Cat’s on Fire

30 03 2010

Entah kenapa saya geregetan sekali ingin menulis tentang kucing. Mungkin karena sepertinya baru saja ada seekor kucing yang memanggil saya “Mama”. Jadi saya ajak kucing dekil itu ke bawah tangga memanggilnya sayang, mencurahkan naluri keibuan saya. Karena berpengalaman dengan gerak-gerik kucing, saya langsung tau kalo dia kucing betina dan sedang hamil pula. Huhhh rupanya dia mencari tempat hangat dan nyaman untuk persalinan. Jadi ingat Mimi kucing keluarga kami yang paling legendaris mempertahankan ras felis silvestris catus dan beberapa kali harus diusir dari rumah karena melahirkan di lemari pakaian Mama.

“Bener-bener nggak asik banget…”

Sebenarnya saya sendiri merasa bukan tipe manusia penyayang binatang seperti Oprah tapi nggak sekejam Paris Hilton yang tega-teganya membawa-bawa Tinkerbell-nya dengan tas. Meskipun itu tas Louis Vuitton, oh please mending lo lempar ke gue tas-nya! Sepertinya dalam dunia para kucing, orang-orang seperti saya yang mereka tunjuk sebagai teman. Persis seperti tongkat penyihir memilih tuannya. Arrrrrghhh jadi nyasar ke Harry Potter-kan. Tapi gini yah, suerrr deh, biar gue dah menyangkal ketertarikan gue sama kucing, teteuuuuppp aja mereka nyamperin.

Mungkin karena dari kecil saya menganggap diri saya Sailor Moon yang ditemani kucing hitam jelek Luna. Atau karena guru saya salah ketik nama saya hingga nama saya berubah jadi Catila bukan Shatila, sepertinya saat itu saya mulai mendapat separuh kekuatan Sailor itu. Huaaaa berarti tinggal nunggu ‘Tuxedo Bertopeng’ dong… yes.. yes..  Bisa juga karena saya Cancer yang moody yang dipengaruhi bulan yang cocok sekali jadi penyihir. Anehnya lagi, saya berkhayal dulunya adalah seorang ratu Mesir yang ditemani kucing berraut muka iblis. Harus bener-bener mirip iblis sesuai angan-angan gila saya.

Kucing memang sudah menjadi sahabat manusia sejak ribuan tahun lalu. Sejak 3500 tahun SM orang Mesir kuno menganggap kucing binatang yang amat keramat, penjelmaan Dewi Bast. Bahkan ketika seekor kucing mati maka dia akan di-mumi-kan persis manusia. Kayaknya si Hoki, Britney, Betty, Marco, empat dari belasan kucing yang saya miliki nggak punya ciri-ciri titisan kucing bangsawan mungkin disesuaikan dengan nasib pemiliknya. Hee…

Tapi gini yah… biar-pun suka bersikap manis, manja, mengelus-ngelus kaki saya, duduk dipangkuan dan menikmati kehangatan perut saya, saya peringatkan kucing itu bukan sahabat yang baik! Dia itu licik! Kalo ada istilah malu-malu kucing, ya emang bener begitu. Waktu melihat ada makanan di meja, dia pura-pura nggak peduli. Begitu kita lewat, huss husss lewat juga semua makanan itu.

Jadi setelah saya observasi mati-matian, hee lebay banget deh, kucing itu bukan hewan yang setia. Dengan sendirinya dia akan bersikap manis sama semua orang yang memberinya makan tapi enggak akan ingat sama sahabat manusianya. Hebat bener yah, kayak politikus aja pilih-pilih teman. Jangan-jangan anggota Dewan pernah mempelajari mati-matian tentang filosofi kucing ini. Nyatanya, memang tak ada sejarah yang mengungkapkan keterikatan emosional antara kucing dan pemiliknya, katanya sih karena sejak dahulu kala proses domestikasi kucing dari hewan liar menjadi hewan peliharaan berlangsung nggak sempurna.

Yang hebatnya kucing ini punya memori yang cukup kuat. Meskipun pergi berkilo-kilo meter jauhnya dari rumah, tapi dia tahu jalan pulang. Belum ada bukti ilmiah sih, cuma menurut pengalaman saya emang begitu. Cimot, kucing kampung yang kami pelihara, suatu hari mendapat murka ayah. Tanpa kami ketahui, Cimot dibuangnya sejauh hampir 5 km. Jangan ditanya gimana sedihnya hati ini. Meskipun Cimot hanya kucing kampung yang kebetulan Mama bantu proses persalinan induknya, dia sudah jadi bagian hidup kami. Kami menyaksikan prosesi kelahirannya, memberinya susu dan memanggapnya adik kecil kami yang ‘sedikit’ nakal.

Melewati jalan raya yang banyak dipenuhi truk dan angkot, rel kereta api yang bisa saja Cimot mati terlindas KRL, kali dan ‘grojogan’-nya itu, belum lagi preman-preman jalanan sebangsa musang, cimot kembali dengan gagahnya ke pelukan saya. Saya bangga sekali dengan Cimot seperti rasa bangga ayah ketika saya ranking satu. Cimot yang kurus-kering korengan bermandikan lumpur. Rasanya ingin saya peluk terus dan tak kan membiarkannya pergi jauh lagi. Jadi malam itu juga, saya tak peduli dengan cerocosan ayah tentang toxso dan segala bahayanya itu, juga keluhan ayah tentang sikap Cimot yang tidak beretika itu.

Di Eropa sendiri, sekitar abad pertengahan, kucing hitam menjadi sasaran amukan warga karena dianggap jelmaan penyihir. Itu-lah yang menjadi latar peristiwa black-death, ribuan kucing hitam dilempar ke dalam api. Inilah yang menyebabkan wabah pes menyerang hebat Eropa kala itu hingga ratusan ribu orang harus meregang nyawa.

Seringkali saya menutup mata dengan kucing-kucing di sekitar saya. Tapi rasanya mereka terus-terusan meong-meong di depan saya. Dan saya mulai percaya tentang sisi mistis kucing, karena believe it or not saya mengalaminya sendiri. Sepertinya memang begitu, seperti tongkat penyihir, kucing-pun memilih penyihirnya masing-masing. Meskipun kadang mereka bersikap licik seperti Tom, atau malas seperti Garfield, menyebalkan mirip Felix atau semanis Luna.

Begitu banyak inspirasi yang datang ke dunia karena seekor ‘Singa kecil ini’. Karya-karya seniman dunia yang terinspirasi sosok kucing ini diantaranya poster La Tournee du Chat Noir-nya Théophile Steinlein yang sangat terkenal itu, lukisan Dora Maar au Chat-nya Picasso dan juga kumpulan puisi “Old Possum’s Book of Practical Cats”-nya T.S. Elliot. Yang paling menyentuh adalah kisah nyata Edgar Allan Poe, dituangkan dalam novelnya “The Black Cat”. Menceritakan tentang kucing hitam keluarganya, Catarina, yang setia menyelimuti kaki istri Poe dengan bulu-bulunya ketika sedang sekarat melawan TBC.

Sementara itu, di depan saya, kucing yang memanggil saya Mama itu duduk meringkuk di sudut bawah tangga. You’ll be fine, sweetheart.

Rasanya saya berhutang sesuatu pada kucing-kucing yang pernah datang ke dalam hidup saya : Mini, Mici, Poci, Cimot, Mickey, Putih, Manis, Mimi, Britney, Betty, Marco, Dian Sastro, Titi kamal, Nicholas Saputra, Hoki I, Preman RingRoad, Hoki II. Baik-baik di surga sayang.

(foto diambil dari http://www.art.com karya Vittorio)