. For whom will you jump? If you jump for Rabbi Kahane because genetically he’s Jewish, you belong to a different camp than mine, because I would jump for the Dalai Lama. As much as he’s not genetically Jewish, he’s my Jewish brother when it comes to my value system. That’s the difference between me and the Jewish establishment in Israel and America.


But how can this new thinking you’re advocating help Israel solve its security problems?


Many people say to me, “What about Gaza? Don’t have so much compassion for them, don’t tell the Israelis to be nice there, tell [the Palestinians] to be nice there. And I say Gaza is a nightmare, and it’s a stain on my conscience. And I’m very troubled by the attitude of Israelis against Israeli Arabs. It’s a shame. It’s a black hole in my democracy. But I say sometimes that I’m too close to the reality; I don’t have the perspective; I don’t have the bigger picture. But if enough of my kids and enough of my youth will go to volunteer, be it in Darfur or be it Rwanda, or be it in the squatter camps of South Africa, they will sharpen their sensitivities. And they will come back and say, listen, if we can do so much good out there, let’s do something over here. And I see my own kids, when they come back from India and from Latin America, how changed they are as people. I see my son, after one and a half years in Latin American. He came home, and five days later, was called for 30 days “miluim” service [with his military unit] in the West Bank. And he was sitting in the worst junction in the West Bank. And he says, “When I look around me 360 degrees, nobody loves me. Settlers, Kahanes, rabbis, mullahs, Hamas, Palestinians, you name it — they all hate me. And he told me, “Here I was sitting on a corner one day; it was my break time, and I was drinking coffee with a friend of mine, and out of the valley climbed an old Arab. He was very bent forward and frail, and walked slowly to us and said ‘Here is my ID.’ And we told him, you don’t have to give us your ID; we didn’t ask for it. And he said ‘No, here it is, I want you to look at it. Look at it, I’m okay, I’m kosher, I’m kosher.’ I checked it and let him pass, and then I began crying and crying.”

So, I asked my son, why did you cry, what happened? And he said, “You don’t understand that for a year and a half, I was in Latin America, going to small villages and sitting with this kind of man, listening to their oral tradition, to the beauty of their history, to the wisdom of their culture. And they shared it with me. And now here I am, the policeman, here I am the bad guy, here I am the occupier. And I can’t talk to this man. You know how much he could tell me under different circumstances? ” And I say, that’s an example for me.





Stop Genoside in Palestine!

6 01 2009

Did you ever think before that all the battle for many years….. seems like an effort for killing the palestine descent until zero point? Isreali, no doubt, doing the genoside… like Nazi did. Whatever the reasons… even it for a land? or gas? or religion, idealism? we’re same. absolutely equal. we have the same right to live better…
Not only MTV Generation need to speak up ur mind for a simple thing, but we must care about that ‘massacre”! Everybody Please Speak Up!
gaza2520under2520siege252028ben25201

cry-palestina_2

Daud Vs Goliath

hamas

Hold the Gun, Not the Pen!

picture-1

How beautifull she’s in bridal gown

solidaridad_con_palestina

“Kebenaran itu dari Tuhanmu… maka jangan sekali-kali kamu meragukan-Nya”





Marilyn Monroe and james Dean ever dated?

2 01 2009

l-21-2141-marilyn_monroe_and_james_dean-z00depoz

Did they ever date? i’d love to thinking of that….
ART BY PAUL GASSENHEIMER
Exhibition-quality poster on heavy coated stock
24 x 18 in.
Unframed: $24.95
Framed: $114.95





Now… I Walk Into the Wild

1 01 2009

into-the-wild1Now… I Walk Into the Wild
“There’s a pleasure in the pathless woods,
There’s a rapture in the lonely shore,
There’s society, where none intrudes,
By the deep sea, and music in its roar,
I love not man the less, but nature more… “
(Lord Byron)

Mungkin diantara kita masih ingat dengan novelnya Jon Krakauer “Into the Wild” yang kemudian di filmkan dengan jeniusnya oleh Sean Penn. Merupakan kisah nyata tentang seorang pemuda yang baru saja lulus dari Emory University, Christopher McCandless, Mahasiswa cerdas dan kaya yang salah satu hobinya mengutip tulisan pengarang dunia, seperti puisinya Lord Byron diatas.

Ia lalu memutuskan untuk berpetualang meninggalkan dunia yang ia pikir sangat matrealistis dan manipulatif. Kemudian ia membuang semua atribut yang melekat di dirinya. Yang paling mengharukan ia mendonasikan $24,000 tabungannya untuk Oxfam, yang sedianya untuk membiayai kuliahnya di Harvard.

Dalam petualangannya Chris mengubah namanya menjadi Alexander Supertramp, melewati separuh negeri tanpa uang dengan tujuan utamanya Alaska. Ini bukan kisah tentang anak muda manja yang haus perhatian tapi tentang ambisi menentang sistem masyarakat yang rusak. Alexander Supertramp sendiri bukan sosok sociopat hingga mengasingkan diri ke hutan belantara.

Dalam petualangannya, ia banyak berinteraksi dengan sejumlah orang yang bahkan ia ingat hingga akhir hayatnya. Ia sendiri pernah berkata happiness is nothing without share. Apa yang dicari oleh pemuda ini di tengah dinginnya Alaska hingga berujung pada kematian? Ini pula kemudian yang mungkin kita tanyakan pada ribuan pendaki yang meregang nyawa di belantara.

Ada tujuh puncak di dunia yang dikenal dengan Seven Summits yang menjadi impian para pendaki. Ketujuh puncak tertinggi itu yaitu Puncak Everest (8.850 meter di atas permukaan laut/mdpl) di Nepal/Tibet yang mewakili Benua Asia, Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina (Amerika Selatan), Gunung McKinley/Denali (6.194 mdpl) Alaska (Amerika Utara), Gunung Kilimanjaro (5.963 mdpl) Tanzania (Benua Afrika), Gunung Elbrus (5.642 mdpl) di Elisworth Range (Benua Antartika) dan Puncak Cartenz Pyramid (4.884) di Papua Indonesia (BenuaAustralasia/Oceania).

Apa yang mereka cari? Identitas diri? Tentu itu hanya cemoohan orang-orang yang bingung pada apa yang dilakukan para petualang. Jangan pernah menyentuh alam jika kita tak mengenal diri kita sendiri. Entah apa yang akan alam lakukan padamu, karena lagi-lagi seperti yang dikutip Alexander Supertramp “nothing to help you, but your hands and your own head”.

Mungkin kita sudah jenuh dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang modern? Modernitas sendiri lahir dari ambisi pencapaian akan rasionalitas, emansipasi, kebebasan serta semboyan-semboyan masyarakat yang mengagungkan kemajuan. Tapi realitanya, produk utama dari modernitas adalah kapitalisme. Seperti sudah ditakdirkan, manusia-manusia yang hidup kini cepat atau lambat akan menjadi kapitalis-kapitalis dunia selanjutnya. Tentu kita sudah lelah dengan sistem ini ketika idealisme tak bisa berjalan beriringan dengan bisnis dan politik.

Mudah rasanya untuk terpesona pada etalase di sudut-sudut kota lalu mengejarnya. Modernitas memang lekat dengan laju pertumbuhan ekonomi yang pesat. Lalu kita lupa pada cita-cita kita yang utopis dan indah. Tentang alam dan keindahan. Tentang peduli pada sesama dan keluar dari segala kemunafikan.

Apa yang kita tuntut pada alam begitu besarnya hingga kita lupa untuk memberi. Jadi jangan salahkan alam jika bencana datang bertub-tubi. Apa kita masih sibuk mengampanyekan isu Global Warming disaat para kapitalis emoh membatasi produksi emisi negaranya? Kita masih sadar atau hanya terbawa trend. Karena kalau nggak tahu gobal warming, nggak gaul banget-kan?

Di alam kita tak lagi bermimpi tentang cinta dan damai. Karena semuanya nyata. Alam pula yang mengajarkan kita untuk melepas topeng kemunafikan dan bersama-sama mengangkat ransel. Kita lupakan perang dan kebencian. Bahkan kita akhirnya tahu seperti apa teman seperjalanan kita. Egois-kah?

Di antara tonggak-tonggak kematian di lereng gunung, kita sadar bahwa hidup ini begitu singkat dan jurang kematian hanya sebatas batu tempat kaki berpijak. Kita belajar untuk lebih humanis. Dan di waktu malam ketika kita berbagi kehangatan di secangkir kopi, kita sudah mengabadikan kata persahabatan.

Ini bukan hanya kisah Alexander Supertramp ataupun Soe Hok Gie, tapi ini adalah kisah kita. Bahkan kita masih sanggup mendengar orang berbicara atau menyindir tentang tujuan hidup. Sudah waktunya bagi kita mengumpulkan catatan-catatan perjalanan dan berbuat sesuatu untuk memanusiawikan dunia.

Catatan favorit saya, salah satunya adalah tulisan Rudy Badil tentang kata-kata sahabatnya, Soe Hok Gie, sebelum musibah di Semeru. “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

Tanah yang dingin atau kasur yang hangat, apapun itu kita akan mati.





Hello world!

1 01 2009

small_lady-in-red

Belum terlambat-kan buat mulai punya blog…. ? Salah satu resolusi gue  menyambut tahun  2009 yang i wish penuh harapan.  This would be a very seriuosly another promising a new blog! Do you know what i mean? I bet you Nope… coz’ i dont really understand what i say. Hahaha….

Enggak. Seenggaknya,  ini bakal jadi satu-satunya blog gue yang nggak nyertain mood gue yang  sering kambuhan. Kadang on kadang off,  kadang pengen nulis tapi seringnya cuma nyangkut di syaraf otak (kotor?), kadang unbelievable smart tapi kadang bego, dongo kayak junkie yang kurang nyandu…. unpredictable emotional syndrom.  Tuh,  nama ilmiah penyakit  kambuhan gue,  gejala awal dari sociopat… amit-amit… mending kudisan, panuan,  kurapan….

Di blog ini, gue pengen lo masuk ke dunia gue yang imajinatif (?) atau nggak keruan, kecintaan gue sama buku n’ film, pendapat gue yang nggak perlu jadi bahan pertimbangan seluruh penduduk dunia. Hiks. atau cuma sekedar berbagi jajanan di depan SD sampai singgah di tempat favorit gue. Somewhere that i’ve ever been before.

Buat gue bukan cuma buku yang jadi jendela dunia, tapi juga film. Pencapaian tertinggi dari imajinasi manusia. Hiks… Bayangin aja berapa banyak wawasan yang didapat dari, misalnya, 15 menit gambar berjalan? Lebih dari wawasan tapi juga emosi. Bahwa hidup ini bukan cuma milik kita, tapi juga milik pedagang sayur keliling, waria di pinggir jalan, presiden yang sedang jatuh cinta atau bahkan milik hantu yang ingin bangkit dari kubur. he… he… he…

Itu yang gue suka dari film. Mereka menjual mimpi karena hidup ini butuh mimpi. Butuh sejenak keluar dari realitas yang ada, lalu harapan dan inspirasi “sikut-menyikut” keluar dari otak kita. Tapi jangan bayangin ada sejenis mutant dari galaksi lain yang bermutasi di tubuh kita… itu mah cuma ada di the-x file.

Di blog ini gue mau bilang “i’m a movie freak!” lepas dari selera film gue yang nggak jelas, terserah deh ada yang mau baca atau nggak…. direspons atau enggak…. kalau dulu Voltair bilang pena bisa meruntuhkan sebuah negara, begitu juga dengan film. Hiks… sampe segitunya.. yang pasti kepala kita terlalu sempit untuk menampung ide dan imajinasi. Rongga-rongga di kepala cuma cukup untuk saraf-saraf otak, bukan Gotham City atau London abad pertengahan atau juga lorong-lorong kumuh Jakarta. Thanks for make it happen.

Lo-Tau-kan (kedengarannya kayak nama masakan di restoran Cina yah..) Soundtracknya “Mengejar Mas-Mas”? Ibaratnya, gue cinta film tuh seperti…. Aa’ cinta istri baru… oops… seperti Junkies cinta shabu… oops… atau seperti lalat cinta daging… asal jangan daging gelonggongan atau daging sampah olahan! Lalat aja masih bisa milih. Pokoknya mari bermimpi dan bercinta… Uhh i mean watch movies. Dukung terus film Indonesia tapi tetep nikmati film luar donk. N’ yang paling penting “Stop Piracy! Hidup Kaum Marjinal!” (???)

Bienvenue dans ma vie……